Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Kampus

Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur

Oktober 8, 2026
in Kampus
Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur

MALANG, MediaMahasiswa.com – Fenomena krisis demografi ekstrem ditandai dengan terbengkalainya sekolah-sekolah di kawasan pedesaan hingga merosotnya angka kelahiran Korea Selatan ke rekor terendah dunia sebesar 0,7 anak per wanita—kini memaksa negara-negara Asia Timur merombak tatanan sosialnya. Realitas krusial tersebut dipaparkan oleh Profesor Changzoo Song dari University of Auckland, Selandia Baru, dalam kuliah bertema “Multiculturalism: Challenges and Opportunities in Korea and Japan”. Agenda ilmiah ini diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) bekerja sama dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series.

Profesor Song menjelaskan bahwa Jepang dan Korea Selatan selama berabad-abad dibentuk oleh mitos homogenitas etnis yang sangat kuat. Namun, tekanan penuaan populasi dan kelangkaan tenaga kerja parah sejak era 1980-an memicu pergeseran keniscayaan menuju masyarakat multikultural.

“Di pedesaan Jepang dan Korea, kita melihat bangunan sekolah dasar yang terpaksa ditutup dan kosong selama puluhan tahun karena kehilangan generasi muda,” ujar Prof. Song. Ia menambahkan bahwa kebijakan awal kedua negara yang berupaya mempertahankan keseragaman etnis melalui migrasi balik etnis sejenis—seperti keturunan Nikkeijin dari Brasil dan etnis Joseonjok dari Tiongkok—justru memicu benturan budaya hebat serta alienasi sosial di sektor pekerjaan berat (3K: Kitsui, Kiken, Kitanai).

Kegagalan asimilasi tersebut mendorong gelombang baru berupa lonjakan pernikahan internasional untuk mengatasi krisis pasangan hidup (yome busoku) di kawasan agraris. Kini, pengantin migran asal Vietnam (Vietnamese brides) menjadi kelompok terbesar di Korea Selatan, sementara sektor perikanan dan perawatan (caregiver) mulai bergantung signifikan pada tenaga kerja dari Indonesia dan Filipina.

Menurutnya, jika dikelola dengan adaptif, keberagaman budaya bukan lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan aset strategis dan “power” baru untuk menopang pertumbuhan ekonomi global.

Mengakhiri pemaparannya, Prof. Song mengapresiasi fondasi multikulturalisme Indonesia yang telah teruji melalui prinsip Bhinneka Tunggal Ika. “Berbeda dengan Asia Timur yang gagap menerima perbedaan, Indonesia memiliki modal sosial dan harmoni keberagaman yang sangat kokoh untuk memimpin pertumbuhan di era globalisasi,” pungkasnya. (*)

Tags: HI UMM
ShareTweet

Related Posts

Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia
Kampus

Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia

MALANG, MediaMahasiswa.com - Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara hingga diproyeksikan menembus 20 juta jiwa pada akhir 2026, berpadu dengan krisis demografi...

Oktober 8, 2026
Krisis Demografi dan Stigma ‘Kosian’ Desak Korea Selatan Rombak Total Ekosistem
Kampus

Krisis Demografi dan Stigma ‘Kosian’ Desak Korea Selatan Rombak Total Ekosistem

MALANG, MediaMahasiswa.com - Kejatuhan angka kelahiran (fertility collapse) hingga 1,23 persen dan lonjakan populasi lansia sebesar 11,3 persen memaksa Korea...

Oktober 8, 2026
Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan
Kampus

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Citra indah Korea Selatan yang kerap ditampilkan melalui drama dan musik K-Pop ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan realitas...

Juli 10, 2026
Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan
Kampus

Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan

Budaya populer Korea Selatan (K-Culture) tidak hanya berhasil menaklukkan dunia hiburan global, tetapi juga memainkan peran penting dalam meredefinisi wajah...

Juni 28, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link