Hari Perempuan Internasional, IMM UMM Ajak Mahasiswa Ingat Perjuangan Perempuan Zaman Dulu

13

AKSI: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FISIP dan FT UMM gelar aksi di depan perpustakaan pusat. Aksi seiring dengan peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. [foto: dok. IMM)]
MALANG KOTA, Mediamahasiswa.com – “International Women’s Day (IWD) dirayakan oleh perempuan di seluruh dunia untuk memperingati kesadaran perempuan akan kesamaan nasib yang mengalami ketidaksetaraan hak”. Setidaknya itulah misi dari dilakukannya aksi memperingati IWD kemarin, Rabu (8/3). Aksi tersebut dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di depan perpustakaan pusat UMM.

Dalam aksinya, massa aksi menuntut kesetaraan bagi kaum perempuan. Ketua Bidang Immawati IMM FISIP UMM, Nur Mustika Sari Ibsan menyatakan, hari ini perempuan seakan-akan terlihat baik-baik saja. Padahal, sejatinya perempuan tidak baik-baik saja. Masih banyak kekerasan atau pelecehan seksual yang diterima perempuan di dunia ini. “Budaya patriarki masih melekat di kehidupan masyarakat kita,” jelas Tika, sapaan akrabnya.

Zaman sekarang, perempuan bekerja 8 jam sehari. Ini tak begitu saja didapatkan. Banyak perempuan berjuang keras untuk mendapatkan hak bekerja ini. Tak hanya itu, lanjut Tika, aksi ini juga bertujuan mengingatkan pada seluruh perempuan bahwa 2 abad silam, upah pekerja perempuan jauh lebih rendah dibanding upah pekerja laki-laki. Hal itu dikarenakan jenis pekerjaan yang dilakukan perempuan dianggap rendah.

“Bahkan upah itu tidak cukup untuk membayar sewa tempat tinggal dan mencukupi kebutuhan sehari-hari,” imbuh Tika.

Saat ini, perempuan ‘tinggal menikmati’ hasil dari perjuangan beberapa dekade silam. “Mungkin tidak banyak perempuan yang tahu bahwa perjuangan untuk mendapatkan upah dan jam kerja yang sama dengan laki-laki dulu sampai menelan korban,” ungkap mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan itu.

Dalam aksi tersebut, massa aksi juga menyatakan lima sikap. Di antaranya, hentikan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan berbasis gender khususnya pada pekerja perempuan, tolak segala bentuk eksploitasi terhadap perempuan untuk kepentingan para investor, pemenuhan hak maternitas pekerja perempuan di pabrik atau perusahaan baik sektor formal dan informal, melakukan pengorganisasian gerakan perempuan sebagai basis kekuatan pergerakan kaum perempuan yang progresif dan responsif terkait permasalahan perempuan, dan penyikapan sebagai bentuk penyadaran ke masyarakat luas.

Tidak hanya aksi dan orasi saja, massa aksi juga membagikan 500 bunga mawar dan melakukan teatrikalisasi puisi. Tika berharap, aksi ini akan memberikan gambaran pada semua mahasiswa UMM bahwa perempuan harus melawan kekerasan yang masih berlangsung hingga hari ini. (*/mr/ajm/ic)

You might also like

Comments