“Qolbi dan Qolbu”

10

Dia itu pendiam, hatinya bersih, takwa,dan keyakinannya sangat kuat kepada Tuhan Yang Maha esE. Karakteristik yang di miliki oleh seorang pemuda yang bernama Qolbi, pemuda yang berasal dari ujung suatu tempat yang dimana membutuhkan waktu sangat lama. Dan harus melalui rute yang tidak mudah, jalan berliku yang harus dilewati jika ingin menemuinya. menurutnya dunia ini sangat indah serta dihiasi dengan keberagaman manusia di dalamnya. Tidak mudah memang untuk bisa mengenal dunia ini jika kita tidak coba untuk mencoba mengenalnya. setidaknya kalimat – kalimat ini yang diingat oleh Qolbu saudara kembar dari Qolbi. mereka terpisah sejak mulai masuk universitas mereka masing – masing. Kepergian Qolbi secara tiba – tiba sejak subuh itu, membuat sang adik Qolbi merasa sangat kesepian. Hari – hari dilalui bersama sejak di tinggal oleh kedua orang tua nya. Saat itu usia mereka menginjak usia remaja. Tertulis sebuah pesan di lembar kertas di atas meja yang basah akibat air mata yang jatuh dari pandangan Qolbu. “Kelak jika kau ingin menemuiku, temukanlah dirimu dahulu dengan jiwa dan hatimu,”, kalimat inilah yang membuatnya terus berlinang air mata.

Qolbu tidak mengerti dengan kalimat yang ditinggalkan kakaknya. karena memang sejak lama dia tidak pernah mau mengerti dengan kata – kata dari kakak yang selalu menyayanginya itu, terlepas mengerti atau tidak dengan pesan yang ia baca saat itu, tetap saja di sudah dengan saudara kembarnya itu. Qolbu hidup dengan pemikiran yang keras, selalu berfikir bahwa dia bisa melakukan semua hal dengan otaknya, dia cerdas dalam segala hal ilmu pengetahuan, dia hanya mau melakukan suatu hal jika itu bisa dilihat dengan matanya, dan mampu diterima oleh otaknya,dia tidak memperdulikan orang lain dia merasa tidak membutuhkan siapapun di dunia ini karena dia merasa dia bisa melakukannya sendiri. Qolbu sangat sulit untuk berbagi dengan orang lain. Berbeda dengan kakaknya yang selalu beranggapan bahwa dengan hati dan kekuatan iman nya tidak ada yang perlu di khawatirkan di hidup ini. Karena Tuhan lebih dari segalanya. sikapnya yang lembut dan jiwanya yang bersih membuatnya sangat dekat siapapun. setiap saat Qolbi coba memberikan nasihat – nasihat nya kepada adiknya agar supaya coba untuk sang adik mau menggunakan hatinya dan menemukan tuhannya. karena dalam penglihatanya, Qolbu sangat kesepian, jiwa nya sepi. Dia merasa apa jadinya jika Qolbi tidak bersamanya adiknya terus, pasti Qolbu akan sangat merasa sendiri di dunia ini. “Qolbu hentikan semua aktivitasmu sejenak cobalah ikuti jalanku, niscaya kamu akan merasa sangat tenang,” kata – kata yang keluar dari lisan untuk menasihati sang adik. “Aku tidak akan pernah tenang kak ! Jika semua cita-citaku belum tercapai, aku tidak boleh membuang waktuku walaupun hanya satu menit,” selalu jawaban itu yang di dapat Qolbi ketika menasihati adiknya itu.
Senyum semerbak selalu terpancar dari bibir Qolbi untuk adiknya. karena dia sangat menyayangi adiknya itu. Walaupun tidak satu kata pun pesan yang disampaikannya, diterima dengan baik oleh Qolbu. Berbagai prestasi di dapat Qolbu di sekolah maupun di lingkungannya, kerja keras nya terbayar dengan berbagai presatasi yang di dapatnya. Hingga di suatu hari salah satu dari mimpinya untuk bisa kuliah di universitas terbaik di negeri ini bisa tercapai. “Memang benar jika aku bisa menggunakan otakku dengan sebaik mungkin semua mimpi ku akan mudah aku dapatkan,” Qolbu berbicara di dalam hati, dan menghasilkan kata – kata itu. Dia berjalan pulang untuk menemui kakaknya, ketika pintu terbuka di lihatnya sang kakak sedang duduk berdoa kepada tuhan. Qolbu hanya duduk dan membaca buku – bukunya. Selesai berdoa Qolbi bertanya kepada adiknya, “Bagaimana prestasimu hari ini?” kata Qolbi. “Aku telah diterima di universitas terbaik di negeri ini,” sahutnya. “Alhamdulilah syukurlah kalau begitu,” kata Qolbi. “Lalu bagaimana denganmu kak,” sahutnya lagi. “Aku sedang menunggu hasil dari universitas yang aku tuju,” jawab sang kakak. “Owh, aku harap kakak juga bisa diterima sama sepertiku amin……” Kemudian malam mulai larut, Qolbu bersiap untuk tidur. Sedangkan Qolbi berkemas untuk perjalanan panjang nya besok pagi. Ternyata dia diterima kerja disuatu negeri yang sangat jauh dari negerinya. Dia merasa harta peninggalan orang tuanya tidak cukup untuk biaya hidup mereka berdua. Qolbi selalu ingin membahagiakan adiknya, karena Qolbu tidak punya siapa-siapa lagi. Qolbi tidak ingin adiknya kehilangan semangat untuk semua mimpinya, hingga dia berbohong agar sang adik tidak merasa sedih dengan nasib kakaknya. Qolbi harus menempuh jalan ini, jika tidak, hidup adiknya akan berhenti di tengah jalan. Dia meninggalkan semua yang dia punya dan semua harta orang tuanya untuk sang adik. Qolbi selalu merasa Tuhan selalu bersamanya.
Dan berharap serta doa yang terus mengalir agar sang adik menemukan hati dan jiwanya. Qolbu sudah cukup besar untuk bisa menjalani hidupnya sendiri begitu juga dengan qolbi. “Qolbu, aku selalu ada di hati dan langkahmu melalui doa-doaku ini,” pesan yang di bisikkan di telinga sang adik ketika selesai menulis beberapa kalimat di kertas. Dengan mengucap bismillah dia melangkah keluar dari rumahnya dan pergi meninggalkan adiknya yang sedang tertidur. Matahari mulai tampak dan menyinari segala yang ada di bumi ini. Membangunkan Qolbu dari tidurnya dan di lihatnya sang kakak sudah tidak ada di sampingnya. Setelah dia selesai membaca pesan dari kakaknya. Dia menjadi lebih bersemangat dalam belajar dan mengarungi hidup dengan beribu – ribu harapan suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan kakaknya kembali. Qolbu membuka jendela kamarnya, karena dia tidak pernah membuka jendela nya itu, selalu kakaknya yang membukanya. Dan melihat bagaimana matahari menyinari semua yang ada di sekililing rumahnya, dari semua tumbuhan, serangga – serangga semua yang ada terkena sinar dari sang surya. Hingga dia menggunakan otaknya kembali siapa yang menciptakan sang surya ini. pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin manusia yang menciptakannya, karena ukuran matahari jauh lebih besar dari matahari itu sendiri. hingga otaknya tidak mampu lagi untuk berfikir dan di lihatnya Al Quran yang sering dibaca kakaknya itu. Qolbu mencoba membukanya dan mempelajarinya. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa semua yang di miliki manusia itu terbatas tuhan lah segalanya. Qolbu menangis karena kesombongan dirinya.
Pada akhirnya Qolbu memutuskan untuk terus belajar agar bisa mewujudkan semua cita-citanya. dengan doa yang selalu mengiringi langkahnya. “Kakak ..aku pasti akan bertemu denganmu lagi suatu hari nanti. karena aku sudah melihat langkah dan perjalananmu di jiwaku.”

 

Karya : Eko Puji Wahono

You might also like

Comments