Butiran Air Suci

8

Oleh: Baiq Cynthia*

Deretan lampu kota yang berkilau indah, terlihat kumpulan embun di bawah kaki Gunung Semeru. Suasana malam yang begitu dingin membuat aku tak betah di atas balkon rumah bernuansa klasik ini. Sheila, orang memanggilku. Kini usia menginjak 18 tahun, menatap bintang disaat sendiri adalah kegemaran yang tak terpisahkan oleh raga ini, itu mengapa sering naik ke balkon menikmati indahnya bintang di galaksi. Namun, suhu telah mencapai 14º C, sambil menggosok-gosokkan tangan kupijaki anak tangga.

“Jaga diri baik-baik Nak, di Malang. Bunda hanya bisa mendo’akan dari sini. Semoga kamu bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan Ayah dan Bunda. Selamat malam, mimpi indah. Assalamu’alaikum.” Pesan suara yang baru saja terdengar hingga sanubari. Sebelumnya meninggalkan handphone di kala menikmati kecantikan bintang.

Mendiami sebuah tempat sederhana tanpa siapapun menjadi hal yang mutlak dijalani, hanya untuk mengejar status sarjana harus rela berpisah dengan sanak saudara. Ada rasa nyeri saat harus meninggalkan mereka. Tapi, sebuah senyum tipis harus ditunjukkan kepada siapapun.

~*~

Pernah suatu ketika, menjalin hubungan dekat dengan seorang ikhwan (laki-laki, red.) yang berjanji akan segera meminangku setelah dia lulus wisudanya, katanya tak lama lagi. Namanya Fadil, Jurusan Hukum semester 5 di Universitas Brawijaya. Aku  mengenalnya saat aku mengikuti olimpiade Mipa tahun lalu di tempat dia mengenyam pendidikan Stara 1. Saat itu aku sedang membeli beberapa makanan ringan, baru saja ingin meninggalkan tempat itu. Aku baru sadar bahwa Fadil tengah berjalan beriringan dengan wali kelasku. Aku merasa sesuatu menyeruak dari dalam hatiku. Apakah itu yang disebut cinta. Entahlah sejak kapan aku terdiam memandang mata elangnya.

“Perkenalkan Sheila, ini keponakan Ibu.” Bu Anita wali kelas XII IPA 1 yang sangat aku hormati memiliki keponakan yang berkuliah di sini? Aku hanya bisa menelan ludah dan tersenyum tanpa ba-bi-bu saat itu.

“Sheila sekolahnya di mana?” tanya Fadil di lain kesempatan setelah Bu Anita ke toilet.

“Nurul Jadid, Mas!” Jawabku halus.

“Owalah, pantas saja mirip arab-arab gitu. Anak ustad ya?” Fadil terlihat salah tingkah, terlihat jelas saat salah mengambil uang dari saku untuk membayar soft drink. Sedangkan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

“Eh, kalian sudah saling kenal ya?” Bu Anita lansung muncul tanpa aku sadari, aku hanya diam sementara Fadil meminta izin untuk masuk kelas, karena dosen telah menunggu.

Ada separuh hati yang tertinggal saat langkah kakinya tak terdengar lagi. Setelah peristiwa itu hubungan kami begitu dekat. Apalagi ditambah kecanggihan gadget membuat yang jauh menjadi dekat.

Ukhtyku sudah makan belum?” pesan Line yang bisa aku baca dengan jelas di layar smartphoneku.

“Sudah dong, Akhiy!” jawabku manja. Setiap menit rasanya kita selalu dekat walaupun jarak memisahkan. Aku, sudah banyak berharap. Ditambah orang tuaku sangat setuju dengan hubungan kami. Sehingga, kuputuskan untuk melanjutkan studiku ke Malang.

Hari itu, pertama kali aku menginjakkan kaki di Malang dalam kondisi kedinginan. Karena bisa dibilang terlalu dini bepergian ke kota orang. Aku ingin sekali segera bertemu dengannya. Untuk itu aku harus lebih awal sebagai sebuah surprise.

Lantunan adzan baru saja berkumandang, mencari rumah Tuhan untuk mendekatkan diri kepadanya. Sesampai di sana, tak ada tanda-tanda yang terjaga. Aku coba ketuk daun pintu. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, seseorang menghampiriku. Dan berkata, “Maaf Nona, mencari siapa?” baru saja ingin membuka mulutku, di waktu bersamaan kulihat wanita cantik menjemur pakaian di koridor samping rumah. Termenung! Hingga aku mendengar dengan jelas.

“Nona, mencari siapa?”

“Penghuni rumah ini!” jawabku santai.

“Oh, orang tua Fadil keluar kota, Mbak. Saat ini ada penghuni baru di kompleks kita. Ya, perempuan yang menjemur pakaian itu mbak. Nah, mereka baru saja menikah 3 hari lalu.”

Wanita ini rupanya tetangga Fadil, dia begitu lincah memberikan informasi kepadaku. Aku hanya terhenyak, dan beberapa bulir air mata mulai bercucuran. Entah dari mana datangnya. Hanya terasa hatiku seperti diiris belati, yang dibumbui garam juga jeruk nipis. Ah pedihnya!

Aku berlari meninggalkan kompleks, entah berlari tanpa tujuan. Hingga aku melihat sebuah Mushollah yang begitu megah. Ku usapkan air suci ke wajahku hingga kakiku pun basah. Kaki yang memijak keramik-keramik bening hingga meresapi makna firman Tuhan. Hatiku mengadu kepada Sang Ilahi Rabbi.Kecewa, menyesal, perih dan sangat mendalam tak dapat ditafsirkan.Yang ada dalam benakku, hanyalah pasrahkan kepada-Nya. Aku yakin akan ada sosok Ikhwan yang telah tertulis dalam Lauzhful Mahfuz yang akan menghalalkan cinta sehalus kapas.

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2015

You might also like

Comments