Hadiah Happy Coda Dari Frau

11

Eksekutif Produser     : Joan Miyo Suyenaga

Produser                          : Leilani Hermiasih

Ko-Produser                   : Yes No Wave Music

Pencipta lagu, keyboard dan vokal: Leilani Hermiasih

Lagu                                  : 8 lagu

Ilustrasi foto                : Edwin Roseno

 

Musik, siapa yang tak suka dan tak pernah bermusik? Bermusik tidak selalu memainkan sebuah alat musik atau paham dengan notasi dan chord, paling tidak menyanyikan sebuah lagu meski dengan suara parau dan terdengar seperti berbisik karena ragu mungkin suaranya tak patut untuk diperdengarkan khalayak sudah bisa dibilang bermusik, bagi saya. Membandingkan musik dengan film apalagi buku tentu sudah jelas berbeda dari fisiknya hingga sarananya. Tapi ada beberapa kesamaan dalam sifatnya.

Film, buku, dan musik memiliki sifat-sifat yang sama diantaranya sebagai sarana atau media hiburan (termasuk kegemaran atau hobby), pembelajaran, dan sarana penyampaian pesan. Apalagi film, barangkali masyarakt kita secara konstruktif menyetujui bahwasanya film dibuat untuk tujuan hiburan semata. Meskipun nyatanya film kini juga popular sebagai media pembelajaran dan menyampaikan pesan-pesan moral. Begitupun buku tak disangkal banyak penulis-penulis yang mencurahkan gagasan pemikirannya demi kemajuan dunia literasi kita. Buku menjadi media utama sebagi pembelajaran (edukasi) dan sebagai sarana menyampaikan pesan. Bahkan sering sekarang ini kita jumpai penggabungan dua sarana ini, yakni buku dan film dalam bentuk memfilm-kan buku atau membukukan film. Bagaimana dengan musik? Musik tak kalah fungsi sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran dan penyampaian pesan. Musik bahkan saat ini melengkapi kehadiran buku dan terutama film.

Buku dan film banyak mendapat kolom dalam berbagai media literasi (media massa baik cetak maupun elektronik). Dalam keseharian kita bisa lihat film dan buku bergantian hadir mengisi kolom-kolom tersbut. Namun musik sepertinya masih sedikit kaku padahal musik adalah bagian paling alami dan paling luwes dalam keberagaman sarana ini. Maka dengan ini saya beranikan diri untuk mengulas sebuah album musik yang layak untuk diketahui dan didengarkan khalayak bukan saja karena musiknya yang berkualitas tetapi lirik yang dikandung dan digubah sang pelagu.

Leilani Hermiasih yang memilih nama dalam berlagu Frau, seorang gadis kelahiran dan besar di Jogja. Ia belajar dan memang diuntut untuk belajar memainkan alat musik piano oleh ibunya yang kemudian justru menjadi alatnya untuk menusuk dada kita dengan lagu-lagu ringan tapi punya makna dalam. Setidaknya begitu yang diucapkan oleh beberapa orang. Frau yang mengawali debut sekitar 2-3 tahun yang lalu dengan album Starlit Carousel yang merayap menyergap telinga-telinga peka yang mampu menangkap musik yang indah dengan pianonya, hanya pianonya.

Kini Frau kembali dengan album kedua yang dia suguhkan dalam paket Happy Coda. Ia pemusik dan pelagu yang tidak pernah tidak bosan dengan musik. Setelah debut ia memiliki waktu senggang untuk tidak terlalu berurusan dengan musik terutama panggung. Barangkali ini juga yang mampu saya tangkap dari lagu Tarian Sari yang jadi lagu keempat dalam album. Tarian Sari saya kira menjadi wakil Frau dalam absennya dari dunia “manggung.” Tarian Sari yang mengisahkan seorang nenek penari yang terlihat letih menari lalu terbit kembali gairah tarinya lantaran cucunya menarik-narik sampur Sari dan menari-nari dengan sampurnya. Sebuah kebahagiaan sederhana yang mampu ditangkap dan dihayati Frau.

Dengan total delapan lagu yakni Something More, Water,Empat Satu, Tarian Sari, Mr. Wolf, Arah, Suspens, dan Whispers Frau ingin mengemas kebahagiaan kecil yang ia rasa dan lihat (menginspirasi) kedalam lagu-lagu ini. Happy Coda sendiri bagi Frau tidak dimaksudkan untuk member pengertian “akhir yang bahagia atau happy ending.” Kata Coda yang merupakan bahasa Italia berarti ekor menjalin makna sebagai pengantar ke bagian akhir. Sehingga menurut Frau lagu-lagu ini tidak mengantarkan pendengar pada kisah akhir dari lagu-lagu tetapi menjadi pengiring dari kisah tokoh-tokoh yang ia temui dan imajinasikan. Seperti judul Empat Satu yang saya yakin terinspirasi dari permainan kartu Empat Satu (cara lain memainkan kartu poker).

Frau mengemas semua lagu dengan alat musik yang sama, piano, dan hanya piano. Dengan latar Namun, tak perlu diragukan musiknya akan menjadi monoton dan tak nyaman atau membosankan untuk didengar. Jika tak cukup paham dan kuat untuk mendengaran komposer kenamaan macam Mozart, Bach, Beethoven, atau Chopin maka saya sarankan untuk menikmati musik Frau yang tak menjadi kecil lantaran tak punya nama sebesar komposer yang sudah saya sebutkan. Kesederhanaan dan kesahajaan musik maupun lirik atau Frau sendiri akan membawa kita pada suasana yang santai dan kuat perasa.

Melalui album ini Frau memberikan catatan salam mengenai proses kreatif. Ia menuliskan kebahagiaan kecil yang mungkin sering kita lupa dan abai. Melalui catatannya pula kita tahu bahwa musik pun tak jauh dari dunia literasi dimana menulis dan membaca pun menjadi bagian bermusik. Akhirnya saya ucapkan selamat menikmati musik Frau dan salam dari Frau “selamat menemukan”.

*Pengulas: Lisvi Naelati Fadlillah, Mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM), penggiat komunitas penikmat buku BOOKLICIOUS kota Malang dan Reading Group for Social Transformatif (RGST) Kota Malang.

Comments