Qori : Yang Penting Semuanya Dikerjakan dengan Sungguh-sungguh!

16

Penampilannya sederhana. Wajahnya yang ceria dan matanya yang bulat dihiasi kacamata berbingkai persegi panjang. Sorot mata dan senyumnya menampakkan kecerdasan dan kesederhanaan. Kesederhanaan inilah yang mengantarkannya menjadi wisudawati terbaik tingkat universitas dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,96.

Isnatul Chasanah, Redaktur Pelaksana Media Mahasiswa

Ditemui di laboratorium biologi, Qori Aulia tampak sedang berbincang dengan beberapa staff laboratorium. Wajahnya terlihat sumringah ketika mempersilahkan kru Media Mahasiswa untuk masuk ke bagian dalam lab yang banyak berisi torso tulang dan tengkorak manusia itu.

“Awal masuk biologi itu nggak sengaja ya. Dulu waktu SMA saya jurusan IPA, jadi harus meneruskan ke eksak karena nggak bisa IPS. Bahkan sempat mau ikut-ikutan teman yang banyak ke (jurusan) kesehatan, tapi banyak pertimbangan. Di beberapa PTN (Perguruan Tinggi Negeri, Red.) juga nggak lolos, jadi ya ke UMM (Universitas Muhammadiyah Malang, Red.) ambil biologi,” ujarnya memulai kisah.

Ia mengaku pasrah ketika akhirnya resmi menjadi mahasiswa jurusan biologi, karena ia lebih menyukai fisika dari pada biologi. Menurutnya, biologi adalah pelajaran yang menuntut kuatnya memori hafalan. Sedangkan, Qori adalah tipe orang yang tidak mudah menghafal. Ia mudah paham apa yang dijelaskan guru tapi langsung lupa ketika tidak mempelajari ulang materi yang telah diajarkan.

“Jadi kalau saya itu lebih sering sistem kebut semalam ya kalau mau ujian,” urainya sambil tertawa.

Ditanya mengenai cita-cita, perempuan penyuka warna biru ini mengaku hobinya adalah menggambar desain. Bakat ini dituruninya dari ibunya yang berprofesi sebagai penjahit. Tapi karena kurang mendapat izin dari sang ayah untuk menuntut ilmu di bidang desain, maka pilihannya jatuh pada pendidikan biologi UMM, mengikuti jejak sang ayah sebagai guru.

“Tapi sebenarnya saya tidak ingin menjadi guru. Biologi sendiri ‘kan terbagi dua ya, ada yang lebih ke pendidikan, ada yang murni. Kalau saya lebih tertarik mendalami biologi murninya,” ujarnya menerangkan. Ketertarikannya ini bisa dibuktikan dari skripsinya yang berjudul “Pengaruh Sari Buah Nanas dan Lama Penyimpanan terhadap Jumlah Koloni Bakteri dan Kadar Protein Ikan Bandeng dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Belajar Biologi”.

Mengenai pengerjaan skripsi, Qori mengaku pengerjaan skripsinya ini terhitung cepat, yaitu hanya memakan waktu 2 bulan. Qori mengakui ada beberapa hambatan ketika ia memulai pengerjaan skripsi. Ketika SK pengerjaan skripsi turun pada bulan Februari 2014 lalu, Qori langsung mendaftar. Tapi ternyata salah satu dosen pembimbing skripsinya menolak untuk membimbingnya.

“Waktu itu salah satu dosen pembimbing menolak membimbing skripsi saya, karena beliau ingin menyelesaikan skripsi mahasiswa di (tingkat) atas saya dulu,” terang dara kelahiran Nganjuk, 16 Februari 1992 ini.

Barulah di awal semester 8, perempuan berkulit cerah ini bisa memulai pengerjaan skripsi setelah mendapat kesanggupan bimbingan dari 2 dosen pembimbing yang salah satunya adalah dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu. Namun, kesibukan Qori sebagai asisten koordinator untuk mata kuliah praktikum di laboratorium biologi membuatnya harus berhenti mengerjakan skripsi selama 1 bulan.

“Tapi setelah itu saya ngebut mengerjakan skripsi dan melakukan penelitian kurang lebih 2 minggu. Setelah itu, saya mendaftar ikut ujian skripsi di akhir Agustus. Padahal, waktu itu batas pendaftaran sudah mepet, tapi saya nekat maju saja,” ceritanya.

Menurut Qori, tidak ada trik khusus saat kuliah, juga ketika mengerjakan skripsi. Ia mengaku kesibukannya menjadi instruktur di laboratorium cukup padat.

“Pekerjaan lab, seperti mengoreksi tugas praktikum, harus dikerjakan di lab, selesai tidak selesai. Kalau sudah pulang, ya saya mengerjakan tugas dan keperluan kuliah, bukan lab lagi, “ bebernya.

Bahkan, ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi wisudawati terbaik di tingkat fakultas, bahkan universitas. Ia hanya bahagia karena mampu membanggakan kedua orangtuanya.

Disinggung mengenai pengerjaan skripsi yang menjadi momok bagi mahasiswa tingkat akhir, Qori mengaku itu bukan hal yang harus dibuat pusing dan berat.

“Yang penting, selalu sediakan waktu untuk skripsi. Meskipun tidak menulis, membaca saja, yang penting jangan sampai dalam sehari tidak menyentuh skripsi,” ujarnya membagi tips.

Kini, setelah resmi lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan, Qori masih mengabdikan diri sebagai instruktur di laboratorium biologi selama satu semester ke depan sambil mencoba peluang untuk mendapatkan beasiswa demi melanjutkan pendidikan ke tingkat Pasca Sarjana.

“Untuk adik-adik, apapun itu, kerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Kerjakan dan selesaikan yang paling dekat dengan deadline, baru mengerjakan urusan yang lain setelahnya. Juga, saya ingat betul nasihat dosen pembimbing (skripsi), harus ikhlas! Meskipun bimbingan sering dimarahi, tapi kerjakan terus setiap hari, jangan berhenti!” pesannya menutup wawancara. (ic)

You might also like

Comments