Perspektif Perubahan

10

Judul               : Let’s Change

Pengarang       : Rhenald Kasali

Penerbit           : PT Kompas Media Nusantara

Halaman          : x hal & 278 hal.

ISBN               : 978-979-709-794-3

Untuk merubah diri sendiri memang bukan perkara mudah. Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, Rhenald Kasali menuangkan berbagai ide tentang apa yang seharusnya diubah pada wajah Indonesia. Indonesia menyimpan berbagai macam permasalahan dan perubahan merupakan sebuah tuntutan yang seharusnya bisa dijalankan oleh setiap orang. Mewujudkan perubahan melalui perkataan mungkin sebuah hal yang bisa dilakukan, tetapi ketika perubahan tersebut dihadapkan pada kehidupan kita, hampir semua akan mengalami apa yang namanya resistensi. Bung Rhenald Kasali mengingatkan kembali melalui kumpulan tulisan – tulisan yang pernah dia publikasikan pada sebuah media cetak nasional. Tulisan tersebut bisa menjadi, tidak hanya bahan renungan tetapi juga menjadi bahan evaluasi apakah kita sudah menyakinkan diri kita untuk berkomitmen berubah atas kesadaran yang bangkit dari diri kita sendiri.

Setiap tulisan yang Bung Rhenald Kasali sampaikan selalu disampaikan secara lugas dan menarik. Pengalamannya dalam mensurvei berbagai informasi yang terkait dengan dunia usaha dibaurkan dengan harapan yang seharusnya bisa diterapkan pada Indonesia. Permasalahan birokrasi, ekonomi, sosial, politik, kepemimpinan, manajemen, dan pendidikan menjadi perhatian utama Bung Rhenald. Bagi Bung Rhenald sendiri, masalah merupakan hal yang wajar dimana manusia diciptakan oleh Tuhan untuk memecahkan masalah tersebut. Namun demikian, Indonesia tampaknya masih berkutat dari apa yang ada sekarang tanpa ada kemajuan yang cukup berarti. Prof. Michael Porter melalui pandangan kritisnya mengungkapkan suatu penilaian dimana orang – orang Indonesia mampu untuk membuat sebuah daftar permasalahan yang dihadapinya, namun permasalahan tersebut berhenti sampai pada daftar tersebut tanpa ada gerakan untuk menuntaskannya (hal.178).

Permasalahan di Indonesia juga disebabkan oleh inefisiensi birokrasi. Dalam salah satu artikelnya, Bung Rhenal menulis tentang inefisiensi birokrasi yang diberi judul Birokrasi Tanpa “Breaktrhough” (hal.207-210). Tulisan tersebut telah diterbitkan harian Kompas pada tanggal 24 Juli 2007. Jika diperhitungkan sampai hari ini, inefisiensi birokrasi tampaknya masih tampak terlihat pada birokrasi kita. Yang menjadi pertanyaan, apa yang harus dituntaskan disini? Birokrasi mungkin terlihat gamang untuk bisa menemukan kunci keberhasilan, tetapi usaha yang keras bukan suatu hal yang tidak mungkin tidak bisa dijalankan. Perlu suatu “breakthrough” yang menonjol, baik dari peran, sistem, maupun gagasan, sehingga tujuan yang sudah direncanakan dapat terukur jelas dari hasil dan prosesnya. Kita hanya berharap mesin birokrasi yang bekerja saat ini dapat bekerja secara profesional, terlebih sejak reformasi birokrasi yang telah digulirkan beberapa tahun yang lalu.

Memoles Pendidikan

Selain birokrasi, pendidikan juga tidak luput dari perhatian Bung Rhenald. Siapa yang tidak pernah mengenyam pendidikan? Saya berpikir hampir semua masyarakat Indonesia pernah merasakan dengan apa yang namanya pendidikan, walaupun dengan level yang berbeda – beda.  Pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam hidup seseorang, sebab pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat mandiri dan mengisi kehidupan ini dengan penuh makna. Namun demikian, pendidikan juga masih mengalami berbagai macam hambatan. Perubahan merupakan kata kunci sukses untuk melihat kualitas pendidikan yang sebenarnya. Perubahan pada bidang ini harus meliputi perbaikan pada kualitas penyediaan fasilitas, tenaga pengajar, bahan ajar, maupun proses pendidikan itu sendiri. Tanpa tenaga pendidik, pendidikan tidak akan jalan. Demikian pula, tanpa proses yang tepat, pendidikan akan berjalan tanpa arah yang jelas. Oleh karenanya, gerakan perubahan yang harus dilakukan pada dunia pendidikan adalah menekankan kepada perubahan kurikulum, perubahan sikap orang tua dan tenaga pendidik, transformasi proses belajar, dan perubahan cara berpikir.

Dengan pendidikan, harapan yang dituju adalah mendapatkan generasi yang disiplin dalam mematuhi aturan dan rambu – rambu yang telah ditetapkan. Pendidikan akan mengajarkan kita untuk lebih memahami hidup dengan menjunjung tinggi sifat kejujuran dan menjaga kehormatan. Kejujuran tersebut tentu akan ditandai dengan menghasilkan karya akademik tanpa berkuat kecurangan. Kepandaian yang diperoleh dalam pendidikan menjadi batu yang telah terasah, sehingga tindakan plagiat terhadap karya cipta (hal.128―131) dapat  dihindari.  Semua orang tua pasti berharap anaknya dapat meneruskan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Semua itu belumlah cukup. Kita mengingkan tenaga pendidik yang yang berkualitas sekaligus inspiratif (hal.137―141) dan bukan guru yang tidak berimprovisasi. Tanpa improvisasi, pendidik hanya berperan sebagai seorang pemburu (hal.133). Pendidik yang lebih mementingkan insting buruannnya tidak tepat dikatakan sebagai seorang pendidik. Apabila ini terus dibiarkan, banyak generasi anak didik kita yang akan menjadi generasi yang tidak open minded. Mereka bisa saja pintar, tetapi tertutup (hal.142―146). Oleh karena itu, tuntutan pendidikan yang berkualitas harus sering digaungkan, sebab masih banyaknya program pendidikan yang tidak mengajarkan kepada hal – hal yang bersifat kreatif. Guru atau pun dosen yang masih bersifat statis terhadap kurikulum tidak akan dapat bersaing dengan tenaga pendidik yang kreatif. Dengan hadirnya tenaga pendidik yang kreatif bukan tidak mungkin inovasi akan muncul dari sini.

Change Mindset

Melihat buku “Let’s Change,” karya Rhenald Kasali ini, perubahan semakin mantap untuk harus kita lakukan. Kata berubah yang terus dicamkan dalam pikiran kita bahwa berubah!, berubah!, berubah!,  adalah proses penanaman kepercayaan kepada diri kita untuk terus menjadi yang terbaik, setidaknya bagi diri kita sendiri. Perubahan merupakan penentuan nasib hidup kita, sebab perubahan akan menuntun hidup kita menjadi lebih adaptif dibandingkan hidup yang selalu dihantui dengan resistensi. Namun demikian, opini Bung Rhenald merupakan himbauan yang implementasinya diserahkan kepada kita masing – masing. Hanya saja, sebagai generasi yang hidup pada abad millenium, perubahan tetap merupakan konsekuensi yang harus kita lakoni.

*Peresensi: Rostamaji Korniawan, pemerhati masalah ekonomi, sosial, dan budaya. Postgraduate dari Pukyong National University.  

You might also like

Comments