Aku dan Desaku

7

Oleh: Sulis Tya*

SIANG yang berapi tiada lelah temani hari. Senandung angin bahkan kesejukkannya tak lagi menampakan diri. Itulah perumpaan hati yang kini Najwa rasakan. Penuh emosi, sedih, dan ilusi menohok sanubari.

Najwa, gadis belia berusia 17 tahun. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yag periang, santun, dan pengertian. Hampir semua orang menyukai kepribadiannya, baik di sekolah, rumah, maupun masjid tempat mengajinya. Begitupun Najwa, ia pun menyayangi dan menghormati tiap jiwa yang menyayanginya, baik yang lama telah dikenalnnya, ataupun baru sedetik berkenalan dengannya.

Memang beda dengan biasanya, saat bel sekolah pertanda pelajaran sekolah usai, rupanya ada siswa lain yang menyenggol sepeda kayuhnya hingga jatuh dan keranjangnya pecah. Tanpa pikir panjang akhirnya dia memutuskan untuk enyah dari tempat parkir ini. Dan melupakan segala kejadian menyedihkan ini.

Gerbang SMA Negeri 2 Lamongan telah ditinggalkannya. Kini dia memacu sepeda kayuhnya menuju perpustakaan umum dekat sebuah terminal. Dikayuhnya sepeda itu dengan kencang, sebab setengah jam lagi perpustakaan tersebut akan ditutup.

Brak! suara sepeda kayuh milik Najwa yang ditabrak sepeda motor ninja oleh seorang pria bertubuh jangkung.

“Maaf Pak, saya tidak sengaja karena saya terburu-buru, mohon maafkan saya,” ucap Najwa sembari memegangi lengannya yang terluka.

“Oh tidak tidak, Dek, malah saya yang seharusnya minta maaf karena saya yang salah. Adek tidak apa-apa?” ucap Pria bertubuh jangkung itu dengan membetulkan sepeda kayuh milik Najwa yang oleng.

“Tidak, hanya lengan saya sedikit sakit terbentur setir sepeda. Ya sudah, Pak saya pamit pergi dulu” ucap Najwa sambil menuntun sepeda kayuhnya dan menunduk lesu.

Seketika itu pria jangkung itu hanya memandangi punggung Najwa hingga larut termakan jarak. Akhirnya pria itu sadar bahwa dirinya salah dan berniat mencari keberadaan Najwa. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan petugas kebersihan bernama Pak Romo. Dia bermaksud hendak bertanya di mana letak alun alun kota berada. Namun, pria ini sudah dua kali mengelilingi daerah tersebut tapi tak jua berjumpa dengan Najwa. Maklumlah, pria ini belum hafal seluk beluk jalanan kota ini

Akhirnya pencarian panjang ini menunjukkan hasil. Tepat di alun-alun kota Lamongan pria ini bertemu dengan Najwa. Sontak Najwa pun hendak kabur karena takut bila orang tersebut memarahinya, atau barangkali meminta sepeda kayuhnya.

“Assalamu’alaikum Dik, maaf sebelumnya, bolehkah saya duduk di sini?” ucap pria bertubuh jangkung dengan tersenyum.

Najwa melirik kawasan sekitar cermat cermat memastikan bahwa di sini masih banyak orang yang berkeliaran. Takutnya pria ini seorang mata-mata, atau bisa juga maling yang korbannya anak anak SMA.

“Wa’alaikumussalam, ya silahkan duduk, Pak.” kata Najwa sambil memberi tempat pada pria tersebut.

Sepuluh menit tengah berlalu dalam hening. Dia hanya sesekali melirik tingkah pria bertubuh jangkung yang berulang kali membongkar tasnya seperti mencari sesuatu yang berharga.

“Adik punya bolpen, boleh saya pinjam?” tanya Pria bertubuh jangkung.

Akhirnya Najwa mengulurkan sebatang bolpen yang tintanya agak tak lancar, alias sekarat dan tersendat-sendat.

Setelah itu pria itu memperkenalkan dirinya pada Najwa. Tentang namanya, tempat  kuliahnya, hobinya, dan permintaan maafnya karena tidak sengaja telah menabrak Najwa yang tak bersalah itu. Dia pun menceritakan rasa bersalahnya hingga mencari Najwa dan berkeliling kelilng di kota yang baru kali pertama ditapakinya.

Setelah mengetahui nama pria itu, Najwa pun memanggilnya kak Salman. Nama lengkapnya Salman Firdaus Ramadhan. Dia tak menyangka kalau usia kak Salman hanya beda dua tahun darinya. Jadi dia merasa langsung akrab dan tak mencurigai sosok misteriusnya yang datang secara tiba-tiba.

Dengan memberanikan diri, Salman pun menanyakan hobi Najwa dan kesibukannya. Najwa menceritakan bahwa dia sangat gemar menulis tentang sejarah sebuah daerah di tanah kelahirannya.

“Oh ya, sebelum kamu malanjutkan cerita, memangnya kamu tinggal di mana?” tanya Salman.

Aku tinggal di Desa Lopang, tepatnya di Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan. Desaku ini memiliki banyak keunikan lho. Bukan hanya dari segi geografis, tapi juga psikis. Desa Lopang memiliki kepanjangan yang sangat unik yang berasal dari tiga kata, yaitu Wit Loe Ngepang. Kalau disingkat, jadinya Lopang. Wit loe ngepang itu bisa diartikan pohon yang namanya Loe dan bercabang-cabang. Konon, pohon Loe ini memiliki banyak cabang dan sangat panjang. Umur pohon ini pun mencapai angka lima puluh tahunan. Daunnya bak daun mangga, dan tidak berbuah. Dulu, jumlah pohon ini sangat banyak tumbuh di kanan kiri jalan. Namun, kini tak satupun batang pohon Loe tersisa di desa ini. Padahal aku sangat penasaran seperti apa rupa pohon Loe itu. Sampai-sampai dijadikan nama desaku” terang Najwah sambil bersedekap.

“Terus, bagaimana kondisi masyarakatnya, oleh-oleh favoritnya, dan prestasi-prestasi yang berhasil diraih?’

“Ehm, baiklah akan kujelaskan. Warga desa Lopang sangat terkenal ramah, rukun, saling tolong menolong, dan religius juga. Rumah penduduknya tersusun rapi dan tidak semena-mena. Bahkan, pondasi rumah warganya pun tingginya sama rata sehingga bila terjadi hujan tak ada rumah warga yang kebanjiran atau tergenang.

Kalau oleh-oleh favorit, kamu mesti mencoba bagaimana rasa manis, sepatnya buah juwet yang siap mengoyak lidah.

“Juwet? Apa itu juwet, buah yang aneh. Baru kali ini aku mendengarnya. Imajinasiku berkata kalau buah juwet itu pasti beracun, bahkan bisa mematikan. Kalau orang bilang apalah arti sebuah nama, bagiku itu salah besar. Kalau nama buah juwetnya saja aneh gitu, apalagi rasanya, pasti tak enak,” kata Salman.

Mangkannya dengarkan dulu ceritaku dan  jangan disela,” jawab Najwa ketus.

Aku tak habis pikir, bisa-bisanya kak Salman tak tahu apa itu buah juwet. Buah ini berwarna ungu gelap. Berbentuk lonjong dan besarnya kira-kira se-ibu jari kita. Kalau rasa jangan ditanya, sudah tentu manis dan memiliki banyak kasiat bagi tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi buah juwet dapat mengurangi diabetes. Selain itu buah juwet pun tergolong tanaman langkah yang perlu dilestarikan. Sehingga jangan kaget kalau harga per kilonya mencapai lima belas ribu rupiah. Oh ya, kebun buah juwet pun pernah beberapa kali diliput oleh Trans Tv dalam berita sore. Jadi, kalau kak Salman belum tahu buah juwet, sebaiknya tahun depan perlu mencobanya, karena buah ini tergolong buah musiman, yakni ada saat musim kemarau saja.

Oh ya, kalau tentang religius jangan ditanya lagi, setiap sholat jama’ah pasti masjid di desa ini terisi penuh oleh lautan manusia. Di Lopang memiliki tiga masjid yang megah dan bangunannya mirip seperti Taj Mahal, India. Banyak acara diadakan demi memakmurkan masjid yang megah ini, salah satunya diadakan kajian rutin ba’da isya’ tiap akhir bulan Masehi yang dihadiri oleh anak-anak hingga manula.

Sejenak Salman terdiam.

“Hei Kak Salman, kenapa diam. Aku sudah menjawab semua pertanyaan kakak, sekarang boleh dong aku tanya tentang daerah Kakak.”

“Tidak usah,” jawab Salman

“Kenapa?”

“Aku tak mau bercerita

“Orang aneh,”

Setelah capek mengelak dari pertanyaan Najwah, akhirnya dia pun menceritakannya.

Aku sungguh malu padamu. Engkau sangat hebat, mengerti betul akan asal usul daerahmu, tanah kelahiranmu, dan wilayah  napas hidupmu. Aku kagum pada caramu bercerita sehingga aku mampu mencerna apa yang kau katakan. Setelah mengenalmu, sepertinya aku perlu banyak belajar tentang seluk beluk daerahku. Agar aku bisa mencintai tanah airku dan bisa menceritakannya padamu.

Memang benar yang Kak Salman katakan, banyak dari golongan remaja yang lebih bangga memakai produk luar negeri daripada produk milik Negara sendiri. Itu semua terjadi karena kita tidak mengerti seluk beluk daerah sendiri. Kita lebih menyibukkan mencari koleksi produk impor keluaran terbaru dan tak mau ketinggalan. Ah, kalau sudah begini, lantas siapa yang akan peduli pada bangsa ini.

Sejenak keduanya terdiam. Menarik napas dalam-dalam.

Baiklah, karena tadi aku menabrakmu, maka izinkan aku menebus kesalahanku. Cerita yang kau paparkan padaku, setujukah bila kita angkat menjadi sebuah buku yang kau tulis sendiri dan aku yang menerbitkan. Oh ya, aku belum cerita kalau aku kini kuliah sambil bekerja di salah satu usaha penerbitan buku. Mungkin dengan buku ini dapat menginspirasi khusunya para remaja, untuk lebih mencintai daerahnya, dan mengetahui asal usul daerahnya. Bagaimana?

Najwa sangat kaget mendengar penjelasan Salman yang sekaligus membuat hatinya girang. Akhirnya dia langsung menerima tawaran tersebut dan sujud syukur pada Allah atas nikmat yang diterimanya.

Ehm, sudah adzan ashar, ayo kita sholat ashar di masjid itu.

*Penulis merupakan siswi SMA Negeri 2 Lamongan

You might also like

Comments