Persma Kampus Putih Mandul

86

Oleh: Ade Chandra Sutrisna*

KEHIDUPAN Kampus Putih (baca: Universitas Muhammadiyah Malang) dengan “romantisme overdosis”-nya mesti diimbangi dengan kesadaran kritis mahasiswa terhadap segala bentuk bahaya laten penindasan dan penghisapan. Pers kampus yang diharapkan mampu mengambil peran tersebut, -karena bagian inhern di dalam civitas academica- kehilangan gigi taringnya ketika berita yang diungkap tak lagi dalam bahasa yang emosional, provokatif dan menyerang. Terlebih elemen investigasi tak lagi jadi senjata yang bisa diandalkan: bisa karena pelatihan yang minim atau beban kuliah yang membelit.

Kondisi ini diperparah dengan mandul, bahkan matinya sejumlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di masing-masing fakultas. Akhirnya, pemberitaan seputar kampus hanya menyentuh pada ranah permukaan atau bahkan sekedar ceremonial semata.

Sebut saja LPM Persona di Fakultas Psikologi. Meski masih nampak geliat kehidupannya, berdasarkan subyektifitas penilaian penulis, profil ideal pers mahasiswa masih jauh panggang dari api. Pun kondisinya tak beda jauh di Fakultas Hukum. Sekretariat sebuah lembaga pers mahasiswa yang sedianya diramaikan dengan hiruk pikuk kerja redaksional, kini hanya menyisakan ruang berdebu, juga lemari yang tersusun didalamnya daftar majalah yang pernah diterbitkan. Sedangkan, di jurusan Ilmu Komunikasi yang notabene bersinggungan langsung dengan dunia jurnalistik,-dengan adanya praktikum peminatan jurnalistik- pun belum mampu menelurkan produk jurnalistik yang mapan.

Ikhtiar bukannya tidak pernah dilakukan. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) periode lalu (2014-2015) saat ditanya penulis terkait niatannya untuk menghidupkan kembali pers mahasiswa, BEM-U mengkonfirmasi bakal diadakannya forum berbentuk koordinasi sebagai usaha mengidupkan kembali pers mahasiswa di tiap fakultas. Namun hingga berakhirnya kepengurusan, hajat tersebut belum juga terealisasi.

Kepala program studi Ilmu Komunikasi, Sugeng Winarno saat terlibat obrolan santai dengan penulis di kantornya menerangkan, kondisi mahasiswa dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. “Dulu, agenda kita ya mikiri rakyat-mikiri masyarakat. Sekarang kan, mahasiswa hanya disibukan dengan kehidupan kampus. Mahasiswa hanya berada pada posisi mapan. Mereka hanya sibuk kuliah dan Mall, “ tegas pria yang pernah menjadi Pemimpin Umum (PU) majalah Muara, produk pers mahasiswa garapan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada dekade 1990-an. Ia menceritakan, ketika itu pers mahasiswa menjadi satu-satunya alat perjuangan untuk mahasiswa selain melalui kegiatan demonstrasi tentunya.

Pers Mahasiswa Seharusnya

Jika menilik sejarah gerakan mahasiswa kebelakang, kita akan mendapati begitu startegisnya peran pers mahasiswa dalam percaturan ekonomi-politik Indonesia. Di era konsolidasi Orde Baru, seperti dicatat Francois Raillon dalam Wisnu Prasetya Utama (2013: 6), pers mahasiswa memiliki peran penting dalam mendukung ide-ide modernisasi yang dibawa oleh rezim baru. Pengakuan akan potensi pers mahasiswa ini pun semakin terlihat jelas selama era Orde Baru, bahkan menjelang runtuhnya rezim tersebut. Pemerintah mengeluarkan serangkaian kebijakan. Dengan berbagai cara, rezim berusaha mereduksi arti kehadiran pers mahasiswa dengan cara membatasi istilah-istilah yang boleh dan tidak boleh digunakan. Definisi pers mahasiswa sendiri bahkan ditentukan. Seperti dinyatakan Dirjen PPG, Sukarno dalam Didik Supriyanto (1998: 81), definisi dibedakan menjadi:

Penerbitan kampus adalah semua bentuk penerbitan yang diselenggarakan oleh kampus dan untuk kepentingan kampus. Pers-kampus mahasiswa adalah semua bentuk penerbitan berkala yang diselenggarakan oleh mahasiswa dalam di dalam kampus dan untuk kepentingan kampus. Pers mahasiswa adalah semua bentuk penerbitan yang dikelola mahasiswa di luar kaitan kampus.

Pers Mahasiswa Dimatikan(?)

Sugeng menilai, kemungkinan yang mendeterminasi kondisi ini karena kurikulum dan sistem yang membuat mahasiswa hanya disibukkan dengan kegiatan kuliah, “Tentu kita perlu melakukan riset untuk membuktikannya.” Hal tersebut yang menurut Sugeng akhirnya mengikis daya kekritisan mahasiswa. “Sehingga,” lanjut Sugeng,” dia tidak sempat memikirkan agenda-agenda yang ada di kemasyarakatan. Bahkan mahasiswa tidak ngerti apa yang seharusnya ia perjuangkan untuk masyarakat. Dia lebih mementingkan bagaimana IPK-nya bagus, secara pribadi dia sukses. Padahal, peran mahasiswa tidak hanya itu. Dia sebagai agent of change, mahasiswa harus mengakomodasi apa yang menjadi keluhan masyarakat.”

Menyesuaikan Diri

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, media sosial mendominasi arus utama informasi masyarakat. Kecenderungannya, masyarakat mulai meninggalkan media cetak berupa koran dan majalah. Konsekuensinya, banjir informasi menjadi hal yang tidak terelakan. Pers mahasiwa, lanjut Sugeng, harusnya berperan meng-counter ketidakjelasan informasi tersebut. “Harusnya, pers mahasiswa bisa menyesuaikan tuntutan zaman. Ketika pembaca lebih suka go-online, saya kira tidak jadi masalah pers mahasiswa juga harus mulai bermigrasi ke online. Toh, yang penting kan kontennya tetap baik,” ungkapnya.

Dengan segala kemungkinan yang ada, pers mahasiswa diharapkan bisa kembali bangkit. Keterbatasan sumber daya untuk mengimbangi ‘permintaan pasar’ bisa disiasati dengan membuat jaringan organisasi pers mahasiswa di  tingkat universitas. Sebagai sebuah networking, organisasi ditingkat universitas dibutuhkan sebagai ajang tukar pikiran sesama pers mahasiswa. Misalnya saja sharing tentang pengelolaan organisasi maupun penerbitan. Bahkan dalam isu tertentu misalnya, pers mahasiswa bisa melakukan join research. Bahkan juga bisa membentuk pusat informasi pers mahasiswa universitas. Dengan lingkup wilayah yang luas, kerjasama ini bisa membuat pers mahasiswa mengimbangi dan menjadi alternatif penyedia informasi.

*Penulis merupakan mantan Pemimpin Redaksi Media Mahasiswa Biro Universitas Muhammadiyah Malang.

You might also like

Comments