Proses Menuju Jodoh

9

Identitas Buku:

 

Judul: Fikih Menjemput Jodoh

Judul Asli: Khithbatun Nisἀ’ Wat Targhἰb Fiz Zawἀj

Penulis: Musthafa bin Abul Ghaith Abdulhayi

Penerjemah: Rohmatulloh Ngimadudin

Penerbit: Al Qowam

Tahun Terbit: Cetakan I, Agustus 2015

Tebal: X + 188 halaman

ISBN: 978-602-8417-54-9

Jodoh adalah salah salah satu yang sangat misteri dalam hidup ini.  Jodoh bukan soal siapa yang kita inginkan dan siapa yang menginginkan kita. Sering seseorang menginginkan orang yang dicintainya menjadi jodohnya, namun Tuhan berkata berbeda. Buku yang berjudul “Fikih Menjemput Jodoh” ini membahas permasalahan jodoh dan persoalan hukum dan bimbingan dalam Islam dalam menjemput jodoh. Buku karangan Musthafa bin Abul Ghaith Abdulhayi ini mengupas permasalahan jodoh mulai dari cara memilih calon pasangan, masalah khitbat, hingga hukum menikah. Buku ini dapat menjadi pedoman kita terutama yang belum menikah dalam menjemput jodoh.

Memilih calon pasangan sangat dianjurkan sebelum kita melangkah lebih lanjut. Rasulullah bersabda, “Wanita itu dinikahi sebab empat hal: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya agar kamu beruntung.” (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa’i).

Hal utama yang dipertimbangkan dalam memilih pasangan adalah dinilai dari segi agamanya baik untuk laki- laki maupun wanita. Selain itu juga tetap mempertimbangkan masalah harta, keturunan, serta kecantikan atau ketampanannya. Apabila dua orang lelaki yang sepadan derajat agamanya mengkhitbat seorang wanita, akan tetapi nasab salah satunya lebih baik maka didahulukan orang yang bernasab lebih baik, jika kualitas agama yang satunya tidak lebih baik ( hlm 21).

Bagaimana cara mengkhitbat dan hukum- hukum seputar mengkhitbat? Dalam buku ini dibahas secara rinci mulai dari definisi, hukum, tata cara dan mengenai hukum melihat wanita yang kita khitbat.  Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian mengkhitbat seorang wanita dan ia mampu melihat beberapa bagian yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka hendaklah dia melakukannya.” (HR. Thawabi, Ahmad, Abu Daud).

Sebelum mengambil keputusan khitbat, seseorang juga dapat melakukan sholat istikharah yang juga dibahas dalam buku ini. Mulai kedudukan dan fungsi sholat istikharah dan tata cara dituliskan penulis dalam bukunya ini. Sehingga kita lebih paham kapan seharusnya melakukan sholat istikharah dan tidak melakukannya.

Bagaimana dengan hukum meninang pinangan orang lain? Rasulullah bersadba,”Hindarilah prasangka karena prasangka adalah perkaaan yang paling dusta. Janganlah mencari- cari berita (tidak baik), jangan memata- matai, jangan saling membence atau saling membelakangi. Janganlah seseorang mengkhitbat wanita yang telah dikhitbat  oleh saudaranya sampai saudaranya itu menikah atau meninggalkan khitbatnya.” (HR. Bukhari, Muslim).

Pembahasan yang menarik lainnya dalam buku ini adalah bagaimana dampak dari pembatalan khitbat. Terkadang karena suatu hal baik dari kedua belah pihak atau hanya sebelah pihak membatalkan khitbat tersebut. Lalu apa yang akan terjadi dan langkah apa yang harus mereka tempuh yang sesuai dengan islam? kita dapat menemui jawabannya dalam buku ini.

Menikah adalah ladang ibadah. Menikah dianjurkan dalam islam bagi siapa yang telah mampu melakukannya. Sedangkan yang belum mampu dianjurkan untuk  mempersiapkan diri baik dari segi fisik, mental, ekonomi, dan persiapan lainnya. Dianjurkan juga berpuasa bagi yang belum mampu menikah untuk membentengi dirinya.  Rasulullah bersabda, “Pernah datang tiga orang kerumah istri- istri Rasulullah bertanya tentang ibadah Rasulullah. Ketika mereka diberi tahu mereka menganggap seolah- olah sedikit. Mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dibanding dengan Rasulluah yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Salah seoag diantara mereka berkata, “jika demikian saya akan sholat sepanjang malam.” Yang lain berkata, “Saya akan berpuasa terus menerus dan tidak akan berbuka.” Yang lain berkata, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikahinya selamanya.” Rasulullah mendatangi mereka dan bertanya, “Kaliankah yang berkata begini dan begini? Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, sholat (malam) dan tidur, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, ia bukan golonganku.” (HR. Muslim). (ta)

Biodata Peresensi

Nama                            : Emalia Nora

 

You might also like

Comments