Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Kampus

Kikis Dark Jokes dan Superioritas Etnis Demi Redam Konflik Sosial di Kawasan Asia

Oktober 30, 2026
in Kampus
Kikis Dark Jokes dan Superioritas Etnis Demi Redam Konflik Sosial di Kawasan Asia

MALANG, Berifakta.com – Di tengah laju globalisasi yang sarat ketidakpastian, ancaman konflik sosial di Asia tidak lagi sekadar dipicu oleh trauma sejarah kolonial antarnegara, melainkan juga oleh maraknya fenomena dark jokes diskriminatif di media sosial yang mengikis empati generasi muda. Pesan krusial tersebut ditegaskan oleh Dedik Fitra Suhermanto, M.Hub.Int. dalam perkuliahan Multikulturalisme di Asia yang bertajuk “Multiculturalism as catalyst for Harmonizing in Asia”. Agenda ilmiah ini diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) bekerja sama dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series.

Dalam pemaparannya, Dedik menyoroti bahwa keragaman Asia yang melingkupi ribuan etnis dan warisan kerajaan masa lalu menyimpan celah kerawanan berupa superiority complex dan inferiority complex. Menurutnya, memori kolektif akan kejayaan masa lalu—seperti kerajaan di Jawa, Banjar, hingga kawasan Indo-Cina—sering kali melahirkan ego kesukuan jika tidak dikelola dengan kesadaran keberagaman. “Ketika satu etnis merasa superior, maka dominasi dan diskriminasi akan muncul. Di sinilah multikulturalisme hadir sebagai katalis untuk menyadarkan bahwa perbedaan justru memperkaya wawasan,” ujar Dedik.

Ia mencontohkan bagaimana ketegangan historis antara Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan masih menyisakan stigma serta cultural clash, meskipun ketiga negara tersebut menjadi motor penggerak utama ekonomi Asia.

Selain aspek geopolitik, Dedik juga membedah dinamika kontemporer terkait maraknya lelucon rasial yang dibungkus sebagai jokes di platform digital. Fenomena ini kerap memicu sikap intoleran karena minimnya social cohesion dan pemahaman nilai lokal sejak dini. Dosen HI UMM tersebut menggarisbawahi bahwa kunci penyelesaian persoalan ini bukan sekadar penguasaan skill atau regulasi kaku, melainkan pembentukan attitude serta rasa empati di lingkungan pendidikan. “Bangsa yang maju bukan hanya diukur dari tingginya teknologi, melainkan dari sejauh mana masyarakatnya memiliki attitude dan keterbukaan untuk menghargai identitas budaya lain,” terangnya.

Berbeda dengan kawasan Eropa yang cenderung mengandalkan pendekatan institusional formal yang kaku, masyarakat Asia memiliki karakter kebudayaan yang sangat cair (fluid) dan adaptif. Keunikan ini terefleksikan dari tradisi diplomasi kultural berbasis relasi interpersonal yang hangat, seperti dialog bilateral informal, budaya nongkrong, hingga ruang diskusi santai yang lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal kawasan.

Sebagai penutup, Dedik optimistis bahwa penguatan tiga pilar utama—yakni pendidikan interkultural, regulasi perlindungan hak budaya, serta partisipasi komunitas—akan mampu mengubah riak perbedaan menjadi modal kohesi sosial dan inovasi menuju persatuan Asia yang utuh. (*)

Tags: HI UMM
ShareTweet

Related Posts

Bukan Lagi Antar-Ormas, Polarisasi Politik Islam Mulai Merambah Akar Rumput NU dan Muhammadiyah
Kampus

Bukan Lagi Antar-Ormas, Polarisasi Politik Islam Mulai Merambah Akar Rumput NU dan Muhammadiyah

MALANG, MediaMahasiswa.com - Polarisasi politik Islam di Indonesia tidak hanya menciptakan jarak antarkelompok keagamaan, melainkan telah merambah hingga ke pembelahan...

Oktober 30, 2026
Bukan Sekadar Skorsing, Pemberdayaan Mediasi Sejawat Jadi Kunci Harmoni Multikultural
Kampus

Bukan Sekadar Skorsing, Pemberdayaan Mediasi Sejawat Jadi Kunci Harmoni Multikultural

MALANG, MediaMahasiswa.com - Ancaman tsunami sosial akibat benturan nilai di tengah masyarakat multikultural Indonesia tidak lagi bisa diredam sekadar melalui...

Oktober 30, 2026
Mengisi Kekosongan Negeri Ginseng, Imigran Asia Tenggara Ubah Wajah Pembangunan Desa Korea
Kampus

Mengisi Kekosongan Negeri Ginseng, Imigran Asia Tenggara Ubah Wajah Pembangunan Desa Korea

Penurunan populasi usia produktif di pedesaan Korea Selatan menuntut pergeseran paradigma pembangunan dari sekadar infrastruktur fisik menuju penguatan integrasi sosial...

Oktober 15, 2026
Belajar Pembangunan Desa dari Korea Selatan, Dosen HI UMM Tekankan Peran Komunitas Multikultural
Kampus

Belajar Pembangunan Desa dari Korea Selatan, Dosen HI UMM Tekankan Peran Komunitas Multikultural

MALANG, MediaMahasiwa.com - Penurunan populasi usia produktif di pedesaan Korea Selatan menuntut pergeseran paradigma pembangunan dari sekadar infrastruktur fisik menuju...

Oktober 13, 2026
Next Post
Bukan Lagi Antar-Ormas, Polarisasi Politik Islam Mulai Merambah Akar Rumput NU dan Muhammadiyah

Bukan Lagi Antar-Ormas, Polarisasi Politik Islam Mulai Merambah Akar Rumput NU dan Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link