Medina

9

Karya : R. Moh Rival N. U.

Malam ini sangat hangat, langit seolah berwarna dua diantara bintang dan suasana kelam.  Aku memandang langit itu yang seolah memberiku ingatan masa lalu. Aku teringat akan janji yang 5 tahun lalu pernah terucap. Tapi itu terasa kemarin saja terjadi. Kini aku bergelimang harta seperti doamu kala orang tuamu menolakku. Entahlah sudah kubuang kemana janji dan kenangan itu.

Aku ingat saat aku dan kamu dulunya bersahabat, entah karena perasaan ku yang bodoh hingga berani mencintaimu saat itu. Dan kata-katamu yang menyuruhku pergi malam itu, setelah orang tuamu meludahiku dan menamparku dengan hina. Mungkin itu yang membuatku membencimu. Tapi biarlah. Mungkin sesuatu yang dinamakan amarah yang selalu kubakar hingga aku sesukses sekarang. Amarah yang kau titipkan padaku sampai saat ini.

Semua target bulan ini sudah tercapai, akhirnya aku punya waktu untuk libur. Kemana harusnya ku habiskan liburku…. Paris, ? sudah biasa, Los Angeles ? membosankan. Mungkin aku akan pergi ke Medina saja, lama sekali aku tidak kesana. Medina bukan nama sebuah kota di Arab, itu adalah nama gadis sederhana yang kupikirkan kemarin malam. Lama sekali aku tak pulang ke kampung halamanku. Memang tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan pulang.

Entah setan atau peri mana yang telah membawaku pulang. Tiba-tiba aku merasa rindu padanya. “Kemana aja kamu dul ??” tanya bang sodik tetanggaku menyela lamunanku. Aku hanya tersenyum singkat tanpa sempat bertanya. “Sekarang Medina sudah pindah, dia jatuh miskin sejak ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan” jawab bang sodik tanpa harus ku tanya. “Pindah kemana dia sekarang bang ?” tanyaku. “Ga tau lah, coba kamu cari di stasiun kota” jawabnya ketus sambil berlalu.

Esoknya aku berusaha mencarinya di dekat stasiun. Aku melihatnya sedang berjualan di emperan selokan. Tiba-tiba dia melihat kearahku dan tersenyum.  Aku mencoba berpura-pura tidak melihatnya saat itu dan segera masuk ke mobil. Aku bergumam sendiri “Apa yang dia tertawakan?”,  ” Apakah dia masih mengenaliku ?”. Ribuan tanya menusuk dalam hatiku saat ini. Bagaimana perasaanku disini dan perasaanmu disana. Masihkah sama ataukah tak lagi kau kenang jutaan ingatan itu ? . Ingatan saat kita bersama di bawah siang dan malam.

Pagi ini sepi, tanpa suara ayam berkokok dari pekarangan rumah pak samad. Namun di kepalaku ramai membicarakan sesuatu,  tentang aku dan Medina. Akhirnya kuputuskan menemuinya sekali lagi. Kukenakan pakaian paling bagus yang ku bawa kesini, lalu segera aku memacu mobil dengan kencang seperti orang kesetanan.

Aku melihat Medina yang manis, aku menghampirinya sangat dekat. Semakin dekat hingga degup jantungku bertambah tiap langkahnya. “Medina ?” sapaku pura-pura lupa. “Silahkan mau beli apa ?” jawabnya. Aku melihat tatapannya kosong, namun Medina masih selalu tersenyum manis ke arahku. Aku menggoyang-goyangkan telapak tanganku ke arah mukanya, namun matanya tidak merespon sedikitpun.

“Bang dul ??” tegur anak SMP itu setengah nyaring. Anak itu memelukku sambil menangis. Ku lihat wajahnya begitu lusuh tak seperti keceriaannya dulu. “Kenapa dengan mbak mu Ton ??” suaraku bergetar menahan tangis. Katanya, belum genap setahun setelah aku meninggalkan kampung, Medina terjatuh dari rumah pohon yang biasa kami naiki semasa pacaran dulu. Medina menjadi buta dan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ibunya juga menjadi sakit-sakitan dan meninggal dua tahun setelahnya.

Air mataku tumpah sejadi-jadinya, tangisan yang dari tadi ku tahan meluap, meraung-raung bagaikan serigala kesepian. “Mengapa menangis ?” tutur Medina lembut. “Aku masih bisa tersenyum setelah abang pergi,” sambungnya dengan senyum. “Aku ingin selalu tersenyum seperti yang abang pesankan dulu”.

Senyuman Medina menghentikan tangisku. Tangisku yang sebenarnya ku tahan agar membuatnya tetap tegar. Tentang Medina, aku harus berkata apa ? Mulutku beku. Aku hanya memeluknya lama sekali, seolah takkan pernah ku lepaskan lagi. Selamanya.

You might also like

Comments