Mahasiswa dan Kenyataan

13

Oleh: Baikuni Al Shafa*

Kalian (mahasiswa) yang sering berbincang tentang kesenjangan hidup, serta perjuangan rakyat. Tak sedikit yang mengaku aktivis, organisatoris dan aktif dalam ornop (lembaga non pemerintah) layaknya LSM.

Sementara, nyatanya yang kalian lakukan adalah sibuk dengan diskusi dan tugas- tugas kuliah yang menumpuk dikejar dateline, ibarat siswa yang takut tidak naik kelas semasa SD.

Tertunduk lesu dihadapan guru dan dosen yang berseru penelitian PKM, LKTI yang terlembaga didalam garis struktur perguruantinggi dibawah naungan DIKTI yang menguasai. Tidak disadari jika motif nilai KHS tinggi bukanlah hal yang sejati, yang ada kepentingan akomulasi modal borjuasi.

Kalian bicara tentang hak untuk hidup orang banyak di dalam negeri, namun menegasikan hak hidup rakyat miskin, dengan memilih lari dari kenyataan buruh dan tani yang tertindih ngeriiiiiiii..

Kalian sering berucap atas namBa perjuangan dan seruan ideologi, sementara banyak rakyat marjinal yang tak tau, tentang apa yang kalian perbincangkan mengenai ideologi. Karena rakyat miskin tak akan peduli terhadap ideologi yang kalian pikirkan, rakyat hanya tau bertahan, serta perut dan dapurnya terpenuhi untuk hidup.

Mereka tak akan sadar, jika ideologi kalian hanya ada diruang- ruang seminar, lokarya dan forum- forum diskusi. Ideologi yang kalian yakini hanya ada jika bersama- sama mengetahui, dan masuk dalam kesengsaraan rakyat yang nyata dihadapinya.

Kalian mengecam kejahatan peguasa kapital hingga kini, dan kau ulang-ulangi cerita derita akibat penindasan oleh kapitalisme dan imprealisme, agar dapat simpati dan empati media (berita) tentang kondisi negeri, namun kalian lari jika sudah mendapatkan posisi birokrasi.

Kalian bersimpati dan peduli, namun tentu itu bukan alasan pembenaran atas kedudukan kalian sebagai borjuasi kecil, yang tak ada jaminan untuk menjadi penindas baru yang keji. Betapa naif nya kalian mengaku sebagai  pejuang sejati dan pembawa perubahan, jika kesengsaraan hanya dirasakan kaum buruh dan tani yang semakin hari semakin miskin di negeri yang kaya ini.

Sementara kelas penguasa negeri asyik bermain pasal dan aturan kebijakan, bersama borjuasi nasional dan luar negeri, yang punya ratusan bahkan jutaan dolar yang mampu mebeli tenaga murah dan sumber daya alam negeri ini.

Kalian menjawab anti feodalisme, fasisme dan otoritarianisme, namun didalam negeri demokrasi, kalian terbungkan dan terpenjara oleh borjuasi dan birokrasi.

Kalian semakin menjauh dari kenyataan yang dihadapi rakyat sejati, dengan membiarkan gerakan mahasiswa terpolarisasi keruang penghianatan, seolah semakin mempertegas kelasnya yang bimbang, terombang ambing oleh modal borjuasi.

Kalian berdiri diatas negeri sendiri, di negeri yang didirikan diatas kesengsaraan dan penderitaan kami sebagai rakyat kecil yang terkucilkan oleh hegemoni pemilik energi dan komoditi.

Di negeri ini, ketika kalian bicara tentang hak kedaulatan, semua punya banyak arti. Hak dan kewajiban kalian untuk mengerti atas kondisi,  namun kalian tidak menyadari bahwa kalian diperintah oleh pemerintah penguasa negeri.

Sehingga hak kalian dirampas, hanya untuk patuh menuruti yang berkuasa atas pasar ekonomi dan sumber daya alam negeri.  Hak kita sebagai rakyat hanya untuk tunduk atau mati, ibarat ayam mati dilumbung padi (rakyat hanya hidup menjadi budak dinegeri sendiri).

Kalian tidak akan bisa sadar, jika terbawa arus gelapnya jubah para birokrasi, yang samar- samar mengaku sebagai penegak demokrasi, namun nyatanya demokrasi hanya dinikmati sekelumit manusia yang bangga pada dirinya sendiri.

Dan selamanya tak akan bisa sebagai rakyat demokratik, jika pemuda- pemudi hanya terjerembab oleh kemajuan teknologi yang tak terproduksi oleh anak negeri sebagai komoditi. Yang ada hanya penikmat dan pecinta eksistesi,  melalui hegemoni budaya konsumerisasi.

Kalian (mahasiswa) tidakkah yakin bahwa penindasan akan menemukan resistensi, bersama- sama menyaksikan kelas penguasa lari terbirit-birit, diguncang dengan kata revolusi.

Kemenangan rakyat tertindas memang belum terjadi, namun kalian harus  yakin bahwa rakyat akan terus datang kembali untuk merebut kedaulatan ekonomi-politk negeri ini melalui Revolusiii..!!

*Penulis merupakan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Renaissance FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

You might also like

Comments