Bebas Biaya Masuk, Museum Kota Probolinggo Simpan Banyak Peninggalan

26
GAGAH: tank yang menjadi salah satu benda bersejarah di museum Kota Probolinggo. (Naufal/MM)
GAGAH: tank yang menjadi salah satu benda bersejarah di museum Kota Probolinggo. (Naufal/MM)
ARCA: 2 arca ini juga menjadi penghuni museum Kota Probolinggo. (naufal/MM)
ARCA: 2 arca ini juga menjadi penghuni museum Kota Probolinggo. (naufal/MM)
NASKAH KUNO: salah satu  warisan Empu Rogonolo dan berasal dari daerah Tisnonegaran Probolinggo, berisi rapalan-rapalan tradisi Jawa dan beberapa catatan Sang Empu. (naufal/MM)
NASKAH KUNO: salah satu warisan Empu Rogonolo dan berasal dari daerah Tisnonegaran Probolinggo, berisi rapalan-rapalan tradisi Jawa dan beberapa catatan Sang Empu. (naufal/MM)

PROBOLINGGO, Mediamahasiswa.com – TERHITUNG sejak tahun 1770, nama Probolinggo lahir dan menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi karena memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah yang cukup memukau. Pertumbuhan kota ini dimulai saat Sri Hayam Wuruk pernah singgah dalam perjalanan pemeriksaannya ke beberapa wilayah di Kota Probolinggo. Dalam catatan perjalanannya yang ditulis oleh PrapancaPujangga Kerajaan Majapahit, terdapat beberapa nama di Probolinggo yang kini masih ada, seperti Tongas, Hambulutraya (sekarang Ambulu, Red.), Gending, Lumbang, Pabayaman (sekarang Bayeman, Red.), dan lain-lain. Berkat Sri Hayam Wuruk, pemerintahan Kota Probolinggo mampu mendirikan sebuah museum untuk mengenang perjalanan panjang Kota Probolinggo sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat bahwa daerah yang mereka tinggali mempunyai sejarah yang menarik dan wajib diketahui oleh masyarakat luas.

Museum Probolinggo ini berada di Jalan Suroyo dan buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. “Tidak ada biaya masuk ke museum. Biasanya, museum ramai saat akhir pekan. Banyak yang datang kesini rombongan, mulai dari sekeluarga dan rombongan SD,’’ ujar Kamal, pengurus Museum Probolinggo. “Museum ini juga jadi tujuan utama wisatawan asing saat kunjung ke Probolinggo, seperti beberapa waktu yang lalu ada kapal pesiar dari Belanda kemudian mampir kesini,” tambahnya.

Perawatan barang-barang koleksi di museum Probolinggo diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (APBD DISPOBPAR) Kota Probolinggo. Selain menjadi tempat koleksi, museum ini juga menjadi cagar budaya. “Masih banyak peninggalan bersejarah Kota Probolinggo yang belum diekspos, sehingga pihak museum memberikan kebebasan kepada warga yang memiliki barang bersejarah untuk disumbangkan ke museum,” imbuh Kamal.

Perlu diketahui, saat berada di dalam museum, pengunjung tidak bisa bebas mendokumentasikan setiap barang koleksi yang ada. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa barang bersejarah yang masih menjadi hak cipta Belanda. Oleh karena itu, pengunjung harus izin dan memberikan alasan yang jelas agar dapat mendokumentasikannya. “Cukup bangga,. Kalau bisa museum ini bisa menjadi objek wisata,” kata Indri, salah satu pengunjung Museum Probolinggo menaruh harapan. (nas)

You might also like

Comments