Arus Utama Media Kelas Mahasiswa

6

Sebagai ilustrasi, kita kembali mengingat-ingat bagaimana gejolak UKT. Juga bagaimana gejolak ketika pencairan beasiswa telat. Atau ketika mahasiswa susah dapat tempat parkir, dan lain2.

Seperti juga apa yang sepekan ini mendaras emosi media kelas mahasiswa. Yaitu soal pemecatan mahasiswa UNJ oleh rektornya.

Apa yang bisa ditelisik dari beberapa gejolak di ruang publik dunia maya mahasiswa itu??? Maksudnya adalah, dengan melihat dari latar picu gejolak itu, kita akan dapat melihat apa spirit dan motif mahasiswa dalam melakukan gerakannya. Lalu kita jawab bareng-bareng pertanyaan, bagaimana bentuk transformasi gerakan mahasiswa kini?

Bagiku, sejauh penglihatanku, gerakan-gerakan itu tak jauh, bahkan melekat dan memang hanya berkaitan dengan ketubuhan dan kebutuhan mahasiswa itu sendiri. Yang diperjuangkan tak jauh dari untung/ rugi bagi mereka, mahasiswa. Makanya karena itu, karena berkaitan dengan kebutuhannya, gerakan mahasiswa itu mudah banget menyebar dan langsung berubah menjadi kekuatan penekan yang luarbiasa besar bagi pihak yang di sasar. Jadi, sebab kepentingannya tersentil, terganggu, kesatuan mahasiswa itu mudah sekali membesar!

Pola ini juga dapat ditemukan kala yang menjadi objek sasarnya itu adalah kebijakan pemerintah atau yang berkaitan dengan lembaga eksekutif negara. Terkait ini sama, gerakan mahasiswa mudah sekali membesar. Barangkali, opini saya, hal ini disebabkan oleh, salah satunya, imaji tentang kharisma gerakan ’98 telah mendarah daging dalam tubuh intelektual mahasiswa. Jadi karena ada upaya nostalgis popularitas gerakan di sana.

Tetapi… Apa yang terjadi dalam gerakan mahasiswa ketika ada persolan, seperti contohnya soal “salim kancil” atau “direbutnya sumber2 air di Kota Batu oleh pengembang wisata-kapitalistik”?

Apakah ada gerakan mahasiswa yang membesar??? Tidak! Saya rasa tidak ada.

Ilustrasi lain pada beberapa waktu lalu ketika temen2 pers mengadakan kajian filem Semen vs Samin. Pertanyaannya, apakah yang membesar dalam ruang publik mahasiswa adalah substansi masalahnya?? Yaitu “direbutnya” sumber kehidupan rakyat petani??? Bukan! Malah yang membesar di ruang publik mahasiswa adalah soal “diganggunya acara itu”. Jadi, kembali lagi, yang menjadi isu besar dalam publik mahasiswa adalah soal yang berkaitan dengan dirinya-sendiri. Yaitu, dalam hal ini, adalah perkara dilanggarnya hak mahasiswa itu sendiri.

Jadi ingat kata mantan ketua Aji Malang beberapa waktu lalu. Yaitu bahwa beda mahasiswa model gadjet dengan mahasiswa model dulu adalah pada persentuhannya dengan rakyat, ikatan batinnya, kepekaan rasanya, sehingga menubuh dalam gerakan advokasi nyata membela rakyat yang tertindas, bukan ketertindasan dirinya-sendiri.

Lalu, untuk siapa sebenarnya tanggung jawab intelektual kita?

Ahmad Fauzi

You might also like

Comments