Disangka PR Professional

15

Jika kita memasuki lantai enam, khususnya didepan kantor Jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), kita akan diperlihatkan spanduk yang menyatakan selamat kepada empat mahasiswa Ikom yang berhasil meraih juara pertama dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Challange yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Media Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai keempat mahasiswa tersebut untuk memberikan inspirasinya kepada kita semua. Berikut rangkuman wawancara kami.

Muhammad Zulfikar Akbar, Malang.

Muhammad Faridh, Richard Firman, Damar Sari Wulan, dan Hesti Setiawardani patut berbangga hati. Meskipun sempat terlambat lima menit dalam mengumpulkan proposal yang diikutsertakan di CSR Challange, mereka tidak menyangka bisa masuk langsung ke lima besar nasional. “Gak nyangka bisa langsung masuk bersama finalis dari UI (Universitas Indonesia, Red.), UGM (Universitas Gadjah Mada, Red.), Undip (Universitas Diponegoro, Red.) , dan UMY,” ungkap Faridh saat diwawancarai.  Ia dan ketiga rekannya semula hanya ikut kopi darat (Kumpul bareng, Red.) bersama Eskalator Public Relation (PR) Community. Disana mereka berdiskusi tentang dunia PR, juga lomba-lomba terbaru. “Disanalah saat itu kami akhirnya memutuskan ikut lomba,” kata Faridh.

Perjuangan keempat mahasiswa Ikom yang berasal dari angkatan 2010 dan 2011 ini tidak sia-sia. Bahkan mereka berempat pun berdebat dengan ketiga dewan juri yakni Setia Budi yang berasal dari Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Eunike Martianti dari Public Relation Hotel Ibis Jogjakarta, dan Tri Hastutik Nur dari dosen UMY. “Mereka bahkan mengira proposal yang kami buat ini dibuatkan oleh PR professional,” ungkap Richard, putra asli Banyuwangi Jawa Timur yang ikut mendampingi Faridh dalam wawancara.

Kompetisi CSR Challange ini kata mereka berempat merupakan simulasi PR dari perusahaan-perusahaan. “Jadi kita disana mempresentasikan program CSR layaknya kita sebagai PR diperusahaan tersebut,” kata Damar Sari Wulan, dara kelahiran Banjarbaru 15 Januari 1993.

PAKAI BAHASA BANJAR

Dalam kompetisi tersebut, yang membuat unik tim dari UMM ini adalah mereka menggunakan pakaian adat Dayak Kalimantan Selatan. “Kami kan menggunakan nama PT Adaro, salahsatu pabrik pertambangan batu bara di Kalsel (Kalimantan Selatan, Red.). Akhirnya kami putuskan menggunakan pakaian asli dayak dan menggunakan bahasa Banjar sebagai pembukanya,” kata Faridh.

Mereka tidak menyangka bisa meraih juara pertama dalam CSR Challange. “Padahal peserta yang lain luar biasa juga. Mungkin karena kami menggunakan bahasa Banjar akhirnya jadi juara pertama,” canda Faridh dan kawan-kawan. Selain mendapatkan tropi, uang pembinaan, dan sertifikat, dari jurusan pun diberi penghargaan dengan menampilkan dan memajang banner mereka di depan Perpustakaan pusat dan depan kantor jurusan. “Saat kami datang, kami kaget sudah ada foto kami. Yang pasti kami semua bangga,” ungkap mereka berempat.

Rencananya, mereka akan kembali mengikuti lomba serupa yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 28 November nanti. “Selama ada kesempatan, kita harus ambil kesempatan itu. Semoga dengan prestasi kami ini bisa ikut menginspirasi teman-teman yang lain untuk bisa berprestasi juga,” tutup Faridh. (***)

You might also like

Comments