Sekekal Embun

3

Aku terus melihatnya. Bahkan dengan jarak puluhan meter pun mataku mampu mendeteksi orang yang ku cari di kerumunan itu.

Aku menatapnya tanpa terlewat satu detik pun. Seakan orang itu akan hilang jika sekali saja aku mengedipkan mata.

Apa aku menyukai orang itu? Tidak. Aku membencinya. Sangat membencinya.

 

~~~

 

“JELEK amat tampang kalian. Habis ngapain, sih?” Candra mengamati teman-temannya, diam sebentar. “Eh, lupa! Kalian dari dulu emang jelek ya. Hahaha!”

“Jangan rusuh! Habis ulangan, nih. Kayaknya aku salah lima deh, eh, apa tiga ya?”

“Nah, kamu yang pinter salah segitu, apalagi aku yang anti angka, rumus, dan sebangsanya.” Siang itu, Candra, Dira, dan Tian duduk bersila di koridor depan kelas. Mereka tiga sahabat yang unik. Satu perempuan tangguh dikelilingi dua laki-laki yang.. Ehm, cupu? Bukan, tapi sedikit pengecut. Apalagi kalau soal perempuan. Dira dan Tian satu kelas, Candra di kelas sebelah. Kemana-mana bertiga. Saking akrabnya, Dira dan Tian diduga punya hubungan khusus. Dira berkali-kali menyangkal anggapan teman-temannya bahwa Tian meyukainya, sampai pernah pada satu waktu yang membuat kabar itu benar adanya. Mereka bermain “Truth or Dare”. Saat ujung pensil yang mereka putar berhenti dan menunjuk ke arah Tian, Tian memilih “Truth”. Dira dan Candra langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Tian berjalan ke masa lalu.

“Siapa nama perempuan di sekolah ini yang pernah kamu suka, dari kelas 1 sampai kelas 3?”

“Umm, kelas 1 ya.. Mmm.. Maria sama Keke. Kelas 2, suka sama Tari. Kelas 3, siapa ya.. Umm, Firda sama Ida.”

“Yakin sudah disebut semua?”

“Hmm, sebenarnya.. Masih ada. Ada satu yang aku suka, dari kelas 1 sampai kelas 3.”
“SIAPA?!”
“Dira. Adira Almetta.”

Sejak rahasia yang Tian simpan sendiri selama bertahun-tahun itu terbongkar, tidak ada yang berubah. Tidak ada rasa canggung antara Dira dan Tian. Mereka bertiga tetap akrab sebagaimana adanya. Bedanya, sekarang ada Dennis yang bergabung bersama mereka. Dennis sekelas dengan Candra. Dia yang paling kalem di antara mereka berempat, bisa jadi yang paling terkenal juga. Dia (katanya) manis, jadi lumayan banyak perempuan bodoh yang jatuh padanya. Termasuk salah satu perempuan di kelas Dira dan Tian. Katanya, Dennis dan perempuan itu dekat, entah dekat seperti apa yang dimaksud. Menurut pengakuan Dennis, ia menyebutnya Bella.

Dira sering merebut ponsel Dennis untuk melakukan tindakan tercela; mengintip isi pesan singkatnya.

Bella. Bella. Bella. Bella. Bella.

Isi pesannya untuk dan dari Bella semua! Tian juga pernah bertanya pada Bella, “Kamu suka sama Dennis?”

Bella tersenyum kecut, “Aku sudah pernah bilang, kan? Jatuh hati sama anak di sekolah yang sama itu nggak menarik. Lagi pula, aku membencinya.”

Itu bohong, jelas sekali.

Dan di suatu sore, mereka berempat duduk bersandar pada dinding ruang lab multimedia, menunggu air hujan berhenti tercurah dari langit yang tidak berkonspirasi dengan aktivitas mereka. Candra dan Tian sibuk dengan pacar mereka masing-masing; laptop. Sedangkan Dira, lagi-lagi berbuat usil dengan merebut ponsel Dennis. Raut wajahnya berubah saat tahu bukan kontak “Bella” lagi yang memenuhi kotak masuk di ponsel itu. Ada nama perempuan lain, dengan isi pesan yang.. Menggelikan. Dan Dennis membalasnya dengan lebih menggelikan pula.

“Kenapa?” Tanya Dennis menyadari perubahan raut wajah Dira.

Dira mengembalikan ponsel itu ke tangan pemiliknya, “Aku pulang dulu.”

“Lho, masih hujan. Jangan hujan-hujanan lagi!” Cegah Dennis diikuti anggukan kepala Candra dan Tian.

“Kalian tahu, nggak? Hujan-hujanan itu seru, lho!” Dira berlari menembus hujan setelah melemparkan senyumnya yang pura-pura cerah. Dira terus membiarkan tubuhnya basah hingga tiba di rumah, lalu membiarkan pikirannya mengingat tiap kalimat di pesan-pesan Dennis tadi. Bukan Bella? Jadi, Dennis menaruh hati pada perempuan lain selain Bella? Kalau memang benar, Bella bodoh sekali. Bodoh, sebodoh-bodohnya. Dira tahu bagaimana Bella menatap Dennis dengan cara yang berbeda, bagaimana diamnya Bella yang menyimpan banyak rasa untuk Dennis. Dira juga tahu bahwa Bella sering melihat ke luar kelas saat pelajaran, hanya untuk melihat Dennis yang kebetulan berkeliaran di depan kelas. Bahwa Bella selalu diam-diam memerhatikan Dennis dari jauh. Tunggu! Kenapa Dira bisa tahu banyak hal, kenapa dia capek-capek mengurusi urusan orang lain, kenapa tadi dia meninggalkan ketiga temannya hanya karena isi pesan yang tidak ada hubungannya dengannya. Aneh, Dira merasa dirinya benar-benar aneh hari ini.

 

~~~

 

Ini masih terlalu pagi untuk memasang wajah lesu. Bahkan embun-embun itu belum sempat meluruh, seperti ingin tahu apa yang sedang dibicarakan dua laki-laki itu. Masalah paling klasik; hati.

“Bella-mu ini memang begitu, kok. Aku rasa dia nggak membencimu. Pada dasarnya, dia nggak cuek. Dia lebih perhatian dari yang kamu kira. Hanya saja, dia bingung cara menunjukkannya.” Jawab Tian menanggapi opini Dennis tentang isi pesan Bella yang kadang terlalu datar.

“Bella terlalu banyak diam. Aku bingung. Ada dua perempuan dipikiranku. Tapi, aku cuma dekat sama Bella sekarang. Dan aku berusaha bertahan buat yang satu ini.” Tatapan Dennis menerawang, dugaan Dira sepertinya benar. Ada perempuan lain selain Bella.

“Makanya, kalau suka perempuan itu cukup satu. Kalau suka Bella, menjauhlah dari yang lain.”

“Sudah! Aku sudah menjauh, tapi akhir-akhir ini ada saja yang mendekat. Aku nggak mau menyakiti perempuan lain walau pun aku suka sama satu perempuan.”

“Ya itu kelemahanmu, Denn. Susah tegasnya, apa susahnya ngomong baik-baik? Menjauh baik-baik? Jangan terlalu care sama semua perempuan, itu yang membuat mereka nyaman dan merasa diberi harapan.”

Dira yang dari tadi diam mendengarkan di balik dinding, muncul dengan wajah tak tahu apa-apa. Ia mencoba menyembunyikan kesedihan di matanya yang datang tiba-tiba. Seketika itu juga pembicaraan Dennis dan Tian berhenti. Hening sebentar.

“Tapi aku sedang menunggunya menepati janji.” Dennis menatap tajam ke arah Dira. Tapi hanya sebentar, wajahnya ia tujukan pada Tian lagi. “Dia suka menulis. Dia berjanji ceritanya akan muncul di suatu majalah. Saat hari itu tiba, aku adalah orang pertama yang ia beri tahu.” Dennis tersenyum dan beranjak pergi.

“Ke mana, Denn?”

“Toilet. Mau ikut?”

“Cih!” Dira memandang tas Dennis yang ditinggalkan di sebelah Tian. Kemudian beralih ke punggung Dennis yang bergerak semakin jauh. Mata teduhnya menatap Dennis tajam, dalam.

Tinggal Tian yang masih duduk di tempat semula ketika Dennis sudah kembali.

Drrttt.. Drrttt.. Ponsel Dennis bergetar, ia membuka satu pesan masuk.

From: Bella

“Selamat pagi, Edwardnya Bella! Aku memenuhi satu janjiku hari ini. Di tasmu. Halaman 102.”

Dennis buru-buru membuka tasnya, mengambil sebuah majalah yang entah kapan Bella bisa menyusup dan memasukkannya. Ah, Bella. Kenapa dia suka sekali melakukan segala hal dalam diam, selalu sembunyi-sembunyi.

SEKEKAL EMBUN. KARYA: ADIRA ALMETTA.

Saat itu juga, Dennis tahu bahwa Bella tidak pernah benar-benar membencinya.

Bella, jangan pernah diam lagi. Apapun itu, katakan padaku. Aku bahkan tidak pernah mengabaikan embun-embun kesayanganmu ini.

Sent!

~~~

 

Dan aku adalah orang yang baru saja memasukkan majalah ke tasnya. Aku adalah Adira Almetta. Dira yang selalu dipanggilnya “Bella”. Aku yang selalu bilang bahwa aku membencinya. Aku benci jika dia tahu aku jatuh padanya, aku benci ketika dia menangkap mataku yang memerhatikannya dari jauh. Aku benci balasannya yang menggelikan pada perempuan lain saat aku mengintip ponselnya.

Dan aku sampaikan kepadanya yang selalu kupanggil “Edward”, kepadanya satu-satunya manusia yang terlihat berwarna di mataku. Yang selalu penasaran cerita “Twilight” versiku, yang mulai kusebut dirinya dalam rentetan doa-doaku. Aku bisa bertahan untukmu sampai kapan pun. Sampai kamu memintaku berhenti, sampai kamu mengharapkanku tidak mengganggu hidupmu. Kamu boleh mengingat perempuan mana pun yang pernah mengisi harimu, merindukan panggilan sayang mereka padamu. Tapi mereka hanya matahari. Besar, tapi tidak selamanya agung. Sinarnya bisa menyengatmu, meredupkanmu. Sedangkan aku adalah embun. Aku hanya kumpulan titik-titik air yang jatuh dari udara.

Kecil. Terabaikan. Diabaikan.

Jangan pernah ragu padaku. Jangan pernah ragu untuk bilang jika kamu mulai muak padaku. Karena titik airku selalu hadir di pagimu. Akan terus setia menjernihkan oksigen untuk kau hirup.

Seterusnya.

Sekekalnya.

 

Cerpen oleh : Rucita Alma, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang 2014

You might also like

Comments