Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Mahasiswa

Pakar Sosiologi New Zealand Jelaskan Bagaimana Budaya Pop Korea Selatan Mengubah Citra Korea Utara pada Mahasiswa HI UMM

Juni 30, 2025
in Mahasiswa
Pakar Sosiologi New Zealand Jelaskan Bagaimana Budaya Pop Korea Selatan Mengubah Citra Korea Utara pada Mahasiswa HI UMM

Industri hiburan Korea Selatan telah mengalami transformasi dramatis dalam cara menggambarkan Korea Utara, bergerak dari stereotip musuh satu dimensi menjadi representasi yang lebih kompleks dan berempati, khususnya memasuki abad ke-21. Demikian disampaikan oleh Stephen Epstein, profesor sosiologi dari Victoria University of Wellington, dalam kelas Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional.

Pergeseran signifikan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Kebijakan Sunshine era yang mendorong dialog dengan Korea Utara, ditambah dengan meningkatnya pengaruh Korean Wave dan teknologi digital, telah membentuk cara kreator konten Korea Selatan memandang tetangga utara mereka. “Dulu, media Korea Selatan sering menggambarkan mata-mata Korea Utara sebagai karakter yang secara inheren jahat, namun dengan kebijakan Sunshine, film-film mulai mengadopsi pendekatan yang lebih ringan, ironis, bahkan farsial terhadap Korea Utara,” jelas Epstein dalam kuliah yang merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea.

Meningkatnya jumlah defector Korea Utara yang tiba di Korea Selatan, terutama perempuan, telah memberikan dampak nyata terhadap budaya populer. Program televisi seperti “Now on My Way to Meet You” awalnya menampilkan humor dan pertunjukan, namun secara bertahap bertransisi ke narasi yang lebih tragis tentang pelarian dan kesulitan hidup. Kehadiran para defector ini memberikan perspektif baru yang lebih personal dan manusiawi tentang realitas kehidupan di Korea Utara.

Industri perfilman Korea Selatan awal 2010-an memperkenalkan tren baru yang menarik dimana mata-mata Korea Utara digambarkan sebagai pria tampan, berani, patriotik, dan multilingual elite fighter. Film-film ini mengikuti pola umum di mana operatif Korea Utara menyamar di Selatan dan akhirnya membentuk kemitraan yang canggung dengan petugas intelijen Korea Selatan. Tema yang muncul mencakup konflik Utara versus Utara daripada Utara versus Selatan, dimana karakter Korea Utara “baik” berhadapan dengan rekan sebangsanya yang “jahat”, sementara Korea Selatan sering bertindak sebagai penonton.

Pergeseran fokus dari bangsa ke keluarga juga terlihat jelas, meskipun kepentingan kolektif masih mengalahkan individu. Anggota keluarga sering dijadikan sandera oleh negara, menciptakan dilema moral yang kompleks bagi karakter utama. Fenomena “pria Utara sebagai pria tampan” atau yang dikenal dengan istilah “북남미남” menunjukkan bagaimana karakter pria Korea Utara sering digambarkan seperti idola pop, menarik bagi kondisi pasar baru dan logika geopolitik, sementara perempuan Korea Utara relatif tidak hadir atau terikat pada pria Korea Utara.

Salah satu aspek menarik dari tren ini adalah bagaimana film-film tersebut menawarkan pandangan Korea Utara terhadap masyarakat Korea Selatan, menciptakan “keterasingan kognitif” dengan melihat masyarakat Korea Selatan melalui lensa Korea Utara. Penggambaran ini mengkritik elemen seperti korupsi dan dekadensi konsumeris sambil juga menghargai kemakmuran dan keberagaman.

Dengan bangkitnya platform streaming seperti Netflix, konten Korea Selatan mencapai audiens internasional baru. “Crash Landing on You” menjadi fenomena global dengan penggambaran detail Korea Utara dalam kerangka komedi romantis. Drama ini mengontraskan sosialisme dan kapitalisme, kesederhanaan dan kecanggihan, serta militarisme dan konsumerisme, sambil menyoroti sifat komplementer protagonisnya. Serial ini mengidealkan maskulinitas Korea Utara dan memanfaatkan daya tarik selebriti Korea Selatan, secara efektif mengubah Korea Utara menjadi komoditas global untuk keuntungan Korea Selatan.

Penerimaan terhadap “Crash Landing on You” bervariasi di berbagai kalangan. Beberapa partai politik domestik mengkritik glamorisasi Korea Utara, sementara defector Korea Utara umumnya memberikan umpan balik positif tentang keasliannya, meskipun ada beberapa kritik terhadap elemen yang dianggap tidak realistis. Secara internasional, kesuksesan acara di Netflix telah memperkenalkan penonton global pada imajinasi domestik Korea Selatan tentang Korea Utara dan menumbuhkan keterbukaan terhadap ide bahwa masyarakat yang berbeda, termasuk Korea Utara, terdiri dari individu-individu yang beragam.

Budaya populer Korea Selatan terus beradaptasi dalam penggambaran Korea Utara sebagai respons terhadap perubahan keadaan geopolitik dan perkembangan media. Melalui elemen-elemen kompleks ini, industri hiburan Korea Selatan membentuk pemahaman tentang tetangganya, menciptakan narasi yang lebih manusiawi dan bernuansa dibandingkan stereotype masa lalu. “Transformasi ini mencerminkan tidak hanya perubahan dalam lanskap media, tetapi juga evolusi dalam cara Korea Selatan melihat hubungannya dengan Korea Utara, dari musuh yang ditakuti menjadi bangsa yang dipahami sebagai kumpulan individu dengan kompleksitas manusiawi yang layak untuk dipahami dan dihormati,” pungkas Epstein.

Tags: HI UMM
ShareTweet

Related Posts

Tak Seindah di Drakor, Pakar Universitas Auckland Ungkap Sulitnya Mahasiswa Asing Cari Kerja di Korea Selatan
Mahasiswa

Tak Seindah di Drakor, Pakar Universitas Auckland Ungkap Sulitnya Mahasiswa Asing Cari Kerja di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Krisis penurunan jumlah penduduk yang melanda Korea Selatan memaksa negara tersebut untuk mengubah pandangannya terhadap warga asing....

Juli 3, 2026
Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim
Kampus

Belajar Mitigasi Bencana dari Jepang, Prof. Nishi Yoshimi Tekankan Peran Budaya dan Komunitas

MALANG, MediaMahasiswa.com — Berbekal pengalaman panjang meneliti proses pemulihan pascabencana di berbagai negara, khususnya Jepang dan Indonesia, Guru Besar Kyoto...

Januari 8, 2026
Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim
Mahasiswa

Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim

MALANG, Berifakta.com — Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara dengan kekayaan ekologis paling beragam di dunia. Keragaman lanskap, hayati,...

Januari 8, 2026
Humanitarian Conservation-Based Learning Perkuat Pendidikan Multikultural
Mahasiswa

Humanitarian Conservation-Based Learning Perkuat Pendidikan Multikultural

MALANG, MediaMahasiswa.com — Isu keberagaman dan potensi gesekan sosial di Indonesia menuntut model pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, melainkan...

Januari 8, 2026
Next Post
Usung Format Baru, HI UMM Gagas Model OIC Bahas Isu Nuklir Negara Islam

Usung Format Baru, HI UMM Gagas Model OIC Bahas Isu Nuklir Negara Islam

Setelah Sidang MOIC, Mahasiswa HI UMM Langsung Belajar Diplomasi Meja Makan

Setelah Sidang MOIC, Mahasiswa HI UMM Langsung Belajar Diplomasi Meja Makan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link