MALANG, MediaMahasiswa.com – Fenomena krisis demografi ekstrem ditandai dengan terbengkalainya sekolah-sekolah di kawasan pedesaan hingga merosotnya angka kelahiran Korea Selatan ke rekor terendah dunia sebesar 0,7 anak per wanita—kini memaksa negara-negara Asia Timur merombak tatanan sosialnya. Realitas krusial tersebut dipaparkan oleh Profesor Changzoo Song dari University of Auckland, Selandia Baru, dalam kuliah bertema “Multiculturalism: Challenges and Opportunities in Korea and Japan”. Agenda ilmiah ini diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) bekerja sama dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series.
Profesor Song menjelaskan bahwa Jepang dan Korea Selatan selama berabad-abad dibentuk oleh mitos homogenitas etnis yang sangat kuat. Namun, tekanan penuaan populasi dan kelangkaan tenaga kerja parah sejak era 1980-an memicu pergeseran keniscayaan menuju masyarakat multikultural.
“Di pedesaan Jepang dan Korea, kita melihat bangunan sekolah dasar yang terpaksa ditutup dan kosong selama puluhan tahun karena kehilangan generasi muda,” ujar Prof. Song. Ia menambahkan bahwa kebijakan awal kedua negara yang berupaya mempertahankan keseragaman etnis melalui migrasi balik etnis sejenis—seperti keturunan Nikkeijin dari Brasil dan etnis Joseonjok dari Tiongkok—justru memicu benturan budaya hebat serta alienasi sosial di sektor pekerjaan berat (3K: Kitsui, Kiken, Kitanai).
Kegagalan asimilasi tersebut mendorong gelombang baru berupa lonjakan pernikahan internasional untuk mengatasi krisis pasangan hidup (yome busoku) di kawasan agraris. Kini, pengantin migran asal Vietnam (Vietnamese brides) menjadi kelompok terbesar di Korea Selatan, sementara sektor perikanan dan perawatan (caregiver) mulai bergantung signifikan pada tenaga kerja dari Indonesia dan Filipina.
Menurutnya, jika dikelola dengan adaptif, keberagaman budaya bukan lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan aset strategis dan “power” baru untuk menopang pertumbuhan ekonomi global.
Mengakhiri pemaparannya, Prof. Song mengapresiasi fondasi multikulturalisme Indonesia yang telah teruji melalui prinsip Bhinneka Tunggal Ika. “Berbeda dengan Asia Timur yang gagap menerima perbedaan, Indonesia memiliki modal sosial dan harmoni keberagaman yang sangat kokoh untuk memimpin pertumbuhan di era globalisasi,” pungkasnya. (*)




