Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah

18

Identitas Buku :

Penulis   : Tele Liye (Darwis Triadi)
Penerbit  : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 512
Tahun Pertama Terbit : 2012 cetakan keempat belas

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta.
Apakah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita?

Demikian sepenggal tulisan yang berada di halaman sampul belakang novel ini. Novel tulisan novelis terkenal “Tere Liye” ini secara garis besar bercerita tentang kisah cinta sepasang manusia. Kisah cinta yang setiap orang memiliki cerita berbeda beda dan tidak selalu manis. Borno, tokoh utama dalam novel ini digambarkan penulis sebagai sosok pemuda ‘berhati lurus’ yang tinggal di tepian sungai Kapuas dan Mei, si gadis pemilik ‘wajah sendu menawan’
Kisah mereka diawali dengan masa kecil Borno yang penuh dengan keingin tahuan, mulai dari panjang sungai kapuas hingga hal tidak penting lainnya menurut orang lain tapi sangat penting menurutnya yaitu tentang berapa lama yang dibutuhkan kotoran akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumahnya ketika ada yang buang air besar di hulu sungai kapuas. Kisah masa kecil yang indah dan menyenangkan itu tiba-tiba lenyap saat ia berusia 12 tahun. Bapak Borno, seorang nelayan yang juga tulang punggung keluarga kehilangan nyawanya setelah jatuh dari perahu dan tersengat ubur-ubur yang jauh lebih mematikan dibanding badai sekalipun. Sebenarnya, tersengat ubur-ubur bukan penyebab utama meninggalnya bapak Borno. Beliau memilih untuk mendonorkan jantungnya kepada pasien gagal jantung. Namun tak pernah ada yang tahu rahasia ini selain dokter yang menangani bapak Borno saat itu.
Cerita kemudian terlempar beberapa tahun kemudian, dimana Borno sudah beranjak dewasa dan menjalani lika liku kehidupan dengan bergonta ganti pekerjaan. Borno, yang hanya lulusan SMA pertama kali bekerja di pabrik pengolahan karet di tepian Sungai Kapuas. Namun karena masalah internal pabrik, ia  bersama ratusan karyawan lainnya dipecat setelah 6 bulan bekerja. Hingga akhirnya ia menjadi seorang pengemudi sepit (sebutan masyarakat lokal untuk perahu bermesin tempel, di adaptasi dari bahasa asing speed). Dan inilah awal mula kisah cinta Borno dan Mei. Borno yang jatuh cinta pada Mei sejak pertama kali bertemu, Borno yang malu-malu untuk berkenalan dengan Mei, dan Borno yang selalu rela memeberikan antrian ke pengemudi sepit lainnya demi mendapat antrian nomor 13.

Dalam novel ini pula bercerita tentang kisah kehidupan masyarakat Pontianak khususnya masyakat tepian Sungai Kapuas yang menggantungkan hidupnya dari mengemudi sepit. Sepit yang lambat laun terlupakan akibat perubahan zaman. Pembangunan jembatan dan kapal feri mengurangi pendapatan pengemudi sepit karena masyarakat tak lagi menggunakan perahu tradisional ini untuk menyeberang sehingga memaksa para pengemudi sepit untuk beralih profesi. Hanya sebagian kecil dari mereka saja yang tetap bertahan menjadi pengemudi sepit.

Tak ketinggalan pula interaksi Borno dengan tokoh lainnya seperti Ibu yang selalu ada, Bang Togar yang memiliki suara khas, Cik Tulani pemilik warung makan yang selalu protes dengan ikan yang di bawa Borno, Andi sahabat Borno, Koh Acong pemilik toko kelontong, Bapak Andi yang sempat depresi akibat di tipu, Petugas timer yang turut membantu perjalanan kisah cinta Borno dengan selalu membiarkan Borno di antrian 13, Sarah si doker gigi cantik yang pandai mengemudikan sepit, Pak Tua yang perkataannya penuh dengan makna, pesan-pesan kehidupan, nasihat dan kalimat bijak saat memaknai hikmah dari sebuah peristiwa, serta tokoh-tokoh lainnya.
Melalui ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’ pembaca akan diajak untuk merasakan lika liku kehidupan Borno dan masyarakat lainnya yang cukup keras. Novel setebal 512 halaman ini tidak hanya bercerita tentang kisah cinta namun juga seberapa berat perjuangan  Borno dalam menjalani kehidupan dan menekuni berbagai profesi, mulai dari karyawan perusahaan karet, penjaga karcis kapal feri, pengemudi sepit hingga akhirnya ia memiliki bengkel sendiri. Dalam proses inilah penulis, melalui tokoh-tokoh didalamnya menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya kejujuran, ketekunan, kesabaran, dan kerja keras untuk bisa meraih kesuksesan. Mengutip perkataan Pak Tua kepada Borno ketika Mei terbaring lemag dan tak sanggup lagi melakukan apapun “…..Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras dan sederhana, maka definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan”

Jika dibandingkan dengan novel-novel tulisan Tere Liye sebelumnya, kali ini ia ‘menyajikan’ sesuatu yang lebih ringan namun tak kehilangan jati dirinya. Kisah cinta yang bernuansa lokalitas berhasil mengajak pembaca untuk tersenyum bahagia, tertegun, bersedih bahkan terharu. Penulis mendeskripsikan setiap tempat dan kejadian dengan detail serta natural sehingga pembaca akan merasa seolah olah berada dan melihat setiap kejadian secara langsung. Kekuatan lainnya, penulis mendeskripsikan karakter tokonya dengan sangat kuat. Tak hanya toko utama Borno dan Mei, tapi tokoh pendukung lainnya seakan-akan hidup dalam novel ini.

Nama Penulis : Dina Noviana
Jabatan : Wartawan Media Mahasiswa

You might also like

Comments