Mendambakan Keadilan Di Indonesia

6

Judul               : Menuju Indonesia Berkeadilan, Cerita Keadilan di Indonesia

Penerbit           : Indonesia Social Justice Network

Cetakan           : I, Mei 2013

Halaman          : 433 halaman

ISBN               : 978-602-19881-2-1

 

Dimanakah keadilan itu? Bangsa Indonesia selalu mencari keadilan yang mungkin masih sulit dirasakan oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Keadilan mungkin tidak bisa diperoleh dengan cuma – cuma, namun masyarakat sebenarnya mampu menciptakan keadilan bagi lingkungan disekitar mereka sendiri tanpa mengharapkan lebih jauh dari sebuah keadilan yang kadangkala memerlukan langkah yang prosedural untuk mendapatkannya. Kacamata setiap manusia berbeda – beda dalam menyikapi keadilan yang terjadi Indonesia. Bagi orang – orang yang mendapatkan keberuntungan lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya, mereka  bisa melihat ketidakadilan dari perspektif yang mereka buat. Perspektif mereka merupakan kerangka berpikir yang memiliki tujuan untuk mencapai suatu titik keadilan. Mereka adalah mahasiswa yang mendapatkan kesempatan untuk meraih pendidikan di luar negeri. Mengapa mereka bisa melihat ketidakadilan tersebut? Karena mereka bisa melihat dan membandingkan realitas yang terjadi disekitar mereka, termasuk di negara dimana mereka menempuh studi. Untuk menanggulangi berbagai macam ketidakadilan itulah, mereka menggagas beberapa pemikiran yang diharapkan mampu menghadirkan kembali sisi keadilan alam masyarakat kita.

Dalam buku Menuju Indonesia Berkeadilan, sembilan belas mahasiswa menuangkan karya ilmiah mereka tentang hal – hal yang menyangkut keadilan sosial di Indonesia. Keragaman latar belakang pendidikan membuat tulisan yang mereka tulis berbeda satu sama lain. Namun, perbedaan tersebut bukan suatu masalah, sebab kesempatan untuk mendapatkan International Fellowship Program (IFP) merupakan pengalaman yang berharga untuk memberikan kontribusi yang positif bagi keadilan sosial di Indonesia.

Wilson Lalengke menjadi pembuka dalam buku tersebut. Dalam tulisannya, Wilson mempertanyakan keberadaan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Tulisannya mungkin sedikit satir. Nada optimis dan pesimis mungkin juga tersirat dalam tulisannya yang tercampur baur antara ekspetasi dan realitas yang terjadi. Menurut Wilson, untuk mewujudkan sebuah negara yang berdaulat, sebuah negara membutuhkan berbagai macam persyaratan. Hal inilah yang menjadi pemikiran Wilson apakah Indonesia sudah memenuhi persyaratan sebagai negara yang berdaulat atau belum. Bagi Wilson, Indonesia sudah menjadi negara yang berdaulat, sesuai dengan persyaratan yang dikemukakan oleh Matt Rosernberg. Namun, Wilson masih merasakan bahwa hal ini masih jauh dari harapan. Menurutnya, Indonesia masih harus berjuang untuk mendapatkan yang terbaik, terutama dengan pendidikan seperti yang diharapkan oleh semua orang.

Setelah Wilson Lalengke, M. Ya’kub A. Kadir juga memberikan kontribusi tulisan mereka dimana tulisan mereka lebih mengarah kepada konflik sosial yang terjadi di tanah air. Konflik sosial yang mereka tulis adalah konflik yang terjadi di provinsi yang dijuluki sebagai serambi mekah, yaitu Aceh. Dalam kesimpulannya, Yakub melihat bahwa fungsi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) belum dapat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Aceh. Sedangkan fungsi KKR adalah memberikan bantuan dan kompensasi tunai, jaminan pelayanan kesehatan dan beasiswa untuk anak. Kesimpulan tersebut menyiratkan bahwa keadilan sosial yang ditawarkan sebuah organisasi pasca konflik belum tentu memberikan kepuasan dan hasil yang diharapkan. Oleh sebab itu, masyarakat Aceh bisa melakukan sebuah konsolidasi untuk menyamakan suara dalam mendapatkan keadilan yang mereka harapkan. Konflik memang bisa saja terjadi dimanapun dan kapanpun. Aceh, sebagai teritorial yang pernah mengalami konflik harus mengambil pelajaran ini. Ya’kub pun hadir disini hanya sebagai pengganti jembatan yang terputus antara harapan masyarakat Aceh dengan pemerintah. Oleh karenanya, tulisan Ya’kub bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Aceh secara khusus untuk menyuarakan keadilan.

Suara Pendidikan dan Anak Jalanan

Untuk mengatasi sebuah konflik sosial, pendidikan merupakan kunci utama dalam mengatasi permasalahan tersebut. Untuk mendapatkan pendidikan memang bukan persoalan yang mudah, tetapi pendidikan mampu mengarahkan bangsa ini untuk mendapatkan yang terbaik bagi diri mereka masing – masing. Salah satu fellow dari IFP menceritakan pengalamannya mengenai dunia pendidikan. Nor Jannah yang berprofesi sebagai seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Indonesia membagi pengetahuannya (sharing knowledge) tentang bagaimana membuat pendidikan itu menjadi lebih menarik dan interaktif. Nalurinya sebagai seorang pengajar membuat dia tampak luwes dalam menceritakan apa saja yang dibutuhkan dalam suatu pengajaran. Walaupun tulisannya lebih memfokuskan kepada sistem pengajaran bahasa asing, namun tulisannya bisa dijadikan pedoman untuk membuat skema pendidikan yang bermutu. Wilson Lalengke dalam kesimpulannya menyebutkan pendidikan adalah hal terpenting untuk mendorong Indonesia sebagai negara berdaulat. Untuk mendorong perwujudan negara berdaulat tersebut, pendidikan harus diserahkan kepada pendidik yang berkualitas, Bagi Nor Jannah (hal.195), untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, yang diperlukan adalah mengubah wajah sang pendidik menjadi educator yang kreatif. Dengan demikian, tidak hanya negara yang berdaulat yang bisa dicapai, tetapi kualitas sumber daya manusia juga bisa dapat terpenuhi.

Jika kita berbicara betapa pentingnya sebuah pendidikan maka itu berarti pendidikan menjadi sebuah kewajiban yang mau tidak mau harus dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia. Namun, pendidikan itu sendiri masih tampak ekslusif, sebab tidak semua warga negara Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Melihat masih adanya masyarakat yang belum mendapatkan pendidikan, Sukardi Weda (hal.241) menulis sebuah komunitas anak jalanan. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak jalanan masih dapat kita jumpai disekeliling kita. Kita harus ingat bahwa negara memiliki kewajiban memelihara anak – anak terlantar tersebut. Undang – Undang memang menyebutkan seperti itu, tetapi realitas menunjukkan ilustrasi yang berbeda. Namun demikian, perbedaan bukan menjadi penghalang untuk mewujudkan keadilan sosial dan Sukardi Weda melihat hal ini untuk mewujudkan keadilan sosial yang ideal.

Keadilan untuk Papua

Menarik memang jika kita mau melihat lagi esensi perubahan yang terjadi akhir – akhir ini. Perubahan untuk mendapatkan keadilan memang harapan setiap bangsa. Demikian Papua yang bila benar – benar dilihat secara kasat mata harus dibenahi baik secara struktur kelembagaan, sosial, maupun lingkungan sekitarnya. Papua merupakan provinsi yang kaya, tetapi masih menjadi pertanyaan mengapa rakyatnya masih terbelenggu dengan kemiskinan dan kehidupan yang masih primitif. Hal inilah yang membuat IFP juga concern untuk mengangkat anak – anak Papua terbebas dari kemiskinan dan belajar untuk bangkit dari keterpurukan di tanah Papua. Sepus M. Fatem dan Yubelince Runtuboi merupakan wakil dari anak – anak Papua yang belajar dan bersemangat untuk membangun tanah kelahiran mereka sendiri. Bagi mereka, kelestarian dan pengolahan hutan yang baik, yang berdasarkan community-based forest management, merupakan perwujudan dari pemikiran mereka dalam membangun sebuah negeri bagi kesejahteraan bersama. Semoga, Papua lebih maju dari yang sekarang.

*Peresensi: Rostamaji Korniawan, pemerhati masalah ekonomi, sosial, dan budaya. Postgraduate dari Pukyong National University.  

You might also like

Comments