Pulang

8

Oleh: Aqsha Al Akbar

Aku pulang, Ma.

Setelah lama, aku membidik harapan.

Tak ketemu, Ma.

Maa, jangan marah.

Aku pulang

 

Aku tak tahu bis mana yang kan kutumpangi lagi, Ma.

Aku lelah menempuh jalan.

Aku tahu dikejar bayang-bayangmu, Ma.

Maafkan lah, Ma.

Aku pulang.

 

Ma, sambut lah aku.

Meski tak sedikit dari itu yang dapat kuisi di ranselku.

Meski malu, Ma.

Malu pada tetangga kita, Ma.

Aku telah pulang, Ma. Bagaimana lagi?

 

Bukan aku menyerah, Ma.

Aku telah bertemu semangat Bung Karno.

Aku juga telah berbaris di barisan Pangeran Diponegoro.

Aku pun telah memanjat huruf-huruf si Chairil.

Bahkan aku telah memimpin diriku, Ma.

 

Tapi, aku dicegat, Ma.

Mereka tak suka kehadiranku, Ma.

Mereka bilang aku tak layak hidup, Ma.

Aku tak takut, Ma.

Tapi, senjata macam mana yang dapat meruntuhkan ironi politik, Ma?

Kemana-mana dibuntuti, Ma.

Kemana-mana ditodong perasaan was-was.

 

Aku pulang, Ma.

Aku hanya lelah.

You might also like

Comments