Mimpi Diatas Sebuah Harapan

6

Bersyukurlah kau dapat hidup di dunia ini. Bersyukurlah bahwa Tuhanmu selalu memberikanmu oksigen yang tidak pernah terhitung banyaknya yang telah Dia berikan untukmu, hanya untuk agar kau bisa hidup dan mensyukuri nikmat-Nya. Betapa bahagianya aku bisa berdiri disini menikmati setiap sejuknya udara di pagi hari, merasakan basahnya embun di pagi hari, melihat para tumbuhan yang segar disana, Tuhan nikmat-Mu memang tidak pernah ada habisnya.

Dan Tuhan bagaimana cara aku berterimakasih kepada-Mu untuk semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, aku hanya bisa bersimpuh di dalam sujudku mengagungkan nama-Mu setinggi-tingginya. Tuhan terimakasih telah engkau hadirkan hamba disini melalui rahim seorang ibu yang mulia seperti ibuku, melalui sentuhan kasih sayang seorang laki-laki yang gagah berani seperti ayahku, Tuhan aku mencintaimu, ayah dan ibu aku menyayangimu.

Gemericik air terjun di belakang rumah kayu sederhanaku semakin membuatku merasakan bahwa mukjizat Tuhan itu ada, bahwa dunia itu memang indah, disinilah aku hidup, disinilah aku bernafas, dan disinilah aku menemukan banyak keajaiban dari keindahan berbagai pulaunya, disinilah aku menginjakkan karir dan impianku, iya disini.. disinilah INDONESIA-KU.

Kini aku bersimpuh di hadapan Tuhanku, tak tahu jika aku telah meneteskan butir demi butir air mataku, aku mencintai dunia tulis menulis, ingin sekali jika aku mampu berhasil menjadi seorang jurnalis, yang mampu menyediakan berita yang mampu memberikan pelajaran bagi dunia pembaca. Namun apa dayaku aku hanya anak seorang pencetak sablon, tidak banyak penghasilan, namun aku tahu itu bukanlah sebuah alasan untukku memendam semua mimpi.

“Nanaaaaaaaaaaaa jangan suka bicara sendiri seperti itu,” teriak Ibu dari lorong dapur.

“Oooo , baik baik,“ jawabku lesu dan menekukkan kepalaku.

“Sini kemari kamu,“ ucap Ibu lantang.

“Ada apa? Bantu keringkan sablon lagi?” tanyaku sedikit malas.

“Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu makan darimana kalau tidak dari sablonan ini semu..” ucap ibu terputus.

“Bu.. “ ucapku memelas

“Kenapa kamu seperti itu nak? Kenapa kamu bersedih?“ ucap ibu sambil menegakkan kepalaku yang tertunduk.

“Aku ingin kuliah bu,“ jawabku sambil meneteskan air mataku.

“Na.. sabar ya kamu lebih baik bekerja dahulu membantu ayah kamu, kuliah kan bisa kapan-kapan, ayah tidak punya biaya untuk kamu kuliah,“

“Bu.. dengarkan Nana bicara, bukan maksud Nana untuk melawan ibu, bukan maksud Nana untuk menyengsarakan ibu dan ayah, aku tahu keadaan kita memburuk, aku tahu, tapi bu aku tidak mau bekerja, aku hanya ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya, dengan itu aku bisa bahagiakan ibu dan ayah, akan aku bawa ibu dan ayah bersujud di Mekkah, Nana janji bu ..”

“Nana, maafkan ibu dan ayah, ibu dan ayah memang benar-benar tidak mampu nak..“

“Apakah aku salah jika aku meminta untuk berkuliah? Apakah aku berdosa jika aku ingin menuntut ilmu?”

“Tidak..tidak Na, tapi memang benar maafkan ibu dan ayah..“

Panasnya cahaya matahari waktu itu tidak sama sekali mampu mengeringkan duraian air mata yang terjatuh dari kedua mataku, hatiku sangat hancur, aku merasakan bahwa kedua orangtuaku berambisi untuk mengubur hidup-hidup mimpi dan cita-citaku, benci sekali aku dengan kedua orangtuaku.

Aku mencoba untuk bersujud, bersimpuh dihadapan Tuhanku. Aku tahu jika memang hanya Allah yang mengerti keadaanku dan keinginanku, aku yakin bahwa takdirku telah ditulis abadi disana, baik atau tidaknya aku memang tidak tahu tapi aku hanya berharap dan yakin, melalui tangan-tangan ajaib Sang Pencipta yang akan mampu membawa mimpi dan cita-citaku menjadi nyata.

“Tuhan.. salahkah aku jika aku membenci kedua orangtuaku saat ini, mengapa begitu teganya mereka mengubur hidup-hidup cita-cita dan impian yang sudah aku impikan dari dulu? Tuhan jangan cap aku menjadi anak durhaka, namun memang ini yang sedang aku rasakan saat ini, aku tidak tahu harus bersikap apa dengan mereka, Tuhan hanya engkaulah yang mampu mengerti aku, yang mampu merubah takdir dan nasib kedua orangtuaku..“ ucapku dengan duraian air mata dan kepala tertunduk.

“Setinggi apapun cita-cita seseorang, seindah apapun impian seseorang jika itu dirancang tanpa ada garis restu orangtua sama saja kamu menulis diatas air,“ ucap bijak seorang lelaki dibelakangku.

“Tapi anda tak pernah mengerti betapa bencinya saya terhadap kedua orangtua saya, orangtua macam apa yang ingin mengubur hidup-hidup cita-cita dan impian anak kandungnya sendiri, apakah itu yang disebut dengan orangtua?”

“Sebelum kamu membenci kedua orangtuamu, dengarkan dulu alasan mereka mengapa sikap mereka seperti itu, tentu mereka mempunyai alasan bukan?”

“Iya, dengan keinginan saya untuk berkuliah itu merupakan suatu hal terberat yang akan mereka pikul nanti“

“Lantas, jika kamu tau keinginan kamu merupakan sebuah pikulan berat orangtua kamu, mengapa kamu malah membencinya? Bukankah seharusnya kamu membantu meringkankan beban kedua orangtuamu?”

“Tapi kak, saya ingin sekali untuk berkuliah, bukan saya tidak mau untuk membantu, tapi saya membantu dengan apa? Saya tidak cukup banyak mempunyai ilmu untuk membantu kedua orangtua, yang saya inginkan sekarang ialah menuntut ilmu setinggi-tingginya sehingga saya mampu menjadi wanita yang cerdas dan berguna untuk masyarakat semua, dan ketika saya sudah berhasil dengan mudahnya saya mampu membawa kedua orangtua saya menuju Mekkah kota impian mereka berdua, di setiap garis keinginan dan cita-cita saya, senyum kedua orang tua saya memang hal yang sangat penting bagi saya“

“Bawa saya menuju kedua orangtuamu“

“Untuk apa? Ada urusan apa anda dengan orang tua saya?”

“Sudah, nanti kamu akan tau siapakah saya, boleh saya menemui kedua orangtua anda?”

“Marilah kalau begitu “

Tetesan air mata sewaktu itu mulai berhenti, berganti pikiran yang sedikit mulai dibuat bingung , sebuah hal yang misterius tercipta semenjak aku bertemu dengan lelaki misterius ini, sungguh aku tidak sama sekali mengenalnya, ini adalah awal aku bertemu dengan lelaki misterius ini, apa maksud dan keinginan lelaki ini terhadap kedua orangtuaku, sehingga ia sangat berambisi sekali untuk bertemu dengan kedua orangtuaku…

“Bu..yah Assalamu’aikum,“ ucapku lemas

“Waalaikumsalam nak, kamu darimana saja, maafkan ibu dan ayah, telah membuatku hingga seperti ini, tapi sungguh maafkan ibu dan ay.. “

“Sudah jangan bahas itu, aku pulang membawa lelaki, dia saat ini sudah menunggu ibu dan ayah diluar, ia sangat ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibu “

“Ada apa na? Kamu tidak membuat ulah kan? “

“Aku tidak tahu, aku bertemu dia di masjid tadi, dia memaksaku untuk membawanya menghadap ibu dan ayah, aku juga tak tahu apa tujuan dan keinginannya bertemu dengan ayah dan ibu”

Dengan sedikit ragu, aku, ayah , dan ibu mencoba melangkahkan kaki untuk menemui lelaki misterius itu dan menanyakan apa maksud dan tujuan dia untuk bertemu dengan kedua orangtuaku, pakaiannya yang rapi, baunya yang wangi, wajahnya yang tampan dan berseri, sepatu yang mengkilat, dan dengan jas yang bersih dan mahal, semakin membuat pertanyaan tentang siapakah dia? Apa maksud dia ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuaku semakin beranak pinak..

“Perkenalkan, saya Ahmad Najwi , saya seorang pengusaha sablon terbesar di surabaya,“

“Oh ii..ii..iyaa, saya Muhammad Aziz ayah dari putri Nana anak saya, sebelumnya ada perlu apa dengan kami?”

“Secara tidak sengaja saya bertemu dengan anak anda, saya melihat dia bersimpuh dengan cucuran air mata yang tidak ada habisnya, saya mendengarkan do’a dan rintihan dia, dan saya sangat kagum keinginan anak bapak untuk berkuliah sangat tinggi sekali,“

“Iya memang, saya dan istri saya memahami itu, namun sebenarnya kami sudah sangat berusaha keras untuk mencarikan dana untuk Nana kuliah, namun apa daya kami, kami memang benar-benar tidak mampu pak, kami memang orangtua yang tidak ada gunanya..“

“Bapak tenang saja, saya kagum dengan kegigihan anak anda, saya akan bersedia membantu biaya perkuliahan anak anda hingga selesai, dan saya akan membantu anak anda untuk menggapai semua cita-cita dan impiannya..“

“Tidak..tidakk pak, terimakasih sebelumnya bukan saya menolak, tapi tugas untuk mengkuliahkan Nana adalah tugas saya, itu adalah beban saya, bukan beban bapak,”

“Iya saya tahu, bukan maksud saya mengecilkan bapak, tapi saya tidak tega melihat seorang anak yang mempunyai ambisi kuat seperti Nana serta mempunyai mimpi seindah Nana tidak ada tempat untuknya berkembang, bayangkan saja jika anak secerdas Nana akan tergeletak tidak ada guna, nasib bapak akan tetap seperti ini, biarlah Nana saya yang akan pegang, dan bapak percaya lah kepada saya,“

“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada bapak sungguh saya tidak tahu harus membalas ini semua dengan apa? Saya tidak tahu, “ ucap ayah sambil bersujud di kaki lelaki misterius itu

“Pak..pakk berdiri, anggap saja ini adalah jalan Yuhan untuk keluarga bapak, untuk Nana, “

“Pak.. terima kasih saya sungguh sangat berterima kasih,“ ucap ibu sambil meneteskan air matanya.

“Iya bu, sama-sama , saya juga merasa bahagia dan bangga bisa membantu orang lain,“

“Bapak Ahmad Najwi, saya sungguh bersyukur bisa bertemu dengan bapak, saya mohon maaf sebelumnya jika saya telah berfikir bapak adalah seorang teroris yang mau meneror keluarga saya, tapi ternyata saya salah, ternyata bapak adalah seorang malaikat yang mempunyai hati begitu mulia, saya berjanji akan mengembalikan semuanya. Dan ayah juga ibu dengarkan Nana, Nana juga berjanji akan membawa kalian ke Mekkah, dan dengarkan wahai Menara Eiffel di Paris Perancis , saya akan menaklukkan kamu, saya akan mengunjungimu, mencuri percikkan cahaya emasmu, mengabadikan setiap kecantikan kemilaumu, bagiku kau adalah semangatku, imajinasiku, motivasiku wahai Paris Perancis.

Wahai Tuhanku yang pemurah karunia, Yang Pemberi Surga, Yang Maha pengasih dan Penyayang, Yang Maha Pemberi Petunjuk dan Karunia, dengarlah pujianku terhadap Engkau, lihatlah setiap air mata kesyukuran yang telah hamba jatuhkan disetiap kali hamba bersimpuh tak berdaya ketika hamba menerima nikmat-Mu yang begitu kaya ini. Tuhan terima kasih telah Engkau hadirkan lelaki berhati malaikat seperti bapak Ahmad Najwi yang telah mewadahi semua mimpi dan cita-cita hamba, Tuhan dengarlah janji hamba, bahwa hamba akan membawa dua orang yang paling mulia yang telah engkau ciptakan untukku dan yang telah membuatku memanggil mereka dengan sebutan ibu dan ayah mampu berhadapan langsung melalu dua mata mereka melihat kiblat umat muslim dunia Mekkah.

Tuhan selalu bimbing aku untuk menjadi seorang yang berguna untuk semua orang di dunia ini, bimbing aku agar aku mampu dan berhasil untuk membahagiakan kedua orangtuaku, mampu memberikan senyuman disetiap ada hamba-Mu yang sedang bersedih, mampu membantu di setiap ada hamba-Mu yang merintih untuk meminta tolong.

Ya ALLAH aku mencintaimu, Engkaulah surya di setiap cahaya matahari, Engkaulah penyejuk hati di setiap desahan angin, Engkaulah maha segalanya..

 

Buah Karya : Hidayatul Wahyuni, jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2013

You might also like

Comments