Potensi Kepulauan Anambas Bawa Eskalator One Juara Tiga

5

Jalan menjadi juara tidak sepenuhnya mudah. Eskalator One contohnya. Berkali-kali mengikuti lomba namun hanya sampai tahap semifinal. Di lomba Marketing Public Relation (MPR) Strategic Blast pada Communication Festival 2015 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) akhir Mei lalu, mereka akhirnya berhasil menyabet juara tiga nasional. Berikut berita dari reporter Fidya Nurilia yang ditulis dalam gaya bertutur.

“Bangkitkan Kekayaan Daerah, Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015”. Itulah tema MPR Strategic Blast 2015. Para peserta yang mendaftar harus mengerjakan proposal MPR untuk diseleksi dalam babak penyisihan dan memposisikan timnya sebagai PR dari sebuah perusahaan brand lokal. Perusahaan brand lokal yang dijadikan klien dianalisis permasalahannya dan diberikan solusi terbaik agar siap menghadapi pasar bebas ASEAN 2015.

“Awalnya kita bingung banget, karena kebanyakan produk-produk lokal itu diproduksi oleh masyarakat lokalnya. Jadi kita bingung mencari perusahaan yang bisa kita selesaikan permasalahannya,” ujar Ayu, salah satu anggota Tim Eskalator One.

Tim Eskalator One terdiri dari tiga mahasiswa Ilmu Komunikasi, Ayu Wulandari dan Raharjo Tri Utomo semester enam dan saya, Fidya Nurilia Hakim semester empat.

“Awal pengerjaan proposal kami adalah menyatukan pemahaman dalam mengerjakan proposal sesuai petunjuk dari panitia. Setelah itu kami berdiskusi untuk memilih klien,” tambah Raharjo.

Saya dan dua kakak tingkat saya itu menentukan klien hingga empat hari lamanya. Kesepakatan untuk mengangkat potensi Kepulauan Anambas, kami dapat setelah mempertimbangkan beberapa produk lokal dan tempat wisata. Salah satu keunggulan dari wisata alam laut di Kepulauan Anambas adalah kejernihan air laut serta penobatan Pulau Tropis Terindah se Asia oleh CNN.com pada Pulau Bawah, salah satu pulau di Kepulauan Anambas.

“Sebisa mungkin perusahaan serta produk yang kita analisis merupakan produk lokal yang berasal dari daerah kita sendiri, agar kita dapat memahami betul apa yang sedang kita analisis,” tutur Ayu saat kami beberapa kali bertemu di awal pengerjaan.

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”

Peribahasa itulah yang sesuai dengan apa yang kita rasakan. Pengerjaan proposal pada awal April tersebut berbarengan dengan berjalannya Ujian Tengah Semeter (UTS).

“Mau tidak mau, harus pinter-pinter bagi waktu,” kata Ayu, mahasiswi asli Banjarmasin ini.

Sependapat dengan Ayu, saya pun merasakan usaha yang cukup keras dalam mengerjakan proposal, mulai dari hampir tengah malam berada di kampus untuk berkumpul mengerjakan proposal, waktu belajar UTS terbagi, juga waktu istirahat berkurang.

“Ini bukan kali pertama saya mengikuti lomba PR. Beberapa kali saya lolos ke babak semi final atau final. Namun, belum pernah mendapatkan juara. Tapi saya tidak pernah kapok untuk mengikuti perlombaan demi mendapatkan banyak pengalaman serta berlatih untuk memecahkan soal yang diberikan oleh panitia,” ungkap Raharjo.

Melihat antusiasme dari Ayu dan Raharjo, saya juga tidak pantang menyerah walau tidak pernah masuk final sebelumnya.

Saya, Ayu, dan Raharjo pun merasa sangat bersyukur saat melihat kelolosan tim kami dalam delapan besar pada awal Mei lalu. Pasalnya, kami sedikit ragu dengan proposal kami yang menggunakan produk berupa pariwisata laut. Sedangkan dua tim dari Komunitas Eskalator UMM yang juga masuk delapan besar yaitu Eskalator Berkah dengan produk Kopi Celup Batu dan Eskalator Muda dengan Madu Sumbawa.

Kecemasan kami bertambah karena tim Eskalator Berkah juga sempat mengatakan kepada kami kalau tim mereka awalnya menggunakan produk pariwisata. Tetapi panitia menganjurkan untuk tidak menggunakan pariwisata.

“Padahal kami konfirmasi pada panitia di awal, katanya tidak kenapa-kenapa kalau menggunakan pariwisata,” ujar Ayu.

Kecemasan saya dan tim saya pun berganti semangat untuk mempersiapkan penampilan presentasi. Presentasi dilakukan di UMN tepatnya 21 Mei lalu. Tim Eskalator One berusaha semaksimal mungkin dalam mempresentasikan proposalnya.

“Kami menggunakan kain songket agar unsur kedaerahan kami nampak,” tutur Raharjo.

Bagi Raharjo, seorang PR tidak melulu harus berpenampilan kantor, melainkan juga harus dapat mewakili dari apa yang dipresentasikan.

Presentasi dilakukan secara tertutup, delapan tim yang lolos berkumpul di ruang tunggu untuk dipanggil ke ruang presentasi sesuai nomor urut.

“Eskalator One mendapatkan nomor urut 4, delapan tim yang lolos didominasi oleh tim dari UMM yaitu tiga tim, dua tim dari UMN, satu tim dari Universitas Padjajaran dan dua tim dari Prasetya Mulya Business School,” ujar Ayu.

Saat tiba waktunya untuk presentasi, saya merasa gugup karena ini pertama kalinya saya presentasi dihadapan juri yang sudah ahli pada bidang PR. Juri yang menilai ada tiga, dan satu di antara ketiga juri memberikan komentar yang sedikit membuat saya dan tim merasa bahwa juara tidak akan kami dapatkan. Setengah jam berada di dalam ruang presentasi membuat kaki cukup lemas.

Pengumuman juara dilaksanakan pada 22 Mei. Acara penutupan disiapkan dengan meriah oleh panitia. Hiburan satu per satu menghibur kami hingga saat pukul delapan tibalah pemenang kompetisi MPR diumumkan.

Kami sangat bersyukur perjalanan yang jauh serta cukup melelahkan juga kerja keras kami terbayar oleh penghargaan juara ketiga ini. Juara kedua dan pertama didapatkan oleh tim yang keduanya berasal dari Prasetya Mulya Bisnis School.

Ini adalah kali pertamanya saya, Ayu dan Raharjo mendapatkan juara setalah kesekian kali tidak lolos, atau hanya berhenti di babak semi final saja. Bagi tim Eskalator One menang atau kalah sama-sama membutuhkan perjuangan.

“Terus berprestasi untuk mahasiswa UMM,” tutur Ayu sambil tersenyum. (***)

You might also like

Comments