Tuhan, Dimana Jodohku?

17

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah lepas dari adanya hubungan dengan orang lain dalam kehidupannya. Baik untuk sekadar berbagi kisah tentang pengalaman hidup, ataupun berbagi kasih tentang perasaan. Tanpa adanya belas kasih dan rasa kasih dari sesamanya, manusia tidak akan menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya. Dunia hampa dan tak terasa indah ketika mereka larut dalam kesendirian dan kesepian. Hal itu sudah menjadi fitrah manusia, sehingga maklum ketika mereka—masih—tidak memiliki pendamping, mereka tak mempunyai gairah hidup. Hal tersebut selaras dengan kabar dari Allah; bahwa manusia diciptakan tidak dalam kesendirian. Mereka mempunyai pasangan atau jodoh dari diri mereka masing-masing. “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya… ” (QS. An-Nisa’: 1). Namun hal ini murni menjadi rahasia Tuhan yang tak seorang pun dapat mengetahuinya.

Dalam urusan jodoh, Tuhan hanya memberi ruang kepada manusia untuk mencarinya dan berusaha menemukannya. Hasil dan keputusannya itu berada dalam ‘tangan’ Allah yang telah ditentukan oleh-Nya sejak kita berada dalam kandungan. Sebelum kita menginjakkan kaki ke dunia, kita sudah memilih siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, dan itu telah dicatat dalam buku harian malaikat. Akan tetapi meskipun kita telah memilihnya, kita tidak tahu siapa dan dimana dia? Oleh karenanya, manusia mempunyai tugas untuk mencari calon pendamping hidupnya. Dalam masa pencarian tersebut kita jangan asal pilih, kita harus menyertakan ‘peran’ Tuhan untuk dijadikan tempat pengaduan dan pertimbangan. Iming-iming nafsu birahi wajib dihindarkan selama kita berada dalam proses penjemputan jodoh ini. Jadi, kita harus mengetahui bagaimana cara yang tepat dalam menjemput jodoh dan apa saja yang harus kita hindari, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca memberikan jalan kemudahan bagi para remaja yang ingin menjemput jodohnya, pasangan suami-istri itu menulis buku yang berjudul “Jodoh Dunia Akhirat; Merayu Allah, Menjemput dalam Taat”. Di dalamnya dibahas berbagai macam persoalan yang berkaitan dengan masalah jodoh, mulai dari cara benar cari jodoh, hingga bagaimana cara melayani jodoh dengan baik. Topik tentang jodoh menjadi hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan, apalagi bagi mereka yang masih menyandang status jomblo, pernikahan menjadi hal yang paling dinanti ketika manusia sudah memasuki umur dewasa.

Ketika hati kita sudah mantap dan yakin untuk menjemput jodoh, maka hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah menyucikan diri kita dari berbagai dosa yang telah kita perbuat, karena kita akan menjalani sesuatu yang suci lagi agung, yaitu pernikahan. Oleh karena itu, sebelum menjemput jodoh kita harus introspeksi diri, bertobat kepada Allah dan lain sebagainya. Di samping itu kita harus memaafkan segala kesalahan orang lain, entah itu mantan pacar, mantan cidaha (cinta dalam hati), TTM, sahabat, teman, atau siapa pun yang pernah membuat kita sakit hati, (halaman 88).

Langkah kedua yang patut kita lakukan adalah memantaskan diri kita untuk menjalani pernikahan. Kita harus mempersiapkan hati dan jiwa kita untuk mengarungi kehidupan baru, sebuah rumah tangga yang di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran berbeda. Dalam hal ini kita selayaknya memiliki keilmuan yang cukup mumpuni dalam menghadapi berbagai persoalan yang akan menimpa kehidupan rumah tangga kita kelak. Peningkatan mutu keilmuan seseorang akan menjadi perihal penting dalam terciptanya masa depan cerah sebuah rumah tangga, (halaman 176).

Setelah kedua langkah tersebut selesai, maka baru kita naik pada langkah ketiga, yaitu kita harus mengenali lebih jauh bagaimana karakter dan latar belakang keluarga orang yang kita incar, tidak boleh “asal pilih”, “asal ada” atau “asal cantik”. Kita jangan terjebak dengan polesan make-up yang sering kali menempel di wajah wanita, karena fakta di lapangan menunjukkan banyak wanita cantik hanya membuat sakit hati. Begitu pun sebaliknya, kaum wanita jangan mudah terlena dengan rayuan gombal seorang pria, karena banyak pria yang menganut aliran PTPT (Pacarin-Tidurin-Putusin-Tinggalin). Nah, dalam hal ini kita dituntut untuk pintar-pintar dalam ‘menyeleksi’ seseorang dengan cara mencari segala informasi yang berkaitan denga si “dia”, (halaman 222). Ketiga proses ini dikenal dengan istilah cleansing, upgrading dan selecting.

Proses selecting ini boleh dibilang tidak terlalu sulit bagi kaum pria. Dengan bermodalkan keberanian, mereka bisa menemui orangtua dari calon pasangan yang telah diperjuangkan, tinggal minta restu orangtuanya selanjutnya hanya menunggu jawaban mereka. Namun, selecting tidak gampang untuk kaum wanita. Keadaan demikian berkaitan erat dengan sifat malu yang ada pada diri mereka.

Dalam hal ini penulis memberikan dua pilihan kepada para wanita. Apakah ingin terus-terusan menunggu sampai sang pangeran menjemputnya seperti yang dilakukan Bunda Fatimah, atau memberanikan diri untuk mengajukan permohonan lamaran seperti Bunda Khadijah. Bunda Fatimah lebih memilih “Mencinta dalam Diam” kepada sayyidina Ali, ia tak berharap secara berlebihan, ia tetap menunggu keputusan dan ridla Allah, oleh karena itu ia titipkan cintanya hanya kepada Allah semata. Sedangkan Bunda Khajidah dalam menjemput jodoh menggunakan cara “menyebarkan sinyal atau mengajukan diri” untuk dilamar oleh Rasulullah. Tentu kedua hal ini memiliki konsekuensi tersendiri; “Mencinta dalam Diam” harus ditempuh dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, “Mengajukan Diri” memerlukan kesiapan jiwa yang tangguh untuk menangung beban malu ketika cintanya ditolak, (halaman 236). Namun, terkadang kaum perempuan tidak mengikuti tawaran tips kedua Bunda tersebut, melainkan mereka lebih memilih jalan sendiri, yaitu melalui jalur “pacaran”. Padahal jalur ini merupakan cara yang sesat yang tak pernah diajarkan dalam islam.

Secara garis besar ada dua hal yang sebaiknya dihindari oleh para penjemput jodoh; pacaran dan HTS (Hubungan Tanpa Status), banyak remaja yang menganggap bahwa pacaran adalah cara yang tepat untuk mengetahui lebih jauh seperti apa karakter dan latar belakang pasangan mereka. Walaupun hal tersebut benar adanya, namun ketika ditelusuri lebih dalam ternyata pacaran lebih banyak menonjolkan dampak negatif daripada positifnya. Pacaran sangat rentan akan janji-janji palsu serta menjadi simbol dari ketidaktegasan dan ketidakseriusan seseorang, dalam hal ini kaum perempuanlah yang sering menjadi korban. Karena—seperti yang saya katakan di atas— saat ini banyak pria yang mengikuti aliran PTPT, mereka hanya mengobral janji demi kepuasan nafsu belaka. Maka sampai di sini apakah kaum perempuan masih mau melayani rayuan gombal laki-laki?

Canun & Fu (Panggilan dari kedua penulis) menulis buku ini sebagai “sebuah bingkisan untuk yang sedang menanti pernikahan”, sehingga sangat tepat dibaca oleh mereka yang berniat menjemput jodoh untuk mengarungi hidup baru. Bahasa yang digunakan oleh penulis sangat pas dengan bahasa remaja, terkadang diselipkan bahasa-bahasa asing sehingga menambah kekompletan buku ini. Di setiap bab penulis mengawalinya dengan kata-kata puitis, selain itu di dalamnya terdapat beberapa kisah nyata yang menceritakan pahit-manisnya “dunia cinta”.
Buku terbitan Mizan Pustaka ini penting juga dibaca oleh para play-boy tingkat nasional, karena di dalamnya juga disinggung tentang perasaan kaum Hawa dikala dikhianati oleh seseorang, betapa hancurnya hati seorang perempuan ketika orang yang sangat disayanginya menduakan cintanya. Dengan membaca buku ini semoga mereka tak lagi mempermainkan hati seorang wanita. Semoga!

Peresensi : Saiful Fawait*

*) Santri PP Annuqayah Lubangsa Selatan, sekaligus Siswa Kelas Akhir MA Tahfidh Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, asal Lombang Batang-Batang Sumenep.

You might also like

Comments