World Press Freedom Day, Bukan Sekedar Seremonial

6

TIAP 3 Mei menjadi tanggal bersejarah untuk jurnalis di seluruh Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal ini sebagai World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Sedunia. Namun apakah jurnalis di dunia benar-benar sudah merdeka?

Saya mencontohkan Indonesia, tempat saya lahir dan besar ini. Hingga hari ini, aroma kebebasan pers itu hampir tidak tercium lagi. Negara ini pernah merasakan selama 32 tahun tidak mencium kebebasan pers selama masa orde baru. Mereka dikekang, dikontrol oleh penguasa yang notabene pemerintah, terancam dan terusik kehidupannya ketika memberitakan yang sedikit negatif terhadap penguasa.

Semua sirna ketika Presiden Ketiga BJ Habibie menelurkan UU Pers No. 40 Tahun 1999. SIUPP dihapus, pers pun merajalela di Bumi Nusantara. Pers saat itu merasakan udara kebebasan yang benar-benar bebas, seperti burung yang lepas dari sangkarnya.

Satu dekade berlalu, pers mulai kehilangan kebebasannya kembali. Namun, bukan karena pemerintah, tapi karena pemilik medianya sendiri. Mereka diminta menuruti apa kata bos, kalau menolak, silakan angkat kaki. Tak hanya dari dalam media saja, diluar, kekerasan terhadap wartawan masih sering terjadi. Berbagai kasus kekerasan seperti kasus wartawan Bernas Jogja, Udin, yang saat ini kasusnya sudah kadaluarsa. Dan, masih banyak kasus-kasus kekerasan yang lain yang belum terungkap.

Hari Kebebasan Pers sedunia ini, jangan hanya diperingati sebagai acara seremonial saja, tapi sebagai hari introspeksi untuk seluruh pihak, baik jurnalis di lapangan, yang di kantor, para pemilik media, aparat pemerintah, pemegang kekuasaan, dan seluruh elemen masyarakat agar memperhatikan hak-hak dan kewajiban jurnalis dalam mencari kebenaran.

Kasus teranyar, pemblokiran terhadap puluhan situs berita islam adalah pembredelan terhadap media masa kini. Ketika media tersebut sudah mengikuti kaidah pers yang jelas dan benar, mereka justru ditumpulkan. Saya turut mengecam hal ini!

Mari, dalam peringatan World Press Freedom Day ini, kita lindungi jurnalis, beri mereka ruang kerja yang bebas, upah yang layak dan semestinya sesuai resiko kerja mereka, jangan tumpulkan independensi kami, dan biarkan kami memberikan informasi yang benar dan bermanfaat untuk masyarakat.

Muhammad Zulfikar Akbar
(Direktur Utama Media Mahasiswa)

Posted from MediaMahasiswa for Android

You might also like

Comments