Indonesia Raya, 1 Stanza Atau 3 Stanza?

90

MALANG KOTA, Mediamahasiswa.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menghimbau warga Muhammadiyah untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya cukup 1 stanza. Hal tersebut diungkapkan pada pembukaan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah di dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (1/12) siang.

“WR Soepratman memang menciptakan 3 stanza, tapi yang dikodifikasi resmi oleh negara tahun 1958 adalah 1 stanza. Kodifikasi ini ada di lembaran negara no 44 tahun 1958. Ini yang secara resmi sering dinyanyikan di acara kenegaraan, juga di kalangan kita sendiri,” ungkap Haedar.

Jika ingin menghayati lagu Indonesia Raya, maka menyanyikan secara utuh 3 stanza dianggap Haedar sebagai bagian dari memperkaya saja. Dikatakan Haedar, gerakan Salafi kini tak hanya pada ranah keagamaan, tapi mulai merambah kehidupan kebangsaan. Hal tersebut, menurutnya, akan membawa pengaruh besar. 

“Segala sesuatu yang ingin kembali ke yang asli, akan membawa dampak pada puritanisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau negara menolak puritanisasi, apalagi yang membawa pada radikal,” tegas Haedar.

Himbauan Haedar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya cukup 1 stanza ini bertolak belakang dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Muhadjir Effendy yang mewajibkan siswa sekolah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya secara utuh 3 stanza.

“Keutuhan ‘Indonesia Raya’ ada ketika dinyanyikan 3 stanza. Yang biasa dinyanyikan di bagian awal, itu pendahuluan. Inti ada di bagian tengah dan penutup di akhir,” ujar Ketua PP Muhammadiyah itu di gedung Kemendikbud Agustus lalu.

Meski menghimbau warga Muhammadiyah untuk  menyanyikan Indonesia Raya cukup 1 stanza, namun Haedar menegaskan ia tak mewajibkan hal itu. “Ini catatan, bukan instruksi dari ketua umum (Muhammadiyah, Red.),” tegas Haedar. (ich/can)


 [IC1]buhnya

You might also like

Comments