Saatnya Petani Kopi Kluwut Mandiri Kelola Hasil Panen

79

MALANG KABUPATEN, Mediamahasiswa.com –  Desa Kluwut, kabupaten Malang terkenal akan hasil perkebunan kopinya. Namun, hasil survei menyebutkan setelah masa panen, pemilik lahan tidak mengolah hasil panennya, melainkan menyetorkan hasi kopi mentah ke pengepul di desa Slorok. Memang, pengetahuan warga untuk pengolahan kopi masih minim.

Merespon fenomena ini, mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) 123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar workshop “Pengembangan Potensi Kopi Desa Kluwut” Minggu (13/8) siang. Kegiatan dihadiri ibu-ibu PKK lantaran dinilai produktif dalam mengolah hasil panen kopi.

Ninik, kepala perangkat desa Kluwut bidang kewirausahaan merespon positif program yang digagas KKN 123. Menurutnya, workshop tersebut mrupakan cara efektif memanfaatkan potensi lokal. Melalui inovasi ini, perangkat desa ingin sekali menindaklanjuti bisnis brownies kopi yang optimis bisa mengembangkan potensi desa Kluwut ke masyarakat luar.

“KKN 123 tidak hanya melakukan kegiatan untuk memenuhi laporan program kerja saja, tetapi juga peduli dengan nasib ekonomi desa ini. Melihat kondisi bahwa warga masih dipandang sebagai petani kopi, bukan sebagai tuan rumah, Karena selama ini kami hanya menjadi pemilik lahan kopi kemudian hanya dipetik dan dikeringkan, lalu dikirim ke Slorok, kalau ada inovasi seperti ini kan bisa menambah pemasukan daerah,” ungkapnya.

LATIH: petani kopi desa Kluwut mempraktikkan pembuatan brownies kopi. Kopi merupakan hasil panen utama di desa Kluwut yang masih belum diolah secara mandiri. (foto: dok. KKN 123)

Tak hanya melatih pembuatan brownies kopi, KKN  123 juga menceritakan sejarah dan perkembangan kopi di berbagai belahan dunia serta kisah sukses pebisnis kopi.

“Jadi prospek bisnis berbahan dasar kopi ini sangat menjanjikan. Dengan pemaparan dan praktik yang kami sajikan, ibu-ibu sangat antusias dan memilih mengolah kebun kopi mandiri daripada mengirim hasil panen keluar desa. Namun keinginan ini memang butuh pembelajaran dan konsentrasi karena mereka benar-benar baru mengawali,” terang Salsa, sapaan Intan Salsabila Ali.

Divisi ekonomi KKN 123 digawangi Haryo Satriantomo (21), Intan Susandilla (21), Farida Khopiyati Hasanah (21), dan Intan Salsabila Ali (21) mengembangkan potensi kopi lantaran kopi adalah hasil kebun mayoritas di desa Kluwut. Keinginan warga untuk mengolah kopi secara mandiri, sumber daya manusia, dan bahan yang akan diolah sudah tersedia dan menjadi nilai positif, namun keterbatasan informasi dari dunia luar menjadi kendala utama.

“Oleh karenanya, keinginan kami adalah membangun mindset desa Kluwut untuk berani melakukan bisnis melalui kekayaan desa Kluwut. Kami berharap program ini keberlanjutan setelah kami selesai melakukan KKN di desa Kluwut karena kami ingin membangun desa, salah satunya dengan cara melatih kesadaran berbisnis dengan mengolah potensi daerah,” pungkas mahasiswa semester VII tersebut. (HumasKKN123*/ic)

You might also like

Comments