Pemilu Raya Kampus, Mari Bersama Merawat UMM

35

Oleh : Tomy Rahmatwijaya*

Universitas merupakan lembaga yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan akademis. Seperti yang kita ketahui, akademis berasal dari kata akademia yaitu sebuah lembaga yang dibentuk oleh seorang filsuf romawi yaitu Plato. Di dalam dunia akademis kita mempelajari segala sesuatu mengenai kehidupan, mulai dari alam semesta, sains, sampai ke pelajaran ilmu sosial dan politik untuk menuju ke kehidupan yang lebih berkualitas. Sinergis dengan tujuan dasar akademis, salah satunya pelajaran politik sangat diperlukan, karena di kehidupan kita tidak bisa lepas dari politik. Dalam hal mendukung pembelajaran tersebut perlu adanya dukungan dari pihak universitas sebagai lembaga tempat berproses mahasiswa.

Mahasiswa yang disebut-sebut sebagai generasi intelektual muda yang akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan bangsa kedepannya juga harus ikut terlibat dalam semua dinamika yang ada di dalam kampus. Menurut bapak Muhadjir Effendi, “Mahasiswa masuk kampus jangan hanya kuliah setelah itu pulang. Tetapi mahasiswa juga harus mengikuti aktivitas-aktivitas lain yang ada di kampus.”

Para Partai Politik Mahasiswa yang akan bersaing di momen pemilu raya UMM ini hadir untuk memfasilitasi mahasiswa untuk ikut terlibat dalam dinamika perpolitikan kampus, tanpa harus meninggalkan komitmen akademis teman-teman mahasiswa. Partai politik mahasiswa ini selain memfasilitasi, juga sebagai tempat pembelajaran politik mahasiswa. Parameter keberhasilan partai politik mahasiswa ini dalam prosesnya untuk memberikan edukasi politik tentunya tidak mudah dalam perjuangannya.

Berangkat dari niat dan semangat untuk terus memperbaiki sistem perpolitikan kampus, diharapkan ajang Pemilu Raya UMM tidak hanya dijadikan ajang untuk eksistensi ataupun mencari kekuasaan. Proses Pemira sebaliknya justru harus dijadikan pembelajaran politik mahasiswa. Dan politik kampus ini bisa dijalankan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya politik tanpa, meminjam pernyataan Nicole Machiavelli, “Menghalalkan segala cara untuk menang”

Seperti diketahui bersama, persaingan yang dilakukan beberapa partai politik mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang dari tahun ke tahun mengalami proses yang buruk. Saling menjegal lawan untuk merebut tampuk kekuasaan di kampus, tanpa peduli proses-proses baik yang harus dilakukan. Sehingga sering adanya kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan kebenaran, tidak terima dengan hasil yang sudah ada. Kelompok ini sering disebut dengan “Barisan Sakit Hati”

Di era modern seperti ini, cara-cara konvensional tidak akan bertahan lama dalam persaingan antar partai politik mahasiswa. Dewasa ini, dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan berkembang pesatnya dunia teknologi memaksa kita untuk ikut masuk kedalamnya. Itu kemudian yang harus dimaanfaatkan untuk memunculkan sosok pemimpin yang dipilih secara kolektif. Tidak bisa dipungkiri juga kalau cara konvensional, semisal, ‘menggiring’ massa untuk memilih pemimpin yang sedang diperjuangkan masih sangat efektif untuk dilakukan. Tetapi proses-proses seperti itu sudah hal pasti yang akan dilakukan. Yang menjadi persoalan adalah kita terlalu kaku dalam menyikapi moment-moment politik seperti Pemira UMM.

Jika para peserta pemira tersebut berhasil dari ke’kaku’an tersebut, maka inovasi politiklah yang juga sangat penting untuk menjadi pembahasan. Kampanye-kampanye kreatif partai tanpa disadari mampu membuat euforia pemira ini lebih terasa. Desain kreatif yang kekinian dan memanfaat media-media sosial sangat mampu mengubah paradigma mahasiswa yang apatis untuk ikut terlibat dalam moment politik yang kadang dianggap hanya untuk mahasiswa organisatoris (aktivis, red).

Menurut Bertold Brecht (1898-1956), “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa dan obat, semua tergantung kepada keputusan politik. Orang yang buta politik terlalu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Ia tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Kalau pernyataan tersebut kita tarik ke lingkup yang lebih kecil, universitas, otomatis semua tindakan politik kita akan berpengaruh kepada beberapa kebijakan yang akan diterapkan pihak universitas. Maka dari itu, untuk membantu memperbaiki Universitas Muhammadiyah Malang, kita tidak hanya dituntut untuk berpartisipasi dalam pemilu raya. Lebih dari itu, kita harus mengawal bersama-sama setiap kebijakan yang akan diambil.

*Sekertaris Jendral Parpolma KITA 2016-2017

You might also like

Comments