Olah Sampah Jadi Dekorasi Pernikahan

24

Isu lingkungan memang tak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Entah efek global warming, kebersihan kota, tercemarnya air tanah, dan berbagai isu lingkungan lainnya mengajak kita waspada dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. Permasalahan lingkungan di Malang hampir serupa dengan kota-kota lain di Indonesia. Tak terkecuali dengan sampah. Namun tak disangka, dari tangan terampil salahsatu warga Malang, sampah dapat disulap menjadi dekorasi pernikahan yang bernilai jual tinggi. Berikut liputan Isnatul Chasanah, Pemimpin Redaksi MediaMahasiswa Biro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menelusuri “metamorfosis” sampah menjadi sesuatu yang berguna.

Isnatul Chasanah, Pimpinan Redaksi MediaMahasiswa Biro UMM

DI Malang, produksi sampah meningkat tajam setiap tahunnya. Penduduk yang semakin bertambah menjadi salah satu penyebab utama. Dari data yang dihimpun, jumlah penduduk kota Malang pada 2014 berkisar 870ribu jiwa, sedangkan produksi sampah mencapai 300rb m2 atau 404 ton perhari. Jumlah ini tidak sebanding dengan bentuk pengelolaan sampah. Jangankan dikelola, pemungutan sampah pun belum mencapai semua titik pembuangan sampah penduduk. Selama ini, sampah tersebar di banyak titik, mulai dari tempat sampah di depan-depan rumah warga, selokan, hingga sungai. Kesadaran warga akan sampah hanya berhenti pada titik membuang di tempat sampah di depan rumah, sedangkan tindak lanjut dari Dinas Kebersihan belum optimal.

Sejauh ini penanganan sampah berhenti pada tempat pembuangan sementara (TPS), ditimbun, dibakar, dibuang ke sungai, dan muaranya adalah tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, sampah yang dibuang ke air, ke sungai maupun laut, dapat menghasilkan asam organik dan gas cair organik yang berbau tidak sedap dan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu ledakan.

Efek dari membukitnya sampah yang tidak dibarengi dengan sistem pengelolaan yang jelas oleh pemerintah adalah dampaknya di berbagai bidang, mulai kesehatan, lingkungan, hingga sosial ekonomi. Diare, kolera, atau kematian akibat air yang tercemar sampah hasil industri contohnya. Cairan yang dikandung sampah juga bisa merembes dan masuk melalui drainase dan sungai-sungai yang pengaruhnya adalah produk air yang tercemar. Padahal, air adalah barang pokok kehidupan manusia.

Di tengah peliknya masalah sampah, masih ada segelintir orang yang mau melirik dan mempedulikannya hingga menjadi barang yang tak bisa dilirik begitu saja. Rosyifah misalnya. Perempuan paruh baya ini menyulap kantong plastik bekas belanja (kresek) menjadi background foto pernikahan putrinya. Kok bisa? Ya, ketelatenan tangannya merubah kresek yang biasa diuntel-untel dan dibuang begitu saja menjadi rangkaian bunga dekorasi pernikahan. Tak hanya kresek, botol-botol air mineral dan sedotan pun bernasib baik serupa. Tak perlu ribet, kresek cukup digunting dan dibentuk melingkar, lalu diberi putik buatan di tengahnya, jadilah ia bunga yang cantik. Sedangkan botol, ia cukup digunting menjadi bentuk bunga, dicat, lalu dikeringkan. Sedotan pun tak kalah simpel. Bentuknya yang panjang cukup di belah memanjang, lalu bentuk jadi daun.

“Daripada bingung cari dekor manten yang murah, saya telateni aja sampah-sampah ini. Orang-orang puji dekorasinya cantik, nggak tahu kalau itu buatan tangan sendiri,” katanya.

Tak hanya bahan plastik saja yang menjadi keisengan Rosyifah, ia juga menyulap botol-botol bekas parfum menjadi media praktek lukisan kaca. Berbekal outline dan cat air untuk kaca, jadilah botol-botol parfum itu lebih sedap dipandang.

“Mau dipakai lagi juga bisa botolnya,” imbuh Rosyifa.

Teko kaca yang biasa jadi tempat suguhan minuman untuk tamu juga jadi sasaran kreativitasnya. Teko yang bening tanpa polesan, kini indah berlukiskan bebungaan hasil coretannya.

Tak berhenti di sana, kain-kain perca pun mendulang rupiah. Rosyifah mengubah kain perca menjadi bros manis. Dari sini, ia beberapa kali mendapatkan pesanan membuat bros untuk souvenir pernikahan. Sempat juga ia menekuni produksi bros dari kain perca hingga dipasarkan kemana-mana.

“Waktu main ke teman saya yang penjahit, kok sayang gitu lihat kain perca masih bagus-bagus ditumpuk gitu aja. Tiba-tiba aja kepikiran diapa-apa­in bisa nih percanya. Ide muncul nggak terduga, kadang sambal cuci piring tiba-tiba kepikir bentuk bros yang bisa dikreasikan, ya langsung saya tinggal itu cucian piring,” ungkap Ros sambal tertawa.

Sampah yang meningkat bisa jadi tak hanya dari ranah industri, pendidikan, atau pariwisata saja. Rumah tangga malah menjadi penyumbang terbesar sampah di Malang berdasarkan data. Efeknya yang besar bisa menyusut jika pengelolaan yang baik perlahan mulai dijalankan. Tak hanya pemerintah, warga biasa pun laik menjadi pengolahnya.

Rosyifah sudah jadi salah satu bukti nyata bahwa sampah tak hanya bisa ditumpuk begitu saja, tapi bisa juga menjadi indah bahkan mendulang rupiah. Perlu ada Rosyifah-Rosyifah lain di Malang yang mampu melirik sampah bukan hanya untuk dikritik, tapi juga diolah menjadi benda-benda cantik dan unik. (***)

You might also like

Comments