Simpanan

16

Oleh: Maulidia Assyifa Salsabila

Mereka bilang aku adalah wanita murah yang
bahkan tanpa harga bersedia disetubuhi Mimpi.
Salah apa kalau aku mencintai dan dicintai Mimpi?
Toh, semesta mentakdirkan kita untuk bersatu.
Mereka saja para babi yang iri padaku.
Aku ini kebal, tak mudah roboh dengan cacian murah.
Cacian kebun binatang.

Aku tahu itu, Mimpi. Aku tahu dinginmu yang
menghangatkan. Aku tahu resahmu yang menggairahkan.
Jangan lagi kau sebut aku gampangan karena jelas
hanya kamu yang aku mau, tidak ada yang lain.

Nyata, maafkan aku yang telah merebut Mimpi darimu.
Hina aku sesakit perih hatimu.
Pikirkanlah kata-kata bejat yang mampu menguliti jiwaku.
Tapi kau tak akan bisa melepas segala jerat birahi Mimpi
yang terlanjur meresap ke setiap denyut nadiku.
Nyata, kau terlalu cantik untuk Mimpi. Cari saja yang lain.
Aku yakin masih banyak yang mau menindih tubuh indahmu.

Malam ini Mimpi datang ditengah tidurku yang panjang.
Tanpa celana, ia memaksaku untuk meladeni
hasratnya yang menggebu.
Saat itu juga ia terlihat seperti monster maniak yang keji.
Tak apalah. Aku menyukai segala desah yang ia keluarkan.
Aku selalu menyukai permainan kasarnya.
Aku tak pernah mengeluh saat ia menjambak rambutku
seolah aku adalah anak perempuan penuh dosa
yang baru saja memecahkan gelas di dapur.

“Jangan takut, sayang…”

Angin berbondong-bondong bertiup saling menggesek daun.
Para babi diluar mulai berteriak ribut dengan obor dan
parang tajam yang membuat mata perih.
Tak ada bintang di langit,
kalah oleh percikan api emosi yang mengerikan.

“Keluar! Keluar! Hadapi kami, pengecut!”

Terdengar suara Nyata. Terdengar suara Hasil,
darah daging semu dari persetubuhan Mimpi dan Nyata.
Aku semakin kalut di tengah nafsu yang tak berujung.
Jelas beberapa saat lagi kami–atau hanya aku–akan
meregang nyawa di tangan para babi sok suci itu.
Berakhir dengan indah, meski sia-sia tanpa sisa.


Tuesday, 18 June 2013

 

You might also like

Comments