Barisan Pengemis

3

Usai makan siang, kupandangi jalanan depan perusahaanku. Huh! Pengemis itu lagi, batinku geram saat melihat barisan pengemis di depan perusahaanku. Barisan pengemis ini hanya menjadi beban perusahaanku. Aku bertekad hari ini, hari terakhir mereka mengemis di sini.

“Hei, pergi dari sini! karena kalianlah aku dan perusahaanku dihujat pers. Kalau mau uang, kerja!” bentakku

“Jangan merasa seperti dewa dengan jas kantor kebanggaanmu, kau tak ubahnya pengemis berdasi pemakan keringat karyawanmu. Lihat ini, wajah angkuhmu yang terpajang di koran pagi ini hanya kujadikan alas duduk. Kau tak lebih bermartabat dari kami.”ucap salah satu pengemis paruh baya

Aku  pergi tak menggubrisnya dan berjalan menyusuri pertokoan. Di sebuah cermin etalase toko, aku bercermin sambil mencerna ucapan pengemis tadi. Tiba-tiba cermin etalase merefleksikan bayangan diriku yang berpakaian lusuh seperti pengemis. Ah, tidak! Ini hanya halusinasiku saja. Namun kulihat barisan pengemis dari berbagai arah menghampiriku sambil berteriak

“Koruptor! Koruptor!” teriaknya mendengung di telingaku.

Penulis: Media Lely, Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammdiyah Malang (UMM)

You might also like

Comments