Perempuan dan Pergerakan

210

Oleh: A.S. Rosyid*

Konteks Masa Lampau

“Wanita Bergerak” adalah judul buku yang ditulis oleh Ir. Soekarno (selanjutnya Bung Karno), proklamator negara dan presiden pertama Negara Republik Indonesia. Buku ini adalah materi kursus wanita pada masa revolusi—menurut saya, sangat bagus untuk saya ceritakan sebagai permulaan membahas feminisme dan keperempuanan.

Perlu kita sadari, kesadaran kaum terpelajar Indonesia pra ‘65 tidaklah sama dengan era pasca ‘65. Salah satu yang tak sama adalah ‘kesadaran pergerakan’. Lihatlah tekad itu: pada kongres perempuan nasional pertama di Jogjakarta, 22 Desember 1928 (era pergerakan nasional), perempuan terpelajar berkumpul dari penjuru Indonesia dengan mempertaruhkan nama baik mereka. Ya, stigma lazim ditimpakan pada perempuan yang bepergian jauh, berhari-hari, meninggalkan rumah, untuk kegiatan-kegiatan yang sangat lelaki. Problematis bagi perempuan waktu itu.

Tapi hasilnya memukau: dengan berat hati Belanda mengakui bahwa kongres perempuan lebih kongkret dan lebih ‘merepotkan kolonial’ dibandingkan Sumpah Pemuda. Perempuan mengisi perjuangan yang tidak telaten diperjuangkan lelaki: pelayanan kelompok rentan dalam masyarakat. Anak-anak, perempuan, janda, jompo, dan jomblo dari masyarakat terjajah.

Memang, aktivis politik laki-laki di era pergerakan giat juga mengajar putera-puteri bangsa, melakukan ‘penyadaran politik melawan Belanda’. Tapi perempuan memilih fokus yang berbeda. Ibu-ibu, janda, dan anak-anak harus disadarkan dengan cara yang sesuai kebutuhan mereka. Artinya, perempuan, berbagi ranah kerja dengan lelaki—dengan porsi progresivitas dan visi politik yang serupa.

Ini bukan lagi isu tentang “Engkau perempuan atau lelaki”, “engkau perempuan dari suku bangsa apa”, atau “engkau perempuan ber-agama dan ber-ideologi apa”. Perempuan bukan melengkapi laki-laki, melainkan untuk melengkapi perjuangan. Inilah kesadaran era sebelum ’65.

Mengapa kesadaran kaum terpelajar berbeda dengan hari ini? Salah satu yang bisa kita pikirkan adalah perbedaan situasi. Waktu itu agenda pergerakan besar sekali: perjuangan politik melepaskan diri dari cengkraman penjajah, yang harus diiringi dengan pemberdayaan manusia di seluruh bidang: pendidikan, kecakapan hidup, ideologi, politik, ekonomi, dll. Sementara saat itu, kaum terpelajar dari kalangan bumiputera masih sedikit jumlahnya, dan massa rakyat Indonesia tidak bisa menunggu waktu lama untuk diberdayakan secara serius.

Akhirnya kaum terpelajar bekerja siang malam. Mereka harus turun tangan tanpa pamrih merawat kesadaran dan mengupayakan keberdikarian rakyat (dalam bidang ekonomi dan kesadaran politik ekonominya). Angkatan muda (lelaki dan perempuan) dididik dengan kesadaran yang lebih tinggi: tidak hanya cakap dalam ilmu, namun punya kesadaran politik, dan turut giat terlibat memperjuangkan kesejahteraan bersama.

 

Bagaimana Perempuan (seharusnya) Bergerak?

Bung Karno mengatakan, ada tiga tingkat pergerakan perempuan. Saya akan mengutip penuh kalimat dari buku “Wanita Bergerak” itu:

Tingkat pertama, ‘Pergerakan menyempurnakan keperempuanan’, yang lapangan usahanya ialah misalnya memasak, menjahit, berhias, bergaul, memelihara anak, dan sebagainya.

Tingat kedua: ‘Pergerakan Feminisme’, yang wujudnya ialah memperjuangkan persamaan hak dengan kaum laki-laki. Programnya yang terpenting ialah hak untuk melakukan pekerjaan dan hak pemilihan. Seorang pemimpin  feminis Belanda Nyonya Betsy Bakker Nort mengatakan: “Pergerakan wanita itu paling tepat dapat digambarkan sebagai satu desakan wanita untuk dipandang dan diperlakukan sebagai manusia-penuh. Tujuannya yang terakhir ialah persamaan sama sekali antara kedua sekse tersebut, di atas lapangan hukum-hukum negara dan adat istiadat. Feminisme itu sering juga dinamakan pergerakan ‘emansipasi wanita’, dan aksinya bersifat menentang kepada kaum laki-laki.

Tingkat ketiga: ‘Pergerakan Sosialisme’, dalam mana wanita dan laki-laki bersama-sama berjuang bahu-membahu untuk mendatangkan masyarakat sosialistis, dalam mana wanita dan laki-laki sama-sama sejahtera, sama-sama merdeka.

Tahap peran perempuan yang pertama, dalam gagasan Bung Karno, adalah peran-peran domestiknya. Bukan tidak penting, malah harus dikuasai (belakangan ini lelaki pun harus mampu melakukan peran-peran domestik), namun sifatnya mendasar. Perempuan semestinya bisa lebih berperan dari itu.

Feminisme adalah tahap yang banyak disalahpahami. Fokus wacana yang nampak di tengah masyarakat kita tentang feminisme justru kebebasan dan keseteraan, sehingga feminisme mendapatkan stigma. Perempuan yang tidak memahami feminisme dalam konteks yang benar hanya akan menampakkan gairah mengekspresikan diri sebebas-bebasnya, atau, begitu cerewet tentang kesetaraan dalam hal-hal yang kurang substansial.

Padahal, inti dari perjuangan feminisme adalah keadilan, terutama dalam peran-peran perjuangan. Mereka yang memahami keadilan sebagai semangat feminisme mengembangkan wacana kesetaraan dengan proporsional. Mereka hendak mematahkan anggapan-anggapan dan perlakuan-perlakuan yang melecehkan harkat dan martabat perempuan. Mereka mengupas dan bergerak mengatasi kasus-kasus yang perempuan (kaum-rentan) banyak sekali menjadi korban. Mereka bukan bergaya, tapi bergerak; mereka bukan menikmati sebesar-besarnya kebebasan, melainkan mengunakan sebesar-besarnya kesempatan untuk membebaskan.

Spirit kalimat terakhir tersebutlah yang membawa perempuan pada tahap selanjutnya, yaitu Pergerakan Sosialis. Perempuan sudah bukan saja bicara tentang identitas parsial, melainkan kemanusiaan seluruhnya. Bisakah perempuan menembus batas, dan tanpa perlu cerewet menekankan identitas, menggebrak sama kuatnya dengan laki-laki? Mungkin tulisan Anna Kuliscioff, perempuan revolusioner Rusia (cantik, tangkas, terkenal dalam berbagai kongres Internasional) yang menyemangati sesama perempuan agar tidak ragu terlibat dalam peran pergerakan sosialis:

“Jangan mendengar omongan orang yang mengatakan bahwa kita tidak cakap dan tidak bersedia dalam perjuangan politik .. Orang tak dapat belajar berenang dengan tidak terjun ke air. Orang tidak dapat belajar menjahit bila tidak mulai mengambil jarum. Kaum proletar laki-laki pun tadinya tidak cakap. Hanya dengan latihan orang dapat memperoleh kecakapan-kecakapan.”

 

Konteks Hari Ini

Hari ini, perempuan begitu marak bergerak. Entah mendefinisikan diri mereka sebagai feminis, atau seorang pegiat sosial tanpa embel-embel identitas ideologis—sepanjang yang diperjuangkan adalah sebesar-besarnya kemaslahatan umat manusia, maka itu baik. Masing-masing memiliki isu sendiri untuk dirumat. Semua itu bisa disebut perjuangan.

Namun, yang terasa kabur adalah kesadaran politiknya. Sesungguhnya berbeda antara menjadi aktivis politik dan politisi. Bila kata terakhir adalah aktor politik praktis, maka yang pertama adalah pejuang-pejuang yang memaknai politik sebagai “Jalan untuk melayani sebesar-besarnya kepentingan rakyat.” Seorang aktivis politik tidak harus menjadi politisi, tidak harus masuk kekuasaan di jajaran pemerintahan. Yang penting kesadarannya: (a) selalu berdiri di pihak rakyat, (b) menyadarkan yang perlu disadarkan, dan (c) melawan yang mencoba merugikannya.

Sayangnya, kesadaran gerakan hari ini (entah itu gerakan perempuan atau perempuan yang bergerak) jarang diletakkan pada poin (a) dan (c). Bolehlah bergerak melakukan everything good, tapi sebaiknya tidak miskin perspektif dan visi politik. Karena sesungguhnya, kita semua masih butuh visi politik. Kita memang sudah lepas dari era kolonial, tapi kolonialisasi masih berjalan dengan cara baru.

Dalam perjuangan politik inilah, perempuan tidak seharusnya tidak boleh kalah dari laki-laki. Entah namanya feminis atau apa, tapi di mata saya, perempuan yang bergerak dengan visi politik dan semangat keberpihakan dan kemanusiaan selalu lebih mengundang rasa hormat. (*)

 

*Penulis merupakan aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), pegiat di Yayasan Bayt al-Hikmah, Malang.

You might also like

Comments