MALANG, MediaMahasiswa.com – Penguatan integrasi kawasan Asia tidak lagi cukup bertumpu pada paksaan militer atau kalkulasi ekonomi, melainkan membutuhkan efektivitas soft power serta pergeseran mendasar dari sekadar toleransi pasif menuju penerimaan aktif penuh hati. Pesan kunci tersebut ditegaskan oleh akademisi asal Jawaharlal Nehru University (JNU) India, Prof. Gautam Kumar Jha, dalam perkuliahan bertajuk “Politics in Multiculturalism: Building Asian Community“. Agenda ilmiah ini diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series.
Dalam paparannya, Prof. Gautam menggarisbawahi bahwa lanskap Asia yang menaungi lebih dari 4,7 miliar jiwa dengan ribuan bahasa dan etnis menyimpan potensi soft power luar biasa. Mengutip filosofi Mahatma Gandhi, ia mengibaratkan pengelolaan kebudayaan seperti membuka seluruh jendela rumah agar angin segar berhembus dari berbagai arah tanpa merobohkan struktur bangunan utama.
“Bahasa lokal, tradisi, hingga kearifan kuliner adalah sejarah hidup ribuan tahun. Menjaga keterbukaan budaya bukan berarti kehilangan identitas, melainkan cara memperkaya khazanah pemikiran dan membangun kepercayaan (trust) antarbangsa,” terangnya.
Menurutnya, diplomasi kebudayaan menjadi benteng awal pertahanan dan keamanan kawasan yang paling hakiki sebelum konflik bersenjata meletus.
Lebih lanjut, penceramah tamu asal New Delhi itu melayangkan kritik terhadap penggunaan istilah ‘toleransi’ yang kerap dianggap kaku dan menyiratkan pemaksaan keadaan semata. Menurut Prof. Gautam, masyarakat Asia perlu melangkah menuju gagasan penerimaan (heartfelt acceptance) yang berakar pada tradisi musyawarah dan mufakat demi meredam gejolak politik identitas serta ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas. “Kunci utamanya ada pada pendidikan yang berkualitas dan ruang dialog yang inklusif bagi generasi muda agar tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan politik praktis,” tegasnya.
Ia memungkas perkuliahan dengan mengajak mahasiswa HI UMM untuk terus mengasah pemikiran mandiri dan memanfaatkan jejaring akademik internasional. “Pengenalan budaya yang mendalam adalah awal dari perdamaian berkelanjutan yang akan merekatkan komunitas Asia di tengah ketidakpastian geopolitik global,” pungkasnya mengakhiri sesi kelas. (*)






