Pocong Jadi-Jadian

7
Illustrasi
Illustrasi

Kisah ini bermula saat mengikuti pesantren kilat di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Waktu itu, sekolah saya SMP YPK menyelenggarakan khusus untuk kelas dua, dan saya juga kelas dua. Otomatis, saya ikut pesantren kilat tersebut. Seperti pikiran anak-anak labil pada jaman SMP umumnya, yang terlintas dikepala hanyalah : 1. Seneng-seneng, 2. Mampir ke mall, 3. Pulang sehat wal afiat. Tapi yang terjadi adalah : 1. Menderita, 2. Kesesat di jalan, 3. Pulang badan pegel.

Bis jemputan kami pun akhirnya tiba di sekolah. Siap berangkat dengan tujuan Balikpapan. Salahsatu kota besar di Kaltim yang jaraknya beratus-ratus kilometer. Di kotanya memang cukup nyaman. Tapi perjalananan menuju kota tersebut yang sangatlah tidak nyaman. Sebelum ke Balikpapan, terlebih dahulu melewati ibukota provinsi, Samarinda. Perjalanan menuju Samarinda benar-benar membuat kapok naik jalur darat. Tapi tetap saja jalur darat jadi favorit. Jalan bolong dimana-mana, jurang begitu dalam, tikungan tajam, dan yang lebih menantang : jalur naik turun serasa lagi naik roller coaster! Kalo pemerintah provinsi pingin buat taman hiburan, mungkin jalur Bontang-Samarinda bisa dijadikan arena roller coaster terpanjang didunia.

Perjalanan dua jam ke Samarinda ini praktis membuat orang menderita. Orang yang periang saja bisa muntah-muntah. Lagi asik-asik melihat pemandangan melalui jendela bis, tiba-tiba saja, “Hoeeeeekkkkk!” teman yang duduk di belakang muntah. “Anjiiirrr main muntah nda bilang-bilang! Kena celana niihh!” kata sebelahnya. Dan itu membuat menderita tiga orang : 1. Yang muntah, 2. Yang dimuntahin, 3.  Seisi bis gara-gara bau muntahnya. Sesampainya di Samarinda,masih diberi penderitaan : Kesesat dijalan! Entah supirnya mabuk dengan bau muntahnya yang begitu menyengat, atau udah mulai pikun, yang jelas kami kesesat. Setelah tanya dengan orang di sekitar, kami bisa menemukan jalan menuju Balikpapan. Sepanjang menuju tempat tujuan lepas dari Samarinda, lebih banyak kuhabiskan waktu untuk tidur.

Setibanya di pondok pesantren, singkatnya kami langsung dibawa ke tempat tidur kami. Bayangan pertama adalah kasur bertingkat. Tapi ternyata, kami harus tidur lesehan. Selama tiga hari disana, kami dibagi menjadi beberapa kelas. Tiap kelas akan diisi oleh satu ustadz atau siswa yang senior disana untuk mengajari kami tentang agama. Pas saja, yang menjadi pendamping kelas kami adalah ketua panitia dari pondok pesantrennya. Selama tiga hari disana, ternyata begitu menyenangkan bisa belajar islam lebih dalam. Terlebih, makanannya juga tidak buruk : Nasi Kotak dengan menu yang berbeda. Selama tiga hari ini kami menikmati, sampai akhirnya tiba malam kedua : Jurit malam.

Jurit malam kali ini ekstrim. Ngelewati beberapa rute yang gelap dan angker. Pos pertama aja sudah lumayan nyeremin : kuburan. Karena pesertanya banyak, akhirnya dibagi kelompok dengan isinya dua orang. Kelompok pertama jalan, begitu sudah berapa meter tiba-tiba saja, “Wuaaaaaaaaaa!!!” teriak dan reflek melompati pagar kuburan. Untung ada penjaganya jadi tidak kabur ke jalan raya. Kelompok kedua, ketiga, dan seterusnya demikian. Sampai tiba dikelompok terakhir, yaitu kelompok saya. Sekedar informasi, daerah di sekitar pondok pesantren itu dulu saat awal pembangunannya banyak ditemukan tulang belulang dan mayat tentara Jepang. Jadi mungkin entah didalam rute ada sekelompok pasukan Jepang kebetulan lewat rute kami, kemudian nyuruh yang lewat depan mereka hormati mereka atau di kerja paksa. Ah entahlah.

Saya satu kelompok dengan teman saya, sebut saja namanya Abi. Setelah dipanggil untuk segera berjalan menyusuri rute, benar saja. Baru melangkan sekitar 3 meter saja perasaan sudah tidak enak.

Saya : “Bi, nyium bau busuk nda?”

Abi : “Kecium lah, Zul. Baunya nusuk gini.”

Sepintas berpikir, jangan-jangan bau keteknya penjaga kuburan lagi tiduran ditanah. Ternyata tidak ada penjaga kuburannya, dan baunya datang dari dalam kuburan. Oh God. Akhirnya, kami berdua segera melafalkan tasbih, tahmid, dan tahlil. Bisa-bisa gelar acara tahlilan bareng penghuni kuburnya.

Setelah keluar dari komplek pemakaman yang ‘bau-busuknya-nyengat-abis’, ada suara menakutkan yang kami dengar. Dari kejauhan, terlihat kelompok sebelum kami sedang disuruh push up. “Hantu kok nyuruh push up?” pikirku dalam hati. Setelah itu kelompok tersebut meminta maaf kepada yang nyuruh itu. Entah itu hantu atau orang lagi keselek biji salak sampai suaranya benar-benar serak.  Giliran kelompok kami melewati suara aneh tersebut, dan.. “Huooohh push up kalian sekarang!! Huoohhh!!” begitu katanya. “Ya Allah setan kok nyuruh push up. Lain kali ya,” kataku dan Abi dengan santai, setelah itu kami meninggalkannya dengan kondisi berteriak terus menerus.

Keanehan belum usai. Ditengah jalan, ada seorang seperti kakek tua entah ngomong apaan. Awalnya kami lewati dia begitu saja, tapi ternyata.. dia ngejar!! Kami jalan pelan, dia ikut pelan. Kami lari, diapun lari. Persis seperti lagunya Peterpan yang sering dinyanyiin Parto OVJ (lupa judulnya.. hehehe).  Okay, kali ini kakek tua sudah terlewati. Sekarang didepan kami ada pertigaan, dan ada petunjuk untuk belok kanan. Tapi di persimpangan kiri ada yang aneh, ada suara orang nangis! “Alamaak apalagi ini,” gumam dalam hati. Tampak sesosok seperti pocong, namun lagi duduk. Karena penasaran, saya dan Abi coba menyinari pocong tersebut dengan senter. Hasilnyaa….

Saya : “Alamak itu ngapain orang bungkus dirinya pake spanduk warna-warni? Nda nakutin ah.”

Abi : “Yaah kirain beneran.. Hahaha.”

Baru kali ini ngeliat pocong tapi pake spanduk, bukan kain kafan. Kalau dilihat sama pocong betulan, mungkin pocong itu protes, “Seenaknya aja jadi pocong pake spanduk. Sini tukeran kamu pake kain kafanku,” dan terlihatlah badannya yang atletis karena seringnya dia melompat. Setelah kami mengabaikan pocong jadi-jadian ini, kami dihadang lagi. Kali ini dari atas pohon ada bunyi orang ketawa dan rantingnya bergoyang. Iseng kami berdua teriak…

Saya dan Abi : “Assalammu’alaikumm!!”

Otomatis yang menakuti kami pun menjawab, “Wa’alaikumsalam. Kok bisa tau kalau ada diatas?” katanya. “Yaiyaa tu keliatan tangannya lagi goyangin ranting.. Hahaha,” “Kemana lagi arahnya mas?” saya jawab demikian. “Terus aja, ntar lewati sungai kecil, belok kanan ya,” petunjuknya begitu, kami pun segera berangkat. Baru mau lewati sungainya, kami berdua bikin kejutan lagi dengan trik yang sama.

Saya dan Abi : “Assalammu’alaikum!!”

Dan orang dibalik rumput-rumput tinggi di sungai tu menyembul dengan indahnya sambil menjawab, “Wa’alaikumsalam. Wah hebat kalian bisa tau kami. Lurus aja ya, ntar belok kanan. Oh iya, kalau ada teman-teman kalian yang kesasar, langsung kalian panggil ya,” Hah kesasar? Sepertinya mereka tidak memakai cara kami. Langsung kami mengikuti petunjuknya, dan memang.. di tempat tujuan belum ada yang datang! “Wah kesesat dimana ni yang lain??” begitu pikirku. Setelah mencatat nama kami berdua di tempat tujuan, kami ikut membantu mencari yang kesesat. Ada yang sampai nangis, ada yang sampai ngos-ngosan nyari jalan. Untungnya tidak ada yang kesurupan terus loncat kejurang.

Setelah mereka semua ketemu, kamipun sholat Shubuh berjamaah. Tempat finishnya memang diempang, alias waduk kecil. Entah waduknya bersih atau tidak, kami juga wudhu disana. Yah yang penting gak dipipisin sama pocongnya tadi aja deh..

 

Cerita oleh : Muhammad Zulfikar Akbar

Pernah diterbitkan di Bontang Post

You might also like

Comments