Hasrat Cinta Menghanyutkan dalam Cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku

23

Oleh : Monika*

Karya sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Di masyarakat, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan, karena dapat memberikan kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fisik. Dalam kehidupan, sesorang  menghadapi berbagai kejadian. Dari pengalaman itulah, sumber ide dalam penulisan karya sastra bermula.

Seperti halnya karya sastra dalam bentuk cerpen berjudul ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku’ karya Seno Gumira Ajidarma yang menceritakan perjuangan seorang laki-laki dalam membuktikan cintanya kepada seorang perempuan. Cerpen ini mengkritisi praktik-praktik rezim orde baru yang hampir mencampuri seluruh kehidupan masyarakat Indonesia di era 1980-1990-an. Dengan bahasa kias, Seno Gumira Ajidarma berhasil mengimajinasikan gagasan yang mengambarkan jalan cerita. Kiasan yang sederhana, membuat  cerpen ini mudah dipahami pembaca.

Ada beberapa pesan moral yang dapat dipetik dari cerpen ini, salah satunya yang berhubungan dengan persoalaan percintaan dan perubahan sosial. Kita disugguhi gambaran senja yang indah dan bagaimana cinta yang mendalam bisa membuat seseorang mengesampingkan logika, betapa seseorang rela melakukan hal-hal yang tampa mustahil untuk orang yang dicintai. Penulis juga mengambarkan bagaimana suasana hati yang pilu karena cinta dan kerinduan yang diibaratkan dengan senja. Senja terlihat sangat indah di pantai yang memadukan matahari dan air laut. Seperti pada kutipan di bawah ini:

“Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari sesorang yang ingin membahagiakanmu. Awas, hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya, membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjir permukaan bumi. Dengan ini ku kirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bibirku terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.” (Seno Gumira Ajidarma: 2016, 14-15)

Sejak manusia di lahirkan ke dunia, manusia sudah memiliki rasa sayang untuk orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, teman atau kekasih. Rasa sayang menimbulkan perasaan ingin memiliki dan ingin hidup bersama seseorang yang dicintai. Hal seperti ini tidak dapat dipungkiri karena menyayangi seseorang dalam kehidupan sudah menjadi takdir manusia, bahkan dalam sebuah kisah asmara, seseorang akan rela melakukan apa saja untuk kekasihnya.

Pengorbanan Sukab pada Alina dalam ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’ membuktikan hal itu.

“Alina yang manis, Alina yang sendu, akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmahkan alam itu untuk mataku.” (Seno Gumira Ajidarma: 2017,  5)

“Kemudian tiba-tiba seja dan cahaya gemetar. keindahan yang berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba tringat padamuu. “Barangkali senja ini bagus untuk mu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum teerlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya kepadamu.”(Seno Gumira Ajidarma: 2016, 6)

“Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong . Ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakarawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina sayang, semua ini telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di anatara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arhaku. Melihat gelagat itu aku segra masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomornya! Catat nomornya!” (Seno Gumira Ajidarma: 2016, 7)

“Tetapi Alina, polisi tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kota mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja helikopter mereka menyorotkan lampu ke setiap cela gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap, kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.” (SGA, 2016: 10)

Dari kutipan di atas mengambarkan sang laki-laki sangat mencintai Alina, yang berjuang mengambil senja hanya untuk Alina. Walaupun harus menghadapi segala risiko.

Dilihat dari segi mimesisnya, cerpen ini dianggap berkualitas baik karena sangat dekat dengan kenyataan atau diangkat dari suatu kenyataan. Pada persoalan kasmaran, yang sering kali terjadi adalah keterkaitan atau rasa ingin memiliki dan penggunaan material yang tidak sesuai merupakan kenyataan yang hingga saat ini belum terselesaikan. Seno Gumira Ajidarma ingin membenarkan , bahwa cinta sekali lagi tak butuh banyak kata-kata,  tapi bukti. Seno tidak ingin memperbanyak kata-kata tentang cinta di dunia, tempat orang-orang terlalu sibuk dengan kata-katanya sendiri. Cerpen ini konon ditulis berdasarkan sajak Chairil Anwar, Senja di Pelabuhan Kecil (1946) dengan setting lokasi yang terpengaruh dari gaya surealis Danarto. Seno membuat resolusi konflik dengan membuat Sukab memotong senja di lorong bawah tanah untuk menganti senja yang dicuri. (ta/ic)

 

*) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

You might also like

Comments