Puisi yang Jatuh Cinta pada Penyair

Oleh: Muhammad Husein Heikal

78

JADI begini, aku sebenarnya tak punya kisah diceritakan untukmu. Tidak, tidak ada. Apa kau tak percaya? Oho, baik. Baiklah, ucapanku tidak meyakinkan ya? Sungguh aku memang tak lihai berbohong. Baiklah, kisahku, hmmm…ada, tapi kurasa tak layak untuk diceritakan. Apalagi untuk orang sepertimu. Ah, pastilah kau menganggap ceritaku tumpukan bualan belaka. Tanpa makna. Sia-sia. Ya, aku sudah bisa menebaknya. Sama sekali kau tak akan tertarik mendengar ceritaku. Atau bahkan baru di awal cerita kau sudah beranjak pergi. Tak apa, sungguh tak mengapa. Aku tak akan menceritakan kisahku padamu. Aku akan menceritakannya lewat kata-kata. Lewat keheningan. Lewat kesunyian. Lewat kepedihan. Yang perih. Yang rintih. Yang lirih.

***

Pada awalnya aku adalah puisi. Aku terbentuk dari peleburan airmata dan aksara. Tak jelas kapan aku lahir, di mana dan bagaimana. Yang aku tahu, hanya penciptaku. Ya, seorang lelaki. Lelaki dengan sepasang mata teduh. Bila kutaksir umurnya tak lebih dari 20 tahun. Aku selalu begitu tertarik pada matanya. Ya, mata yang senantiasa teduh. Selalu aku merasa ia memandang hidup selalu dari sisi ketenangan. Tiap menatap matanya rasa-rasanya aku tenggelam pada kedamaian yang mendalam.

Sejak tercipta, aku setia memerhatikan tiap gerak-gerik sang lelaki bermata teduh. Aku bisa melakukan ini karena, aku ditempelkannya didinding sisi utara kamarnya. Posisiku sangat strategis untuk melihat segala kejadian yang terjadi dalam kamar ini. Sungguh, tak banyak isi perkakas kamar seluas 2×2 meter ini. Benda yang paling besar ialah sebuah matras tipis tanpa seprai disertai bantal tipis pula. Di atas matras itu ia sering berbaring, dengan jejalan berbagai buku di sekelilingnya. Ia jarang sekali keluar dari kamar. Perhitunganku, dalam sehari maksimal ia hanya tiga kali keluar. Yang paling membuatku tersipu, ialah setiap hendak keluar dari kamar ia selalu memandangku. Awalnya aku merasa malu. Ah, barangkali aku terlalu melankolis. Namun, setelah kupikir-pikir mengapa aku harus malu, pada penciptaku.

Selepas bangun dari tidur, ia selalu keluar dari kamar pukul 7.11 a.m. dengan menyandang tas berwarna hitam. Dari cara menyandangnya, terlihat tas tersebut sangat ringan, bagaikan tanpa beban. Aku lihat saat malam ia hanya mengisinya 2 atau 3 buku tipis saja. Dari penampilan tersebut dapat aku duga ia adalah seorang pelajar, atau tepatnya mahasiswa.

Ia selalu kembali masuk ke kamar pukul 12.11 p.m. dengan tetap menyandang tas berwarna hitam. Tapi, dengan tambahan sebungkus nasi ditangan kanannya. Setiap pulang, wajahnya tampak begitu letih. Mata teduhnya terlihat perih. Aku jadi penasaran juga. Bagaimana ya kuliah itu, sampai bisa membuat kita begitu jengah? Karena yang aku tahu, kuliah itu cukup datang-duduk-dengar-tulis-pulang. Tapi, ini mengapa berbeda ya?

Begitu lahap ia menyantap nasi bungkus dengan lauk yang bisa kutebak setiap hari, yaitu kalau tidak telur dadar, tahu dan ikan teri. Oh ya, pernah juga ayam goreng, hmm tapi cuma 3 kali kalau tidak salah. Sehabis makan, ia menghidupkan mp3 player dari handphone hijau Nokia 215-nya. Uniknya dan yang paling menarik buatku, semua playlist lagunya lagu barat (maksudnya lagu berbahasa Inggris). Untung, aku juga penganut aliran western. Its not time to make a change, just relax take it easy, your still young, that’s your fault, something goin now… Suara berat khas Cat Stevens mengalir, mengantarkan lelaki bermata teduh yang kukagumi ke alam alam mimpi yang membuai. Selang 2-3 jam, ia mulai menggeliat di atas matrasnya. Matanya mulai mengerjap-ngerjap, termenung dengan tatapan kosong beberapa saat, kembali tertidur dalam syahdu pengantar lagu.

Malam telah menghamparkan lengang. Pukul 10.23 p.m. ia mulai aktivitas yang kukira paling disenanginya: membaca. Dengan tetap berbaring ia menyantap berbagai buku. Judul-judul buku yang berserakan itu sangat beragam: Les Miserables, Tidak Ada New York Hari Ini, Berlin Proposal, Susi, Hujan Bulan Juni, A Tale of Two Cities, Rumah Kaca, Winnetou, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Sergius Mencari Bacchus, Amba, Damai di Bumi, Dataran Tortilla, ah, ah…tak perlu kesebutkan semua. Tapi jelasnya, koleksi bukunya cukup banyak disamping judul yang aku sebutkan. Selain, ada pula beberapa buku berbau perhitungan matematik.

Selepas membaca hingga pukul 3.00 a.m. ia mulai mencari-cari pulpen dan potongan kertas buram yang kadangkala sedikit koyak. Mulailah ia bekerja menempa kata-kata menjadi kumpulan makna. Ya, seperti aku: puisi! Betapa kulihat ia larut, dengan mata teduhnya yang sendu menggoreskan tinta pada kertasnya. Beberapa kali ia seolah berkomat-kamit, atau sesekali menggeleng kepalanya, atau sesekali menguap pula. Atau kadang ada semacam genangan dimatanya. Teruslah ia berkerja, memproduksi makhluk-makhluk seperti aku sampai bulan akan tenggelam dan lekang, sampai tertidur diantara tumpukan buku-buku yang berserak.

Bila kuduga-duga, sudah 111 hari aku terpajang didinding sisi utara ini. Kian hari ada esensi yang aku rasa cukup aneh pada diriku. Kian hari, aku makin terpukau pada dirinya: lelaki bermata teduh. Setiap memandangnya aku selalu merasa damai, merasa dimiliki olehnya. Saat ia pergi, keluar dari kamar aku selalu was-was dan merindukannya. Terkadang muncul rasa curigaku, apa mungkin ia tak lagi mengaggumiku. Tapi, setiap hendak keluar ia tetap menyempatkan memandangku. Matanya itu, oh! Rasa-rasanya aku melambung diantara hamparan bidadari surga nan jelita. Tapi, aku menyadari: aku hanyalah puisi.

***

Ah, cukup. Cukup! Sudah. Bagaimana, kau mampu membacanya? Atau kaumalah ketiduran, dan… Ya, ya..baiklah kukira kau tak sanggup membacanya hingga tuntas. Inilah sepenggalan kisah dari perjalanan hidupku sebagai puisi. Sebagaimana diyakini penuh misteri, menyimpan segala riak, menyisakan beribu tebak. Ya, aku adalah puisi. Puisi yang jatuh cinta pada penyair.

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Studi Mayor Ekonomi di Universitas Sumatera Utara

You might also like

Comments