Harmonisasi Kebudayaan dan Agama dalam Reyog

26

PONOROGO, Mediamahasiswa.com – Keberagaman ras dan suku di negara Indonesia, menjadikan banyaknya kebudayaan yang ada di tanah pertiwi. Salah satunya adalah Reyog Ponorogo. Dahulu, reyog merupakan kesenian yang digunakan untuk menyebarkan agama Islam, namun dengan berkembangnya zaman, reyog modern kini hanya digunakan sebagai pementasan seni budaya ketika hari-hari besar maupun pernikahan.

Dalam pagelaran reyog, ditampilkan tarian yang berdasarkan cerita rakyat dahulu. Mungkin tidak banyak yang tahu, jika reyog dahulu merupakan media kesenian untuk menyebarkan agama Islam di Kabupaten Ponorogo. Sudut pandang masyarakat mengenai reyog pun beragam, salah satunya adalah Diah Permata, seram merupakan kesan pertama saat ia melihat langsung reyog. Ia menambahkan “Pertama melihat reyog seram, namun lama kelamaan seperti kagum dan takjub”, ujar mahasiswi asal Medan tersebut. Memang cerita yang di tampilkan pada saat pementasan reyog menambah kesan mistis masyarakat saat pertama kali melihat reyog.

Selain cerita, sinden yang menyanyikan lagu jawa halus diiringi musik gamelan yang mendayu-dayu, membuat seseorang yang menonton pertunjukan Reyog terbawa kedalam kesan mistis. Terlebih dengan adanya media seperti dupa yang ikut melengkapi pada saat pementasan Reyog. Tak heran jika masyarakat Indonesia memiliki pandangan mistis pada kesenian asli daerah Ponorogo tersebut.

Reyog ponorogo yang memiliki berbagai simbol harmonisasi kebudayaan dan agama. (Khairil Anwar)

Stereotype negatif dari masyarakat ini ditepis oleh juru kunci makam Bathoro Kathong, Mukim Rahardjo. Beliau mengatakan “reyog ini tak bisa dilepaskan dari Islam, seluruh simbol yang ada di reyog seperti kalung itu di ibaratkan tasbih”, ujarnya. Di era globalisasi dan terpaan budaya luar yang kuat, Reyog Ponorogo masih tegap berdiri dan eksis. Isu-isu sara (suku, ras, agama dan antar golongan) yang terus bergulir seakan tak pernah menggoyahkan keperkasaan reyog sebagai simbol Ponororgo.

Tak hanya itu, bentuk harmonisasi kebudayaan dan agama dalam Reyog, juga ditampilkan pada simbol burung merak yang terdapat pada bagian Dadak Merak. Menurut Mukim, simbol merak tersebut merupakan gambaran dari seseorang yang sedang sujud menghadap Tuhan Yang Maha Esa, atau bentuk kepatuhan kita pada Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Masih teringat dengan jelas, ketika kesenian Reyog kala itu diklaim oleh negara Malaysia, Masyarakat seluruh Indonesia bereaksi keras atas klaim kesenian asli Ponorogo tersebut oleh negara tetangga kita. Hal tersebut mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak, banyak yang menyayangkan atas klaim sepihak dari Malaysia tersebut. Ada pula yang bersyukur seolah kembali di ingatkan mengenai kebudayaan dari Indonesia yang mulai terlupa.

Mungkin peristiwa klaim sepihak tersebut menjadi cambukan tersendiri bagi kita masyarakat Indonesia. Bagaimana cara kita memperlakukan sebuah kebudayaan kita, dimana negara kita yang di anugerahi sebuah kebudayaan yang berlimpah tidak dijaga sebagaimana mestinya. Di zaman yang telah jauh berkembang seperti sekarang ini, kesenian Reyog seakan mengajarkan kembali arti keharmonisan dari kebudayaan. Agama yang menjadi keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia dapat menyatukan Indonesia yang memiliki berbagai macam suku dan ras di Nusantara. (ad/ta)

You might also like

Comments