Polemik Kehidupan Seorang Syekh

5

Judul: Surga Sungsang

Penulis: Triyanto Triwikromo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Maret 2014

Tebal: 144 Halaman

ISBN: 978-602-03-329-1

 

Kehidupan membuat orang menjadi mengerti, ada seseorang yang ingin sekali kekuasaan dan juga ada seseorang yang ingin membunuh kekuasaan itu. Seperti yang dipaparkan oleh Triyanto Triwikromo dalam novelnya yang berjudul Surga Sungsang. Triyanto Triwikromo, dengan tulisan kreatifnya berhasil memperoleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa dalam buku Ular di Mangkuk Nabi. Novel Surga Sungsang merupakan kesatuan dari cerita yang pernah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, dan Jurnal Perempuan dengan adanya perubahan judul dalam beberapa cerita.

Surga Sungsang menceritakan kehidupan yang sungsang atau terbalik. Pengarang memasukkan idiom agama Islam dalam novel ini, seperti Allah, malaikat, surga, dan syeh, yang merupakan bumbu dari polemik dalam novel Surga Sungsang. Syeh Muso namanya, dia dianggap panutan oleh penduduk ujung tanjung, namun dia dianggap sesat oleh saudaranya, yaitu Syeh Bintoro.

Syeh Muso bukanlah Nabi Musa, namun Syeh Muso mempunyai mukjizat seperti Nabi Musa. Hal itulah yang membuat Syeh Muso menjadi panutan oleh penduduk. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibakkan air laut dengan tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa. (hal. 9)

Kehidupan mereka unik, dengan diangkatnya kebiasaan orang Jawa dahulu, yaitu nyekar atau sekedar berkunjung ke makam junjungan orang-orang Jawa yang mereka anggap panutan dalam hidup. Seperti halnya pada Syeh Muso, setelah Syeh Muso wafat, penduduk ujung tanjung maupun penduduk luar tak pernah lupa untuk mengunjungi makam Syeh Muso. Makam itu tak pernah sepi dari pengunjung meskipun letak makam itu harus dijangkau dengan kapal dan harus melewati hutan bakau serta hamparan burung-burung bangau. Konon, makam itu sering memperlihatnya cahaya berwarna hijau kepada peziarah.

Namun, tak semua orang menganggap kebiasaan itu baik dan harus dilestarikan. Abu Jenar, ingin sekali menghancurkan makam itu. Kiai Siti —tetua kampung—dan Kufah tidak setuju dengan rencana penghancuran makam sesepuhnya itu. Mereka menganggap Abu Jenar merupakan suruhan orang kota untuk menghancurkan makam Syeh Muso guna pembangunan sebuah resor. Masalah besarpun terjadi pada saat genting ini. Setiap tokoh menghadapinya dengan sikap yang berbeda.

Pengemasan cerita dengan baik dan apik, Triyanto Triwikromo mampu memberikan nilai positif terhadap syeh pada masa itu. Tak perlu membacanya berulang kali, karena dengan alur campuran, Triyanto mampu memaparkan peristiwa dengan jelas pada novel tersebut. Ditambah dengan penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Nikmati keindahan dalam novel ini, novel yang menggugah selera untuk dibaca.

Peresensi: Karla, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta

You might also like

Comments