Kamu, Takdirku

129

Oleh: Dina Noviana* 

“Aku terlanjur mencintainya. Cinta yang sama seperti bunga matahari ke matahari. Tidak ada dia bukan berarti membuatku tidak bisa bernafas, tapi cukup membuatku sesak karena merindukannya.”

 

DIA BENCI HUJAN. Aku sebaliknnya. Menurutnya, hujan itu menyebalkan. Membasahi baju, menganggu perjalanan, bahkan seringkali menyebabkab bencana. Pokoknya dia benci hujan. Tapi, aku tahu bukan itu alasannya membenci hujan. Ia benci hujan karena mengingatkan seseorang yang meninggalkannya beberapa tahun silam. Seseorang yang dengan seenaknya merebut hatinya tapi menghempaskan begitu saja ketika ia sudah benar-benar jatuh.

“Ah sial, kenapa mesti hujan sih,” gerutunya ketika keluar kelas dan mendapati hujan yang mulai deras.

“Jay, hujan itu berkah loh. Salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa ya saat hujan,” ujarku sambal berjalan mendekatinya.

“Yayayaya, aku ingat itu. Ini sudah keberapa puluh kali kamu mengatakannya padaku,” katanya kesal tiap kali ku ingatkan.

Nama lengkapnya Jaya Anugrah. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Jay, itu saat normal. Saat kesal, aku memanggilnya Anu dan dia selalu bereaksi ketika aku melontarkan panggilan itu. Kami berteman baik sejak disatukan dalam kelompok praktikum di semester 2. Pada saat itu, ia memiliki Intan disisinya. Seorang gadis manis berambut sebahu namun menurutku sedikit posesif. Aku tidak tahu persis hal apa yag membuat mereka memutuskan untuk berpisah. Itu bukan urusanku. Tak banyak hal juga yang ku tahu  dari Intan. Satu hal yang ku tahu pasti, ia menyukai hujan sama sepertiku.

Ini tahun terakhir kami kuliah. Skripsi ku hampir selesai, begitupun dengannya. Pertemanan pria dan wanita tidak pernah berhasil. Salah satu pihak pasti ada yang menyukai pihak lainnya. Itu terjadi padaku, aku menyukainya sejak semester 3. Intensitas pertemuan yang sering akibat praktikum membuatku lebih memperhatikannya. Sifatnya menyenangkan, baik dan jahil di saat bersamaan. Kami sering belajar bareng atau hanya sekedar berbincang ringan. Tak bisa ku pungkiri, aku telah jatuh padanya.

“Eh nyet, kok malah bengong sih?!” serunya mengagetkanku.

“Eh, anu… gak kok. Jangan panggil aku nyet dong. Namaku tuh D-I-N-D-A  A-R-I-S-A  P-U-T-R-I,” Ujarku kaget dan sedikit kesal.

“Loh kamu aja panggil aku anu, hayo,” balasnya.

“Lah, kan kalo kata ‘anu’ ada didalam susunan namamu. Jaya ‘Anu’grah. Lalu salahnya dimana?” kataku tak mau kalah.

“Ah, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu saat hujan begini. Jadi, kamu mau pulang duluan atau menemaniku hingga hujan berhenti?” tanyanya menghentikan perdebatan.

“Paling gak mereda lah?” sambungnya sebelum aku menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Emmm… aku lagi gak bawa payung nih. Kelupaan, tadi pagi buru-buru,” jawabku bohong. Mana mungkin aku melupakan barang penting itu saat musim hujan seperti ini. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.

“Eh, tumben tumben an kesiangan. Kamu pasti habis streamingan drama korea lagi. Apa sih bagusnya? Pemainnya mirip cewek gitu, gantengan juga aku kemana-mana,” katanya menyombongkan diri.

“Kamu di samain sama mereka? Ya jauhlah. Ganteng dari mana?” ujarku tak terima. Aku emang penyuka drama korea tapi tidak menggilai mereka seperti kebanyakan cewek-cewek diluar sana.

“Loh, kamu gak tau. Nih perhatikan baik-baik muka ku. Ganteng gini kok,” ia mendekatkan wajahnya padaku.

Aku akui Jay memiliki wajah di atas rata-rata. Ya meskipun dia gak ganteng-ganteng banget sih, tapi cukup membuatku betah memandanginya lama. Ia memiliki garis wajah yang tegas khas lelaki, pandangan mata yang menenangkan, hidung yang cukup mancung dan ketika tersenyum, matanya pun ikut tersenyum. Smile eyes kalo kataku.

“Tuh tuh tuh, bengong lagi. Kamu pasti terpesona padaku,” ujarnya menyombongkan diri.

“Eh, apaan. Udahlah. Oh iya, kamu masih belum bisa move on? Dia saja mungkin sudah tidak ingat padamu lagi.” Aku sebenarnya sudah tau jawabannya.

Ia hanya diam. Keningnya berkerut. Ekspresi dan gerak tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaanku.

“Eh, hujannya berhenti nih. Ayo pulang, keburu deras lagi,” alihnya. Ia mengajakku pulang tanpa menjawab pertanyaanku. Tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya.

“Yaudah, ayo pulang” Aku mengiyakan ajakannya.

 

******

Ini tahun ketiga kami berteman, berarti 2,5 tahun sejak aku mulai menyukainya. Perasaan ini tidak pernah berubah, bahkan semakin besar. Bohong jika aku mengatakan kalua tidak menginginkannya. Aku menginginkannya menjadi pendamping hidupku. Bukan sebagai pacar. Aku tidak mencari dan membutuhkan sosok sementara. Aku butuh sesorang yang bisa membimbingku sebagai seorang suami. Tapi aku cukup realistis, jadi cukup aku dan Tuhan yang tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku tidak berusaha menahan atau melupakannya. Biarkan semua mengalir seperti air yang entah bermuara di mana.

Udara pagi ini cukup dingin setelah semalaman di guyur hujan. Mumpung libur, aku memutuskan untuk memasak. Sederhana sih, hanya nasi goring sosis ditambah parutan keju kesukaanku. Aku sengaja membuat lebih untuk ku berikan juga ke Jay. Anak laki-laki suka makan sembarangan asal kenyang.

“Keluar dong, aku didepan nih bawain sarapan,” SMS ku padanya.

Jay keluar dari kosnya dengan rambut yang masih acak-acakan. Ia memakai celana training dengan kaus oblong hitam bertuliskan ‘I am a Moslem’.

“Paling gak cuci muka dulu sana. Itu iler masih nempel dimana-mana,” kataku.

“Biarin, masih ganteng kok,” narsisnya kambuh.

Dia memang begitu, tidak pernah sok jaim atau sok keren. Dia bersikap apa adanya, sebagaimana dirinya sendiri. Dia langsung mengambil kotak bekal berisi nasi goreng yang ku sodorkan dan memakannya. Kami duduk di teras depan kosannya. Tak banyak pembicaraan yang terjadi. Jay memakan nasi goreng buatanku dengan lahap. Melihatnya makan dengan lahap membuatku bahagia, ia menyukai semua masakan yang pernah ku berikan. Sebenarnya bukan karena enak tapi lebih karena ia mendapat makanan gratis tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Maklum, anak kos. Rutinitas seperti ini yang akan selalu ku rindukan. Sebentar lagi kami akan berpisah.

“Eh bentar, akum au ambil minum ke dalam. Kamu juga mau minum?” tanyanya setelah memakan sendokan terakhir.

“Gak usah. Nih ada jus jeruk, ibu kemaren beli jeruk banyak dan aku ingat kamu suka jus jeruk,” aku mengeluarkan sebotol jus jeruk buatanku.

“Mantap nih. Makasih ya. Kamu emang yang terbaik,” katanya sambil mengacungkan jempol.

“Eh, skripsimu udah sampai mana?” sambungnya.

“Bentar lagi. Minggu depan aku mau daftar sidang. Tinggal nunggu ACC bab 6 dari pak Robi. Kamu gimana?” Tanya ku balik.

“Kemaren aku udah daftar sidang,” jawabnya singkat.

“Kita bisa wisuda bareng dong…. Tapi setelah kita bakal gak ketemu lagi. Rencanamu setelah wisuda apa?” Aku berharap dia tidak berencana meninggalkan kota ini.

“Entahlah, ya pokoknya dimana rejekinya nanti lah. Kenapa? Kamu khawatir kangen aku kah?” Tanya nya sambil menghadapkan tubuhnya padaku.

“Iya,” Jawabku kemudian. Keningnya mengkerut.

“Eh, maksudku bukan gitu. Nanti gak ada yang bisa ku repotkan, gak ada yang bisa ku jahili kalo kamu gak ada,” sambungku gelagapan.

“Oooh. Kalo kamu mau ngapain setelah lulus? Kerja apa nikah? Kan katamu pengen nikah muda,” tanyanya kemudian.

“Ya tergantung, yang mana duluan samperin. Jodoh atau kerjaan,” jawabku enteng.

“Emang udah ada calon?” tanyanya lagi.

“Belom sih, nanti juga kalo udah waktunya bakal ketemu. Udah ah, aku pulang dulu ya. Udah siang, cucianku menumpuk nih,” aku mengambil kotak makan yang sudah kosong.

“Oke deh. Makasih ya sarapannya. Jangan bosan-bosan masakin aku,” ujarnya sambal beranjak berdiri dan mengantarku hingga ke gerbang.

 

*****

Aku terlanjur mencintainya. Cinta yang sama seperti bunga matahari ke matahari. Tidak ada dia bukan berarti membuatku tidak bisa bernafas, tapi cukup membuatku sesak karena merindukannya.

Hari ini adalah hari yang paling di nanti setiap mahasiswa. Wisuda. Butuh waktu 8 bulan untuk merampungkan  skripsiku. Jay adalah orang yang selalu mendengar keluh kesahku tentang skripsi ataupun masalah lain. Lagi lagi Jay. Sulit membuatnya tidak berada dipikiranku. Hari ini dia juga wisuda. Tadi pagi, kulihat ia didampingi kedua orang tuanya. Usia kedua orang tuanya sepertinya sedikit lebih tua dari kedua orang tuaku. Wajar saja, Jay anak terakhir dan aku adalah anak pertama.

Prosesi wisuda berakhir tepat pukul 1 siang, raut wajah bahagia terpancar dari semua wisudawan dan orang tua mereka. Aku wisuda bersama 10 orang teman kelasku termasuk Jay.

“Hai Jay, selamat ya udah jadi wisudawan terbaik,” aku memberi selamat kepada Jay saat bertemu diluar gedung pertemuan tempat wisuda berkangsung.

“Yah, Bun, kenalin ini Dinda yang selama ini ku ceritain. Dia nih yang sering masakin aku,” Jay memperkenalkan kedua orangtuanya kepadaku. Aku tak perlu memperkenalkan Mama dan Papa kepadanya. Begitu pun sebaliknya. Jay sering datang kerumah untuk meminjam buku, belajar atau sekedar main.

“Oh ini ya Dinda yang katamu perhatian itu,” Bunda Jay menyodorkan tangannya kepadaku sambal tersenyum. Jilbab bunda, panggilan ibu dari Jay, menjulur panjang. Sangat anggun dan cantik.

“Jaya cerita apa ke ibu?” tanyaku sambal menyambut uluran tangan beliau dan menciumnya. Bunda Jay melirik Jay sambal tersenyum.

“Ah, kamu tanya aja ke anaknya,” aku menatap Jay galak. Jay hanya tersenyum jahil sambil mengangkat bahunya.

Setelah merasa cukup berbincang-bincang, Jay dan orang tuanya pamit pulang karena khawatir hujan turun. Langit memang sedang mendung. Jay tetap saja benci hujan, tidak ada pengeculian meskipun hari ini adalah hari yang berbahagia. Sebelum berpisah, aku memberikan hadiah kepada Jay sebagai ucapan selamat atas wisudanya meskipun aku juga wisuda. Hadiah itu sudah kusiapkan seminggu yang lalu. Saat pergi ke pusat perbelanjaan, aku melihat jaket bewarna hijau army. Jaket itu tidak tembus air, cocok buat Jay yang membenci hujan. Aku juga menyelipkan selembar surat.

 

*****

3 tahun berlalu, setelah wisuda beberapa kali aku masih bertemu dengan Jay. Namun setahun belakang ini aku tak pernah bertemu dengannya sejak ia diterima kerja di salah satu perusahaan besar di kota lain. Komunikasi via whatsapp pun hanya sesekali untuk sekedar bertanya kabar. Tak banyak yang kami bagikan. Aku pun sudah bekerja. Sekarang usiaku sudah 25 tahun dan pertanyaan kapan menikah pun tak bisa ku hindari. Kedua orangtuaku tidak keberatan aku menikah muda atau nanti selama aku sudah siap. Aku sudah siap sejak beberapa tahun lalu, hanya saja memang jodohnya yang belum dipertemukan. Aku juga sudah tak terlalu memikirkan Jay lagi, namun aku tidak bisa bohong kalau aku masih mencintainya. Aku membiarkan semuanya mengalir.

Malam ini langit tak berbintang, cuaca sedang mendung. Apa yang sedang Jay lakukan? Masih kah ia membenci hujan? Aku tak pernah mendapat jawaban atas pertanyaanku.

Tiba-tiba telponku bordering, nama Jay tertera di layar smartphone ku.

“Halo Jay,” sapaku.

“Eh Din, besok dirumah gak?” Tanyanya.

“Berhubung besok libur dan aku belum punya rencana apapun jadi paling aku hanya bermalas-malasan dirumah,” Jawabku.

“Kalo begitu besok jangan kemana-mana. Aku mau main kerumahmu, ketemu sama kedua orang tuamu. Boleh kan?” Ucapannya membuatku terkejut. Mungkin ini jawaban yang ku tunggu.

“Eh iya, boleh kok,” kataku pelan.

“Ya sudah, besok sore aku ke rumahmu. Bye!” ujarnya menutup telpon.

Aku tersenyum. Ini jawaban atas doa yang sering ku panjatkan. Bertemu dengan seseorang yang terbaik yang memang dipilihkan untukku. Aku tak lagi menyebut nama Jay dalam lantunan doaku. Aku hanya meminta yang terbaik. Siapapun dia. Dan Jay adalah yang terbaik untukku.

 

****

“Jay, selamat yaaa…..

Akhirnya kita wisuda. Terima kasih sudah menjadi teman terbaik untukku. Terima kasih sudah menjadi super hero ku. Aku sayang kamu lebih dari teman, tapi setelah baca surat ini tolong jangan marah dan menjauh dariku. Kita tetap teman, aku tidak berharap lebih darimu. Aku juga tau kamu masih belum bisa melepas dia kan. Ini jaket buat kamu yang tidak suka hujan agar kamu tetap terlindungi. Aku pun berharap menjadi seperti jaket ini. Melindungimu dari kesedihan dan memberikan kehangatan.

PS: kalo pas ketemu jangan bahas ini. Aku malu.

 

Dinda”

 

*Penulis merupakan wartawan MediaMahasiswa.com

You might also like

Comments