Berlarilah Wahai Pasundan!

3

Dia melihat taman yang begitu indah dengan bunga bertebaran disana-sini, wanginya menghujam menusuk hidung mancungnya. Dia berdiri di samping danau yang masih mengepul uap karena udara dingin di pagi hari. Kabut menyambut menuruni bukit hijau dikejauhan, dia masih tetap berdiri. Sesekali dia melempari air danau yang jernih dengan kerikil ditangannya. Jauh ketengah danau dia melemparnya.

“Mengapa aku bisa disini?” gumamnya. Dia masih ingat dimana terakhir dia berada, “Stasiun, ya benar stasiun!”, dia terkejut seraya membulatkan mata dan mulutnya. “Sejak kapan PT. KAI membangun stasiun sebagus ini? kenapa tak ada rel? tak ada pedagang asongan? Tak ada tanda-tanda kehidupan? Hanya aku satu-satunya manusia disini”, dia kembali berpikir dan menanyakan banyak hal yang entah kepada siapa dia bertanya.

“Apa ini surga?”, tanyanya kembali. “Ahh..mana mungkin ini surga. Aku ragu akan itu”, dia menggeleng-geleng kesal. “Lalu kemana semua orang? kemana Randi temanku yang tadi mengantarku distasiun? Kemana petugas yang selalu meniupkan peluit agar kereta berangkat dan aku tidak mendengar bunyi lonceng atau apapun itu yang sangat khas jika aku berada distasiun?”, seketika itu dia menjadi seorang pemikir. “Benar, ini bukan stasiun, ini tempat yang indah dan belum pernah aku kesini sebelumnya. “Shit! Tempat apa ini?”, dia mulai geram. Karena lelah berpikir dan terus bertanya-tanya, dia memilih duduk diatas batu lapuk besar dan mengingat kembali apa dan siapa yang mengantarnya ketempat seperti ini. Dia membenamkan kepalanya diantara lututnya yang ditekuk dan tertidur. Berharap semua ini hanya mimpi indah yang sedari tadi membuatnya kebingungan setengah mati.

Dalam tidurnya dia mendengar suara perempuan yang memanggil-manggil dan menepuk pundaknya. “Mas..mas..bangun mas, mas bangun mas karcisnya”, begitulah perempuan itu memanggilnya. “Ada apa ini? ternyata ada kehidupan disini, bukan aku satu-satunya manusia disini”, dengan berat dia membuka mata dan menoleh kearah suara itu. Dia berharap dia tak sendirian ditempat seindah ini. “Apa?”, jawabnya singkat. “Karcisnya mas, ituloh karcisnya mau dikontrol”, perempuan itu menjelaskan dengan logat yang khas. “Hah karcis? Ini dimana?”, dia masih kebingungan. Dia melihat sekitar, oh damn! “Ini kereta api, aku berada didalam kereta api!”, batinnya mengumpat. “Ini dikereta yah?”, tanyanya pada perempuan disampingnya yang menggenggam karcis. “Bukan ini busway! Ya kereta lah”, ujarnya ketus.

Dengan cepat dia merogoh karcis disaku kiri celananya dan membenarkan posisi duduknya.

Hahaha ini masih di kereta Pasundan jurusan akhir Surabaya-Gubeng. Demi apapun itu, ini perjalanan yang mengasyikkan. “Turun mana mas? Bisa saya lihat karcisnya?”, pinta pak kondektur tua dengan ramah namun sedikit menyeramkan. Dia berkumis lebat memiliki perut yang sedikit buncit dengan seragam khasnya. Dibelakangnya ada dua orang security berbadan kerempeng tak ada ekspresi dimukanya yang setia menemani kondektur itu menyusuri setiap gerbong dan menanyakan hal yang sama kepada semua penumpang. “Surabaya pak!”, ujarnya lantang seraya menyerahkan karcisnya. Setelah selesai menunaikan tugasnya yang membosankan itu, pak kondektur berlalu menghampiri kursi penumpang yang lain.

Dia tersipu malu dan tersenyum jahil ke jendela kereta yang usang, mengingat kembali mimpinya yang membingungkan dan meminum sisa air mineral yang tadi dia beli. Pemandangan diluar begitu indah, hamparan sawah hijau gunung-gunung berdiri angkuh, jurang terjal dan sungai besar yang berair keruh. “Ini masih di Jawa Barat pastinya”, gumamnya. Tebakannya benar dan itu berarti perjalanannya dikereta Pasundan ini masih panjang.

Ditengah lamunannya dia tersadar akan manusia disampingnya yang ia anggap pahlawan. Perempuan itu yang membangunkannya dari mimpi yang membuatnya menjadi pemikir. Dia menoleh cepat kekiri dan masih mendapati perempuan itu masih duduk manis dan terus sibuk dengan ponselnya. “Masih muda”, dia berkata lirih. “Berarti sepasang suami istri tua tadi sudah turun, dan Tuhan menggantinya dengan yang masih muda. Tuhan memang adil”, dia berbicara sendiri dan masih menatap jendela kereta usang itu tiada bosan. Kira-kira usia perempuan itu 2 atau 3 tahun diatasnya, mungkin lebih keren kalau disebut cewek.

“Sudah ngumpul nyawanya mas?”, tanyanya menyindir. “Belum, yang 3 masih di Garut”, katanya asal dengan muka cemberut. Perempuan, eh cewek itu tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Dia gak minta karcisku kan? Masa cakep-cakep kondektur?”, batinnya. Setelah tahu apa maksudnya dia langsung menyambut tangannya. “Tony”, ujarnya cepat. “Farah”, kata cewek itu menyebutkan namanya. Terlibatlah Tony dalam obrolan ringan yang lebih cocok disebut basa-basi didalam kereta Pasundan itu. Beginilah enaknya naik angkutan umum, bertemu orang-orang baru dengan karakter berbeda-beda. Mulai dari yang pendiam, suka nelfon, sibuk sendiri, jahil, suka curhat, suka curi-curi pandang, banyak bicara, suka bertanya, suka ngemil, suka merokok, suka tidur, suka ke toilet dan suka menghipnotis orang lain. Beraneka ragam bercampur menjadi satu dengan tujuan yang berbeda. “Mbak turun mana?”, tanya Tony. Hanya tiga kata yang Tony katakan namun jawaban yang ia terima begitu panjang. Farah bukannya menjawab tetapi bercerita, mulai dari mana ia naik, sampai stasiun mana ia harus turun. Farah adalah seorang mahasiswi semester 4 jurusan ilmu hukum disalah satu PTN ternama di kota gudeg. Ternyata Farah bukan tipe penumpang yang suka bertanya dan suka merokok, tapi suka bicara. Hal itu cukup membuat Tony merasa lega karena Farah bukan tipe penumpang yang suka menghipnotis orang lain ataupun tipe penumpang yang jahil. Farah memang tipe penumpang yang suka sekali dan banyak bicara, lumayan bagi Tony untuk mengusir penat dikepalanya. Kembali Farah bercerita bagaimana ia begitu menyukai naik kereta api, dijahili petugas stasiun sewaktu menunggu kedatangan kereta tadi sampai urusan dan kesibukan kuliahnya. Tony hanya menanggapinya dengan senyum kebosanan karena panjangnya cerita yang Farah sajikan.

Tak terasa sudah waktunya farah turun karena kereta Pasundan telah tiba distasiun yang dituju Farah. “Mas saya duluan yah, udah nyampe nih, hati-hati yah!”, ujarnya ceria dan kembali berjabat tangan untuk yang kedua kalinya. “Iya makasih mbak, good luck aja deh!”, ujar Tony tak kalah ceria. Dan si Farah cewek manis berkulit putih dan pendongeng itu turun. Kini kursi disampingnya kosong, Tony menatap keluar melihat punggung Farah yang berjalan keluar melewati lorong tak berpintu yang bertuliskan “EXIT”. “Jika dia terus seperti itu, berbicara dengan lancar, dengan pembendaharaan kata yang luar biasa menarik dia pantas menjadi lawyer handal, paling tidak komentator dipertandingan sepak bola”, Tony memberikan penilaian ngawur.

Tak ambil pusing Tony meluruskan kedua kakinya dan menghabiskan kursi tak menyisakan tempat duduk bagi orang lain lagi. Tony memang merasa pegal kadang juga kesemutan karena kelamaan duduk. Diambilnya sebatang rokok yang dibakar disatu ujungnya. Hisapan pertama begitu nikmat. Seakan masa bodoh dengan larangan merokok ditempat umum, toh masih banyak pedagang asongan didalam kereta yang menjajakan rokok dan tidak sedikit penumpang yang merokok didalam gerbong. Hisapan demi hisapan terus Tony nikmati dengan segelas plastik kopi hitam yang ia beli. “Hidup itu indah kawan”, ujar Tony di hisapan terakhirnya. Nampak terlihat sesosok lelaki besar dengan karcis ditangannya melewati setiap kursi yang bernomor. “Mas benar ini kursi nomor 13B?”, tanyanya ramah kelihatan sedikit payah. “Iya benar pak”, sahut Tony sambil membenarkan posisi duduknya. Barang bawaannya banyak. Satu tas ransel tergantung dipunggung besarnya dan dua kardus mie instan dikedua tangannya, pasti kerepotan. Pria besar itu kira-kira berumur setengah abad lebih sedikit dengan tampang sangar, tapi tetap kelihatan payah waktu dia mencari kursinya dikereta Pasundan ini. Damn! Harusnya dia beli dua karcis karena kursi yang Tony duduki harusnya berisi 3 orang, sedang ini hanya berisi 2 orang sudah terasa sesak. Demi apapun itu Tony mengutuk kenapa tidak ada gerbong khusus untuk kaum-kaum GIANT seperti bapak ini. Bapak ini turun di Jombang, sedangkan sekarang kereta Pasundan tercinta masih ngetem distasiun kota gudeg. “You know that?! I’ll be with giant man in a train!. “Bisa-bisa turun dari kereta jadi mayat, belum lagi kalau bapak ini tidur, pasti mendengkurnya keras, terus senderan, kegencet di kursi 13A kereta Pasundan. It’s suffocate man!”, keluh Tony. Akhirnya Tony memutuskan meninggalkan bapak besar itu seorang diri dan memilih berdiri dipintu kereta. Hari menjelang petang, kereta Pasundan belum ada tanda-tanda mau jalan. Naluri pemikir yang ia dapat entah dari siapa akhirnya muncul.

“Dunia ini memang kejam, dan terlalu kejam. Apapun dan dimanapun itu selalu ada diskriminasi. Ada saja pagar-pagar pembatas diantaranya, membedakan satu sama lain, membedakan kaum atas dan bawah. di dunia transportasi pun begitu. Kereta ekonomi selalu mengalah dan diharuskan mengalah disetiap stasiun. Menunggu lama dengan sabarnya menunggu kereta bisnis dan eksekutif lewat terlebih dahulu. Kereta api yang malang, mengangkut ratusan manusia dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Aku tahu mereka semua ingin segera sampai dirumah, tiba ditempat kerja dan menemui keluarga tercintanya. Namun apa? Mereka memilih kereta Pasundan kelas ekonomi ini dengan alasan yang kita semua tahu, ongkos!. Harga tiket yang pas dikantong, mereka berharap kereta Pasundan ini dapat mengantarnya pulang dengan selamat. Aku duduk berjongkok dipintu kereta, disatu pintu yang lain termenung seorang pria, raut mukanya terlihat panik tak karuan. Masalah menghampirinya, pria itu hendak menemui istrinya di Surabaya. Sesekali ia melihat jam tangan seolah bertanya kapan keretanya akan berangkat. Istrinya tengah berjuang antara hidup dan mati dalam proses kelahiran anak pertamanya. Pria itu sudah tidak sabar lagi menemui istri dan bayinya di Surabaya. Pria itu sendiri tidak tahu apakah keduanya akan selamat atau tidak. Kenapa pria itu tidak naik kereta eksekutif atau apalah itu yang lebih cepat? Kenapa dia rela menunggu lama di dalam kereta ekonomi ini yang jadwalnya selalu ngaret? Tidakkah ia ingin cepat-cepat mengumandangkan adzan ditelinga bayinya? Miris sekali aku mempertanyakannya. Oh Tuhan, lagi-lagi masalah itu, masalah yang membangun kasta-kasta manusia bertingkat yang bengis. Uang telah mengatur di kasta mana manusia harus berada, tingkatan kasta telah memudarkan rasa kemanusiaan dan bersikap acuh kepada mereka yang berada satu tingkat, dua tingkat bahkan sepuluh tingkat dibawahnya. Namun pria itu tetap bersabar menanti kereta Pasundan berangkat ketimur. Hingga kereta eksekutif dengan sombongnya melewati kami. Seperti kebanyakan penumpang didalamnya, kereta eksekutif itu berlari cepat kebarat tanpa permisi seolah tak melihat kami yang sedari tadi sabar menunggu ia lewat. Senyuman  itu tersungging dibibirnya karena ia tahu kereta Pasundan ini akan kembali berlari kencang menuju ketimur. Akupun ikut tersenyum turut lega sambil berdiri dipintu. Petugas stasiun keluar mendekati rel, meniupkan peluitnya dan memberikan tanda hijau tinggi-tinggi. Pasundan membalasnya dengan suara klakson yang lantang. Pasundan pun sedikit demi sedikit merangkak dan berlari kencang. Berlarilah yang cepat wahai Pasundan, bawalah bapak itu pulang. Jangan pernah mengecewakannya, karena bapak itu telah mempercayai dan mengandalkanmu sebagaimana ia mampu.”

Cerpen oleh: Rachmat Fatoni, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

 

You might also like

Comments