Aku tak pernah datang padanya atau berniat pergi meninggalkannya

11

“Aku tak pernah datang padanya atau berniat pergi meninggalkannya”

Katakanlah, sebuah awal akan memiliki akhir. Aku tak pernah tau awal cerita ini. Aku juga tak pernah bisa menebak akhirnya. Dan aku tak kuasa merangkai potong demi potong kejadian ini menjadi serangkaian cerita indah maupun cerita menyedihkan sekalipun.

Pernah suatu kali, aku mendengar kata cinta seorang pemuda. Berkatalah ia padaku, “aku tak akan pergi meninggalkanmu”. Dan ketahuilah, itu tak pantas disebut sebagai sebuah janji. Karena janji tidak untuk di ingkari, bukan?

Pernah pula aku mendengar “pergilah, aku tak pantas untukmu”. Kawan, aku tak tahu kalimat macam apa ini. Apakah macam sehelai baju yang tak pantas untuk kau kenakan?

Banyak waktu yang telah aku habiskan untuk berkelana. Dan tak satupun meyakinkan aku untuk berhenti mencari. Aku tak pernah puas. Tak akan pernah.

Mungkin begitu pula sama halnya dengan kasih yang ku miliki. Aku tak pernah puas memberikannya kepada siapapun yang kutemui. Aku mengasihi, tak peduli seberapa kasih yang akan kembali padaku. Terkadang, aku tak mendapat kembalian sama sekali.

 

Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang diberi nama Kekasih. Kekasihku akan memberikan sebongkah permata dengan berjuta perhatian dan kasih sayang. Suatu waktu ia berkata “aku tak akan pergi meninggalkanmu”. Kawan, sudah kubilang itu bukan sebuah janji. Karena janji bukan untuk diingkari, bukan?

Setelah itu aku tak bertemu Kekasihku lagi. Apakah ini sebuah akhir? Aku tak tau. Aku melihatnya, tapi tak dapat memiliki sebongkah permata dengan berjuta perhatian dan kasih sayang lagi. Inikah yang dinamakan orang sebagai ‘kehilangan’ ? tapi muncul pertanyaan yang baru: apakah aku pernah memiliki? Mungkin jika jawabannya iya, maka aku tak pernah kehilangan. Karena apa yang telah menjadi milikku, tak akan bisa pergi dariku. Kawanku, aku tak pernah datang padanya atau berniat pergi meninggalkannya.

Hatiku mencelos. Seiring berjalannya waktu, aku merindukan kehadiran seorang kekasih. Akupun tak mengerti mengapa seorang kawan tak bisa menggantikan posisi seorang kekasih. Dan aku belum juga mendapat jawabannya ketika seseorang menawarkan dirinya untuk menjadi kekasihku. Aku bahagia. Aku tak lagi memikirkan persoalan mengapa kawanku tak bisa menjadi seorang kekasih sekaligus. Yang ku tahu hanya, kekasihku sekarang ini menyelimutiku dengan kehangatan kasih yang mendalam. Tapi aku tak juga merasakan kehangatannya. Lalu berkatalah ia padaku “pergilah, aku tak pantas untukmu”. Kawan, kurasa kau juga tahu bahwa aku tak tahu kalimat macam apa itu. Apakah macam sehelai baju yang tak pantas untuk kau kenakan? Mungkin jika jawabannya iya, maka kau akan menanggalkan baju itu dan beranjak untuk mencari baju baru. Atau kau akan tetap memakainya tapi dengan resiko dicibir oleh kawan-kawanmu yang lain. Aku rasa, aku akan memilih yang pertama. Kawanku, aku tak pernah datang padanya atau berniat pergi meninggalkannya.

 

Sekian potong kejadian itu tak pernah kurangkai sebagai sebuah cerita indah maupun cerita menyedihkan sekalipun. Karena aku tak tahu harus memulainya darimana dan akan mengakhirinya sampai mana. Hampa. Mungkinkah aku kehilangan? Tapi kawan, jika aku kehilangan, maka sebelumnya aku pernah memiliki. Dan apa yang telah menjadi milikku, tak akan bisa pergi dariku.

Semilir angin menghempaskan sekelebat rambutku yang kusut. Menutupi sebagian wajahku yang kecoklatan. Butir-butir pasir senantiasa mengerumuni telapak kakiku. Aku berjalan. Entahlah mau kemana. Birunya langit senada dengan laut dan gemercik ombak yang tak bisa berhenti. Mereka menemaniku. Dalam diam, dan kebisuan. Lalu dengan sendirinya kekasih itu ada. Menemaniku, dan membabat segala kebisuan. Menggenggam erat kasih dan mewarnai langit senja dengan menghadirkan kupu-kupu. “kita adalah sepasang kupu-kupu dibawah langit senja!” katanya. Aku hanya tersenyum. “aku milikmu, dan kau adalah milikku. Temani takdir itu, dan kita senantiasa akan bersama tanpa menantang kehendak Yang Kuasa” katanya setengah berteriak. Dan akupun tertawa. Kita tertawa. “apa yang telah menjadi milikku, tak akan bisa pergi dariku” kataku setengah berbisik. Tawanya terhenti. Matanya yang bulat dan kecil menembus kedua mataku. Perlahan-lahan, jemarinya memenuhi sela-sela jariku. Berkatalah ia “aku kekasihmu seutuhnya dan aku milikmu seluruhnya!”

Kawanku, sudah banyak aku mendengar janji yang berubah menjadi tahayul semata. Aku menyangsikan semua ini. Tapi aku tak dapat sedikitpun menyangsikan keberadaan kupu-kupu yang beterbangan didalam perutku. Sekali lagi, aku tak pernah datang padanya atau berniat pergi meninggalkannya.

Beruntunglah sekuntum mawar merah yang memiliki keharuman mewangi ditengah taman bunga. Menarik perhatian sejumlah kupu-kupu untuk mengambil sari-sarinya yang manis. Beruntunglah seorang gadis yang memiliki keindahan dan menjaga segala keharumannya. Mendatangkan kesetiaan dan kekaguman pada kaumnya. Beruntunglah seorang penyendiri yang memiliki kawan untuk pelipur lara dan berbagi sepotong roti kering. Serta merta keberuntungan itu datang pada seorang kekasih yang tetap memiliki berjuta-juta kasih tak terhenti. Terkadang ia pergi, namun akan kembali lagi dan mengukir seulas senyum singkat yang mungkin akan terjadi berulang-ulang. Aku mendapati kemutlakan dalam memilikinya. Dan aku mulai pelit untuk berbagi apa yang kumiliki dengan orang lain. Yang aku tahu hanya, dia untukku, kau tidak akan bisa menyentuhnya barang sedikit pun! Aku mulai egois. “jika kau hanya memiliki, maka kau hanya akan memiliki. Jika mencintai apa yang menjadi milikmu, maka kau akan mengerti mengapa kekasih itu ada” kata seorang sahabat kepadaku. Kawan, kini aku tahu seorang kawan tidak sama dengan seorang kekasih. Ibarat madu dan racun yang dituang ke dalam dua buah cangkir teh hangat. Kekasihmu adalah orang yang menuangkannya dan kawanmu adalah orang yang membantumu menemukan cangkir yang tidak berbahaya untukmu. Seorang kekasih berbeda dengan seorang kawan, pun kau memiliki dan mencintai mereka. Tapi kau memiliki dan mencintai yang kedua dengan cara yang abstrak. Maka nikmatilah hari dimana hatimu akan berlumuran cahaya kehangatan dari sebuah sentuhan kasih sayang.

“kekasihku, apakah kau menuangkan madu ke dalam cangkir teh ku? Ataukah racun yang ada didalamnya?”

Ia menjawab “aku hanya mencintaimu”

Kawanku, aku tak pernah datang padanya atau benar-benar berniat pergi meninggalkannya.

 

Cerpen oleh : Khulda Rahmatia

Pernah diterbitkan di : http://barbond.blogspot.com/

You might also like

Comments