Kampus Musti Belajar dari Student Day Lalu

7

KENAIKAN tarif retribusi parkir Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mulai berlaku awal Februari kemarin, mengundang tanggapan beragam dari beberapa mahasiswa. Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Peduli (FMP) UMM menganggap kenaikan ini dirasa tidak relavan, karena kebijakan ini di berlakukan ketika masa liburan tengah berlangsung dan tidak melibatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakannya. Bisa dibilang kampus tidak belajar dari pemboikotan pembukaan Student Day (SD) 2012 lalu, dimana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik memutuskan untuk tidak ikut dalam pembukaan. Mereka juga menganggap bahwa kebijakan dalam penentuan tanggal pelaksananaan SD yang juga  tidak melibatkan mahasiswa.

Meskipun tidak semua mahasiswa tidak terkena dampak langsung kenaikan tarif retribusi parkir ini, ingin agar pihak kampus transparansi dalam pengelolaan tarif retribusi parkir ini. Pasalnya, tarif 200 rupiah yang berlaku sebelumnya juga banyak menuai kontroversi. Menurut penuturan beberapa mahasiswa, ketika mereka memberikan uang 500 rupiah, petugas parkir kerapkali memberi kembalian 200 rupiah saja, kadang mahasiswa juga musti mengiklaskan semuanya karena ketidak tersediaan koin kembalian. Ini tidak terjadi pada satu orang, tapi beberapa. Bila di kumulatifkan, berapa jumlah yang terkumpul setiap bulannya.

Proses audensi yang diadakan Senin (25/2) ternyata tak mampu membendung ke’gatalan’ mahasiswa. Menganggap klarifiskasi yang diberikan pihak kampus tidak rasional, dan berakhir dengan walkout-nya mereka dari ruang pertemuan bahkan mengancam akan membakar kampus jika tuntutan mereka tidak dikabulkan. Ini ancaman keras yang terlontar dari seorang mahasiswa. Meski tidak terbukti, alangkah arifnya jika seorang mahasiswa tidak terlontar dari mulut seorang insan intelektual.

Patut diacungi jempol untuk Muhajir Efendy selaku Rektor UMM yang merespon langsung tuntutan mahasiswa. Kampus sebenarnya terbuka dengan segala masukan dari mahasiswanya. Fauzan selaku Pembantu Rektor II mengungkapkan keterbukaannya bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasi, saran serta kritikannya. Tentu dengan alternatif solusi yang di tawarkan tentunya. Mahasiswa pun hendaknya jangan menjadi mahasiswa ‘bodrek’, tidak menuntut jika tak ada kawan. Keras meneriakan karena dorongan kawan. Menuntut tanpa alasan yang dibenarkan.

Tuntutan agar digratiskannya tarif parkir tidak seluruhnya dipenuhi kampus. Berdasarkan keputusannya, Muhajir hanya akan memberlakukan kembali tarif retribusi parkir 200 rupiah. Namun, jika terjadi kehilangan kendaraan bermotor, akan ada biaya penggantian yang tadinya hanya 50 persen menjadi 100 persen.

Lebih jauh lagi, di kabarkan kampus berencana akan membangun tempat parkir berlantai empat. Tentunya bukan memakai uang hasil retribusi parkir. Mudah-mudahan ini bukan hanya sekadar wacana, dan hajat ini bisa segera terealisasikan. Insya Allah (acs/wfk/dm/mnz/fw)

You might also like

Comments