Meneladani Kehidupan Abu Bakar Al-Shiddiq

5

Abu Bakar (1)Oleh: Saiful Fawait*

 

Judul : Abu Bakar Al-Shiddiq, Khalifah Pembawa Kebenaran

Penulis : Khalid Muhammad Khalid

Penerbit : Mizan Pustaka

Cetakan :  2014

ISBN : 978-602-9255-99-7

Tebal : 157 halaman

 

Di antara empat sahabat karib Nabi Muhammad Saw. yang mendapat gelar khalafaur rasyidin, Abu Bakarlah yang paling pertama percaya dan yakin terhadap sabda Nabi. Bahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai utusan oleh Allah, Abu Bakar memang secara diam-diam mengagumi sosok seorang Muhammad. Hal ini disebabkan oleh sikap dan sifat Nabi yang tidak pernah ikut berbaur dengan orang-orang Quraisy yang hidup dalam kesesatan.

Abu Bakar menjadi sahabat Nabi bukan karena kepentingan materi, politik dan lain sebagainya, akan tetapi Abu Bakar menjadi sahabat sejati Nabi karena ingin mencari kebenaran dan jalan lurus menuju Tuhan Yang Maha Esa. Karena mulai sejak kecil Abu Bakar melihat keagungan dan kemuliaan yang terpancar dalam jiwa seorang Muhammad.

Dalam buku yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid dengan judul “Abu Bakar Al-Shiddiq, Khalifah Pembawa Kebenaran” dijelaskan bahwa khalifah pertama tersebut sudah sejak lama merindukan kebenaran di tengah-tengah orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan menyembah patung-patung yang dipahat dan diukir dengan tangan mereka sendiri. Orang-orang Quraisy waktu itu menuhankan benda-benda mati, seperti batu, kayu, tanah liat dan sebagainya, yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Sehingga tak ayal jika masa itu disebut dengan masa jahiliyah (kebodohan).

Mereka berada dalam kesesatan yang berkepanjangan karena tidak adanya utusan Allah yang bisa menuntun mereka ke jalan kebenaran. Oleh karena itu, Abu Bakar sangat merindukan akan datangnya orang yang bisa membawa mereka ke dalam agama Nabi Ibrahim a.s.

Selama bertahun-tahun Abu Bakar hanya bisa menyaksikan orang-orang yang terlelap dalam kesesatan, beliau tidak bisa berbuat apa-apa di depan orang-orang Quraisy kecuali hanya ‘merindukan kebenaran’. Dalam perjalanannya berniaga ke negeri Syam, Abu Bakar beberapa kali meminta teman rombongannya untuk melantunkan syair kerinduan terhadap sosok penyelamat tersebut. Teman rombongannyapun membacakan syair Ummayyah ibn Abi Shalt:

Tak adakah seorang nabi dari kalangan kami

            yang akan memberikan kabar berita kepada kami

            tentang tujuan setelah kami melalui kehidupan ini

            Kami tahu bahwa pengetahuan kami

            akan memberikan manfaat

            Bahwa kami nanti akan berkumpul

            dengan para pendahulu kami

            Kematian telah membuatku sungguh heran

            Mengapa mereka yang hidup

            menangisi mereka yang lebih dahulu mati?

 

Berbulan-bulan di negeri Syam, kerinduan tersebut tak kunjung terobati, karena kondisi negeri Syam tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh penduduk Kota Makkah. Di negeri Syam Abu Bakar menemui orang-orang ‘shaleh’ untuk bertukar pikiran tentang kesesatan yang merajalela dan penantian panjang tentang datangnya sebuah kebenaran. Dari mereka, Abu Bakar banyak mendengar tentang lantunan dan rintihan yang menggambarkan kedatangan seorang Rasul Allah yang bisa memerdekakan orang-orang dari belenggu kemaksiatan, (hlm. 45)

Mendengar hal demikian hati Abu Bakar menjadi tenteram dan sangat bahagia hingga mengekspresikannya dengan bertepuk tangan, wajah Abu Bakar tampak menahan haru saking rindunya akan datangnya sosok panutan yang membawa petunjuk kebenaran. Dalam perjalanan pulang dari negeri Syam Abu Bakar kembali meminta teman-temannya untuk melantunkan syair-syair kerinduan. Rombongan tersebut dipenuhi dengan kegembiraan dan kesenangan, kekhawatiran dan kesusahan lambat-laun sirna bersama jejak-jejak unta yang pergi meninggalkan negeri Syam.

Sesampainya di kota kelahirannya, Abu Bakar tiba-tiba dihampiri oleh sekelompok orang Quraisy yang dipimpin oleh ‘Amr ibn Hisyam alias Abu Jahal. Kemudian Abu Jahal melaporkan peristiwa yang terjadi di Kota Makkah, bahwa sahabat karib Abu Bakar yang berstatus yatim telah membawa risalah baru yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan. Seketika itu wajah Abu Bakar berbinar seolah-olah sinar matahari hanya menyinari wajahnya, kemudian Abu Bakar berkata “Jika Muhammad berkata demikian, sungguh benarlah dia!”.

Peristiwa mengejutkan ini menjadi titik awal segala hal yang berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan Islam di masa depan, sebuah gerakan revolusi yang sangat fenomenal dimulai dalam sejarah umat manusia, seperti perluasan penyebaran Islam, pelebaran wilayah, perkembangan budaya dan peradaban, (hlm. 64)

Buku ini menggambarkan sosok Abu Bakar yang sabar mencari dan menanti datangnya kebenaran. Selain itu buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang sedang menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin. Kehidupan Abu Bakar dijelaskan secara detail oleh Khalied Muhammad Khalied, bahasa yang digunakan dapat dipahami dengan cepat karena bahasanya tidak terlalu sulit. Selamat membaca!!!

*) Mahasiswa jurusan Akhlak Tasawuf di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah/ Instika, Guluk-Guluk, Sumenep.

You might also like

Comments