Sebuah Kisah Dibalik Wisata Air Terjun Rondo

6

Malang selalu penuh dengan tempat wisata alam yang dapat memukau pengunjungnya. Salahsatunya adalah Coban Rondo. Berikut penelusuran reporter MediaMahasiswa.com Alif Devin dalam menyusuri objek wisata alam ini.

Alif Devin, reporter MediaMahasiswa.com

WISATA Coban Rondo yang berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, kini menjadi primadona bagi para wisatawan. Untuk mencapai coban rondo dapat kita capai dengan berbagai cara, bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus atau angkot, maupun dengan kendaraan pribadi seperti motor.

Mungkin banyak orang yang belum tau apa itu coban, coban merupakan bahasa jawa yang berarti air terjun dan rondo sendiri berarti janda, untuk itu arti dari Coban Rondo adalah air terjun janda. Eits, tunggu dulu, jangan terbayang yang aneh-aneh ketika menyebut janda. Coban Rondo mempunyai kisah tersendiri dari namanya. Kisahnya adalah ketika pasangan suami istri yang baru menikah. Sang istri bernama Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, sedangkan suaminya bernama Raden Baron Kusuma yang berasal dari Gunung Anjasmoro.

Ketika pernikahan sudah mencapai 36 hari (selapan), Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk mengunjungi Gunung Anjasmoro, daerah asal suaminya. Orang tua Dewi Anjarwati melarang keduanya pergi karena baru selapan. Tetapi, Dewi Anjarwati dan suaminya tetap berkeras untuk pergi. Ketika dalam perjalanan, mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak diketahui asal-usulnya. Joko Lelono terpikat oleh kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya.

Akhirnya perkelahian antara Raden Baron Kusuma dengan Joko Lelono tidak dapat dihindarkan. Kepada punokawan yang menyertainya, Raden Baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di tempat yang ada cobannya (air terjun). Perkelahian terus berlangsung sampai akhirnya Raden Baron dan Joko Lelono sama-sama tewas. Dengan demikian Dewi Anjarwati menjadi janda atau dalam bahasa Jawa yaitu rondo. Sejak saat itu, air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya disebut Coban Rondo. Konon, batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri.

Nah, sudah tahu kan kisah dari nama Coban Rondo itu sendiri? Tunggu dulu, masih banyak juga wisata yang dapat kita nikmati di kawasan wisata alam Coban Rondo ini. Selain air terjun yang menjadi primadona utama, masih ada wisata seperti berkuda, bersepeda, kalau anda suka main air bisa mencoba bermain rafting atau berkeliling dengan menggunakan segwey, yaitu skuter elekronik jika kita malas mengayuh sepeda.

Kawasan wisata yang diresmikan pada 1980 diawali hanya air terjun dan perkemahan di tanah seluas 90,3 hektar, lalu pada 1995 dibuka wahana wisata untuk melihat hewan gajah, namun dikarenakan gajah tidak cocok di kawasan wisata ini, pada 2010 dibuka wahana wisata labirin dan juga panahan. (***)

You might also like

Comments