MALANG, MediaMahasiswa.com – Narasi tunggal pemerintah Tiongkok yang kerap mengklaim seluruh keturunan Tionghoa di Asia Tenggara sebagai bagian dari bangsanya dipatahkan oleh fakta sejarah kompleksitas migrasi dan kedaulatan negara modern. Penegasan tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Migration, Identity, and Multiculturalism: The Chinese Diaspora Experience in Southeast Asia” yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) berkolaborasi dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series, menghadirkan pakar sejarah Chulalongkorn University Thailand, Assoc. Prof. Wasana Wongsurawat, Ph.D.
Dalam pemaparannya, Prof. Wasana menegaskan bahwa Chinese-ness (kebudayaan, etnisitas, dan identitas Tionghoa) bukanlah milik monopoli Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dinamika sejarah migrasi sejak era Laksamana Zheng He—seorang Muslim asal Yunnan—hingga era coolie trade membuktikan bahwa komunitas Tionghoa Asia Tenggara selalu bersifat beragam dan tidak pernah tunduk pada satu narasi politik One China policy.
“Tiongkok dan kebudayaan Tionghoa adalah dua hal yang berbeda. Pemerintah Beijing tidak memiliki hak milik atas identitas Tionghoa di luar wilayahnya. Keturunan Tionghoa di Asia Tenggara sepenuhnya milik negara tempat mereka memegang paspor dan berkewarganegaraan,” ujar Wasana di hadapan peserta kuliah umum.
Akademisi lulusan University of Oxford tersebut memperingatkan bahaya strategi diplomasi ekonomi Beijing melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan pengaruh investasi yang mencoba merangkul pebisnis diaspora. Upaya pembentukan persepsi overseas Chinese compatriots oleh Tiongkok berisiko memicu stereotip negatif dan meragukan komitmen kebangsaan warga Tionghoa di negara-negara penerima, seperti Indonesia dan Thailand.
Ia membedakan secara tegas antara diaspora Tionghoa yang telah berintegrasi bergenerasi-generasi dengan kelompok New Chinese Migrants (Xinyimin) yang datang di abad ke-21 dan tetap memegang paspor Tiongkok. Di tengah kompetisi geopolitik global antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Wasana mendorong warga diaspora Tionghoa untuk secara terbuka membuktikan loyalitas nasional serta memperkuat soliditas kawasan.
“Langkah terpenting bagi diaspora Tionghoa saat ini adalah berdiri teguh membela kepentingan nasional negaranya masing-masing dan memperkuat solidaritas ASEAN guna menjaga kedaulatan dari tekanan hegemoni luar,” pungkas Wasana. (*)




