Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Mahasiswa

Prof. Chung Jon-Koon Tekankan Urgensi Komunitas Baru yang Menerima Perubahan dan Keberagaman

November 22, 2025
in Mahasiswa
Prof. Chung Jon-Koon Tekankan Urgensi Komunitas Baru yang Menerima Perubahan dan Keberagaman

MALANG, MediaMahasiswa.com – Dalam serial Eurasia Lecture bertema “Why a New Community Now? Its Necessity and Meaning”, Prof. Chung Jon-Koon dari Meiji University, yang juga peneliti senior Eurasia Foundation, menegaskan bahwa pembentukan komunitas baru adalah kebutuhan mendesak di tengah menguatnya individualisme dan memudarnya fungsi komunitas tradisional. Kegiatan ini menghadirkan Dianni Risda., M.Ed dari UPI sebagai penerjemah sehingga gagasan utama tersampaikan secara utuh kepada mahasiswa.

Kelas ini merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation.

Prof. Chung membuka paparannya dengan menekankan tiga prinsip yang menjadi roh Eurasia Foundation: siapa pun dari negara mana pun dapat bergabung, tidak memandang agama, serta menerima perubahan dan keberagaman. Ia menyebut komunitas yang sehat bertumpu pada keterkaitan antaranggotanya, berbagi nilai serta visi-misi yang sama. Menurutnya, manusia hidup dalam ekosistem komunitas—keluarga, sekolah, tempat kerja, sampai negara—dan satu individu kini bisa menjadi bagian dari 30–40 komunitas sekaligus. Ironisnya, individualisme justru kian menguat, sementara komunikasi di dalam komunitas melemah, sehingga banyak komunitas kehilangan peran aslinya.

Berangkat dari kondisi ini, Prof. Chung menjelaskan bahwa komunitas baru kerap lahir karena terbatasnya ruang dalam komunitas lama dan dorongan perubahan yang tak terelakkan. Ia mengibaratkan masyarakat seperti tubuh dengan jutaan sel yang terus beregenerasi. Agar “tubuh” tetap sehat, sel-sel harus beradaptasi; komunitas yang menolak perubahan akan rapuh dan perlahan hancur. Perubahan dan keberagaman, lanjutnya, justru menciptakan pola hidup baru dan membuat komunitas lebih dinamis.

Prof. Chung juga menyinggung rasa putus asa yang membayangi masyarakat modern. Fokus publik kerap tertuju pada kematian akibat perang, kriminalitas, atau kecelakaan, padahal bunuh diri adalah masalah senyap yang menandai bahwa ekosistem komunitas gagal memberi makna dan penopang hidup bagi anggotanya. Menurutnya, komunitas yang hadir, peka, dan komunikatif dapat menjadi ruang pemulih yang mencegah keputusasaan meluas.

Mengambil contoh global, Prof. Chung menyebut Amerika Serikat tumbuh besar karena merayakan keberagaman; kontribusi signifikan para migran pada ratusan perusahaan besar menjadi cermin bahwa perubahan dan keberagaman adalah prasyarat ketangguhan komunitas. Pada saat yang sama, Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi negara besar asalkan mau melihat dunia dari berbagai perspektif, tidak terpaku pada satu lensa negara tertentu. Mengumpulkan data itu penting, namun kebenaran baru tampak ketika data ditelaah dari beragam sudut pandang; melihat dari satu perspektif saja rawan memicu konflik dan kesalahpahaman.

Menutup sesi, Prof. Chung menegaskan bahwa memahami “mengapa” komunitas baru dibutuhkan sekarang akan menuntun pada “bagaimana” mendefinisikan maknanya serta merawat keberlanjutannya. Komunitas yang sadar tujuan, menjaga komunikasi, dan merangkul perubahan serta keberagaman, menurutnya, adalah fondasi masyarakat yang lebih resilien untuk menghadapi krisis masa kini maupun tantangan yang akan datang. (*)

Tags: HI UMMUniversitas Muhammadiyah Malang
ShareTweet

Related Posts

Tak Seindah di Drakor, Pakar Universitas Auckland Ungkap Sulitnya Mahasiswa Asing Cari Kerja di Korea Selatan
Mahasiswa

Tak Seindah di Drakor, Pakar Universitas Auckland Ungkap Sulitnya Mahasiswa Asing Cari Kerja di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Krisis penurunan jumlah penduduk yang melanda Korea Selatan memaksa negara tersebut untuk mengubah pandangannya terhadap warga asing....

Juli 3, 2026
Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim
Kampus

Belajar Mitigasi Bencana dari Jepang, Prof. Nishi Yoshimi Tekankan Peran Budaya dan Komunitas

MALANG, MediaMahasiswa.com — Berbekal pengalaman panjang meneliti proses pemulihan pascabencana di berbagai negara, khususnya Jepang dan Indonesia, Guru Besar Kyoto...

Januari 8, 2026
Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim
Mahasiswa

Hutan Wakaf sebagai Ruang Harmoni Multikultural dan Ketahanan Iklim

MALANG, Berifakta.com — Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara dengan kekayaan ekologis paling beragam di dunia. Keragaman lanskap, hayati,...

Januari 8, 2026
Humanitarian Conservation-Based Learning Perkuat Pendidikan Multikultural
Mahasiswa

Humanitarian Conservation-Based Learning Perkuat Pendidikan Multikultural

MALANG, MediaMahasiswa.com — Isu keberagaman dan potensi gesekan sosial di Indonesia menuntut model pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, melainkan...

Januari 8, 2026
Next Post
Serial Kuliah Eurasia HI UMM 2025: Akademisi India Soroti Pengelolaan Keberagaman sebagai Modal Bersama

Serial Kuliah Eurasia HI UMM 2025: Akademisi India Soroti Pengelolaan Keberagaman sebagai Modal Bersama

Dua Dosen HI UMM Ukir Prestasi Internasional: Raih Gelar Doktor dan Penghargaan Disertasi Terbaik

Dua Dosen HI UMM Ukir Prestasi Internasional: Raih Gelar Doktor dan Penghargaan Disertasi Terbaik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link