Agus, Setitik Kisah dari Hura CFD

10

Mulutnya hampir tidak berbicara, ia sibuk menarik perhatian anak-anak dengan meniup-niup mainan yang ia jajakan, sembari sesekali bersuara “Balon… balon!!!” dengan lantang. Mohammad Syaroni, wartawan Mediamahasiswa.

Bagi kebanyakan orang tidak ada yang menarik dari seorang penjual balon, tapi menilik sisi terdalam dari seorang penjual balon dengan 3 anak ini menarik bagi saya. Setahun sudah saya tinggal di kota Malang, namun baru kali ini saya merasakan Car Free Day (CFD) di kawasan Ijen. Saya hampir tidak bisa membedakan CFD dengan pasar dadakan, karena di sepanjang jalan Ijen dipenuhi dengan berbagi penjual, mulai dari aksesoris, makanan, hingga baju. Berbeda dari kebanyakan penjual di CFD yang sebagian besar laku keras dan kelihatan tidak pernah sepi pembeli, penjual balon di CFD tidak selalu mujur dagangannya akan laku terjual.

Saya berbincang dengan Agus, salah satu dari beberapa penjual balon di CFD. Pria 51 tahun ini terlihat garang dari penampilan luarnya. Hampir saja saya mengurungkan niat saya untuk kepo gara-gara penampilan luar itu, tetapi dugaan saya salah, Agus adalah salah satu dari sekian banyak pejuang keluarga yang mau melakukan apapun demi tetap menyambung hidup. Ia rutin menyambangi CFD setiap minggunya. Berbekal sepeda motor butut, ia berangkat dari Gadang, tempat tinggalnya, ke kawasan Ijen.
Agus hari itu berkeliling menjajakan jualannya. Tangan kirinya penuh dengan balon karakter yang disukai oleh anak-anak beserta satu karung plastik besar mainan tiup yang dibawanya dengan susah payah. Mulutnya hampir tidak berbicara, ia sibuk menarik perhatian anak-anak dengan meniup-niup alat mainan yang ia jajakan, sembari sesekali bersuara “Balon… balon!!!” dengan lantang.
Beberapa kali ia terlihat mondar-mandir ke sudut-sudut jalan Ijen, berharap akan ada seorang anak yang merengek minta dibelikan ibunya balon. Tetapi kenyataan berkata lain, tidak banyak orang tua yang berniat membelikan anaknya balon atau mainan tiup hari itu. Walau begitu ia tidak pernah menyerah, sepanjang hari itu saya hampir jarang melihat Agus berhenti bergerak. Jika satu sudut telah ia datangi, ia beranjak ke sudut lainnya, begitu seterusnya.
Tidak ada kata yang lebih pantas menggambarkan Agus selain sebagai kepala keluarga yang legowo dan pantang menyerah. Mengaku berjualan balon semenjak kelas 3 SD membuat Agus berbeda dari kebanyakan anak lainnya pada saat itu. “Setelah sekolah saya jualan, Mas,” tukas Agus. Namun karena keterbatasan biaya, Agus terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP setelah lulus SD dan memilih tetap berjualan balon. Kini di usianya yang tidak lagi muda, Agus sadar betul bahwa sebenarnya ia tidak akan selalu sanggup menjajakan balonnya, terlebih penjual balon harus selalu pergi ke berbagai tempat agar jualannya laku. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa berharap pada kedua anaknya yang pekerjaannya juga tidak menjanjikan, terlebih salah satu dari anaknya telah berkeluarga. Satu-satunya harapan Agus saat ini adalah agar tetap bisa menyekolahkan anak bungsunya yang masih kelas 5 SD. Bagi Agus, biaya tidak mengkhawatirkannya, “Asal usaha, pasti bisa nyekolahin anak Mas, saya yakin,” ungkapnya optimis.
Pilihan menjadi penjual balon bukan tanpa alasan, Agus mengaku ia tidak memiliki keahlian lain untuk bekerja di sektor formal. Agus tidak sendiri, ia bersama 68 juta penduduk Indonesia juga termasuk dalam 40 % penduduk yang sangat dekat dengan garis kemiskinan, yaitu tanpa pendidikan yang memadai dan hidup dalam keprihatinan. Ini mengingatkan saya bahwa kemiskinan ibarat lingkaran setan yang tanpa putus menghantui. Mungkin ini tidak berlaku bagi seseorang yang terahir dari keluarga mampu, namun bagi Agus dan penduduk pra-sejahtera lainnya, perlu tekad yang kuat agar benar-benar terlepas dari kemiskinan. Pendidikan bisa menjadi salah satu jalan yang ditempuh, namun kenyataannya pendidikan saat ini juga tidak bisa dikatakan terjangkau. Pun tidak semua pendidikan yang bebas biaya adalah berkualitas. Saat yang kaya bebas menghambur-hamburkan uang, Agus dan kepala keluarga lain yang saat ini tidak punya banyak pilihan mengingatkan kita bahwa begitu berharganya apa yang kita punya saat ini, bahwa sebelum semuanya itu hilang dan keterbatasan bukanlah halangan.

 

You might also like

Comments