Mengulas Destinasi Wisata dalam Penelitian

11

Judul               : Manajemen Destinasi Pariwisata

Pengarang       : Janianton Damanik & Frans Teguh

Penerbit           : Kepel Press

Halaman          : 122 halaman

ISBN               : 978-602-9374-28-5

 

Pada saat berdiskusi tentang pertumbuhan ekonomi, hal tersebut tidak akan terlepas dengan diskusi yang terkait tentang pariwisata, sebab pariwisata sendiri merupakan aktivitas yang juga melibatkan faktor – faktor produksi. Pariwisata di Indonesia lebih dominan mengandalkan kepada keunggulan nature dan culture. Hal tersebut akan menjadi tantanga tersendiri bagi pengelola pariwisata untuk mendesain destinasi wisata yang lebih atraktif. Apabila ini dapat dikembangkan, bukan tidak mungkin wajah destinasi pariwisata Indonesia akan selalu berkembang seiring dengan inovasi ekonomi kreatif dan demografi.

Untuk men-setting destinasi wisata yang dapat memberikan daya tarik lebih, pemerintah perlu melakukam koordinasi dengan masyarakat setempat untuk mengelola destinasi wisata tersebut secara profesional. Wujud destinasi wisata sendiri bisa dikategorikan kedalam dua bentuk, yaitu destinasi wisata alami dan destinasi wisata buatan yang memiliki nilai seni komersial. Dari kedua wujud destinasi tersebut, pemerintah dapat memilih destinasi wisata mana yang dapat memberikan manfaat lebih, seperti mendatangkan pendapatan dan devisa.

Berbicara tentang destinasi wisata, Damanik dan Teguh (2013) mendiskripsikan dan mengkaji bagaimana mengelola destinasi wisata yang prospektif dan ideal. Dalam bahasan destinasi wisata tersebut, mereka mengambil Flores sebagai destinasi wisata yang menarik untuk dibahas. Flores merupakan wilayah di salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat menarik. Pembahasan destinasi wisata di Flores dituangkan oleh mereka kedalam sebuah buku yang berjudul Manajemen Destinasi Pariwisata. Buku ini sebenarnya merupakan publikasi dari disertasi yang dibuat oleh Frans Teguh di Universitas Gajah Mada. Apreasi mereka terhadap potensi pariwisata di Indonesia bisa menjadi ukuran bagi pemangku kebijakan dan masyarakat untuk mengembangkan destinasi pariwisata di wilayah Indonesia lainnya.

Flores menyimpan kekayaan alam dan budaya yang identik yang mana hal tersebut berbeda dengan kawasan wilayah Indonesia lainnya. Jika melihat dari kultur yanng berkembang serta ras yang ada maka Flores hampir memiliki kesamaan yang kuat dengan budaya portugal. Hal ini disebabkan oleh sistem kolonialisme portugal yang pernah bercokol di tanah air. Dalam penelitian Frans Teguh, Frans mencatat dua obyek wisata alami yang ada di Flores, yaitu Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu (hal.99). Kedua destinasi wisata memiliki karakteristik tersendiri seperti adanya taman nasional komodo dan Danau Kelimutu. Sejak taman nasional komodo masuk kedalam jajaran tujuh keajaiban alam di dunia, taman nasional mulai banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Demikian pula Danau Kelimutu. Ciri dari danau tersebut adalah danau yang memiliki tiga warna yang berbeda. Kesan magis dari epos yang diceritakan masyarakat menjadikan Danau Kelimutu sebagai obyek wissata yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mempunyai ikatan kuat dengan nilai budaya lokal setempat.

Lebih jauh dari penelitian Frans Teguh, dia menemukan ketidakkonsistenan perkembangan destinasi wisata di Flores dengan program ekowisata yang telah dikembangkan sebelumnya. Mereka menemukan empat hal yang menyebabkan pengembangan destinasi wisata tidak konsisten dengan program ekowisata. Pertama, dibangunnya industri pertambangan emas. Namun, akhirnya keberadaan tambang emas tersebut dihentikan seiring banyaknya penolakan yang diajukan masyarakat. Kedua, adanya pembangunan hotel yang berskala besar dan padat modal. Hal ini bertentangan dengan konsep kelestarian lingkungan, sebab ekowisata sendiri mengutakaman pengembangan usaha kecil dan menengah yang dilakukan oleh penduduk setempat. Ketiga, pembukaan kawasan wisata di Flores menimbulkan dampak peningkatan jumlah pengunjung. Peningkatan tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas manajamen pariwisata, sehingga hal ini menimbulkan permasalahan. Dan keempat adalah ditemukanya ketidakharmonisan dalam menjalankan komitmen dan misi baik secara horisontal maupun vertikal (hal.108¾109).

Mengkritisi Destination Management Organization (DMO)

Jika melihat pengembangan destinasi wisata di tanah air, kawasan Indonesia bagian barat lebih banyak menikmati pengembangan tersebut dibandingkan kawasan Indonesia lainnya. Pengembangan destinasi wisata itu sendiri membutuhkan organisasi yang kapabel. Oleh karenanya, untuk mewujudkan Destination Management Organization (DMO) yang kapabel, ada tiga pendekatan nilai yang dipergunakan untuk mengembangkan destinasi pariwisata. Nilai pertama adalah pendekatan spiritual. Nilai kedua menggunakan pendekatan realitas sosiologis masyarakat. Dan untuk nilai yang terakhir, yaitu nilai yang ketiga adalah pengembangan pariwisata di tanah air yang menggunakan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan (hal.15¾19).

Ketiga nilai tersebut memang telah digunakan oleh pemerintah dalam mengembangkan DMO. Implementasi ketiganya memang tidak selalu berjalan bersamaan, sebab beberapa faktor juga turut mempengaruhi ketiga pendekatan diatas. Nilai religius menjadi bagian dari program pengembangan DMO karena nilai tersebut tercermin dari wajah masyarakat Indonesia yang cenderung bersifat religius. Kemudian, nilai sosiologis masyarakat menjadi bagian penilaian dalam menyusun konsep pembangunan pariwisata, sebab karakteristik masyarakat bisa menjadi milestone yang bisa diandalkan untuk mengembangkan destinasi wisata yang menarik. Bersamaan dengan nilai spiritual dan nilai sosiologis masyarakat, pengembangan wisata yang berkelanjutan akan melengkapi kedua nilai sebelumnya, sehingga pengembangan destinasi wiasata tampak akan menjadi lebih sempurna.

Dari ketiga nilai tersebut diatas, implementasi ketiganya kadang jauh dari apa yang diharapkan. Pengembangan DMO sulit diterapkan akibat benturan dari norma sosial, etika, peraturan, ataupun konflik kepentingan yang kadang sulit untuk diajak berkompromi. Perlu diketahui banhwa pengembangan pariwisata pasti akan menyentuh masyarakat setempat, sehingga pengembangan DMO mungkin akan berbenturan dengan nilai sosiologis dalam masyarakat. Pendekatan nilai sosiologis masyarakat memang telah dilakukan pemerintah, namun karena pendekatan tersebut jarang melibatkan masyarakat lokal, maka pengembangan DMO tidak berjalan secara efektif. Kurangnya motivasi dalam mengembangkan DMO di beberapa wilayah Indonesia, terutama kawasan timur Indonesia, menyebabkan kurang berkembang sektor pariwisata di kawasan tersebut. Oleh sebab itu, alangkah baiknya, apabila pemerintah lokal setempat dapat membuat mapping serta laporan implementasi yang akurat guna mewujudkan DMO yang berkualitas, sebab dari sinilah kualitas pariwisata Indonesia dapat dimulai.

*Peresensi: Rostamaji Korniawan, pemerhati masalah ekonomi, sosial, dan budaya. Postgraduate dari Pukyong National University.  

You might also like

Comments