Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Kampus

Saudara Bomber Bom Bali Kupas Akar Radikalisasi dan Jalan Deradikalisasi di HI UMM: “Bukan Soal Penampilan, Melainkan Cara Pandang”

Oktober 27, 2025
in Kampus
Saudara Bomber Bom Bali Kupas Akar Radikalisasi dan Jalan Deradikalisasi di HI UMM: “Bukan Soal Penampilan, Melainkan Cara Pandang”

MALANG, MediaMahasiswa.com – Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Dr. Ali Fauzi Manzi, Direktur Lingkar Perdamaian Indonesia yang juga merupakan saudara kandung dari bomber Bom Bali, Ali Imron, untuk membedah dinamika radikalisasi-terorisme di Indonesia serta strategi pencegahannya. Berangkat dari pengalaman lapangan, ia menegaskan bahwa terorisme tidak lahir dari keputusan sesaat, melainkan melalui proses panjang yang membentuk komitmen pada kekerasan atas nama agama.

Kelas ini merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation.

Di kelas yang bertajuk “Multiculturalism to Counter Terrorism: Lessons from Indonesia” ini, Ali Fauzi mengawali dengan mengingatkan bahwa ajaran Islam menempatkan rahmatan lil-alamin sebagai fondasi: memuliakan perdamaian, keramahan, dan kebebasan memilih. Namun, realitas sosial memperlihatkan munculnya tafsir keagamaan yang fundamental dan radikal hingga berujung pada praktik teror—termasuk aksi bom bunuh diri—yang sebagian pelakunya menganggap sebagai “kebaikan” yang menjamin surga. Riset lapangan menunjukkan pelaku bukan orang dengan gangguan jiwa, melainkan mereka yang terpapar paham takfiri—cara pandang hitam-putih yang memecah dunia pada “haq” versus “batil.” 

Ia memaparkan faktor pendorong (push) dan penarik (pull) yang mengantar seseorang bergabung dengan jaringan ekstrem, dari pertemanan dan kekerabatan, yang menurut temuan Marc Sageman mencapai sekitar 90 persen, hingga paparan bahan bacaan dan aktivitas luring (ta’lim, halaqah, pelatihan) serta arus konten daring di media sosial. 

Di Indonesia, faktor dominan meliputi pemahaman keagamaan yang menyimpang, kekecewaan pada negara, pengaruh gerakan global, hingga kebencian pada penguasa. “Secara fisik sulit dibedakan. Identifikasi yang benar adalah lewat cara berpikirnya,” tegasnya, seraya menyoroti ciri-ciri ideologis seperti baiat pada imam, intoleransi, fanatisme revolusioner, kewajiban mendirikan negara Islam, jihad sebagai fardhu ‘ain, dan pelabelan Indonesia sebagai darul harbi oleh kelompok ekstrem. 

Menurutnya, ekosistem radikal bertahan karena memberikan dua jenis dukungan kepada anggota: dukungan moral (ideologi, jejaring persaudaraan) dan dukungan material (pendidikan, pekerjaan, bantuan kesehatan). Karena itu, deradikalisasi tak cukup dengan pendekatan tunggal dan tidak bisa instan; dibutuhkan komunitas tandingan yang menawarkan dukungan serupa, namun berlandaskan cinta negara, kedekatan dengan aparat keamanan, toleransi, dan Islam yang ramah. “Akar terorisme itu ‘penyakit komplikasi’—butuh banyak spesialis dan obat tepat. Kuncinya menumbuhkan pemahaman moderat dan menghargai kemajemukan,” ujarnya, menambahkan bahwa penerimaan terhadap perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi merupakan indikator penting kesembuhan bagi mantan pelaku. 

Penekanan pada toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial dalam pencegahan radikalisasi juga selaras dengan penguatan wawasan kewarganegaraan dan multikulturalisme. Keduanya menegaskan pentingnya menghadirkan kewarganegaraan sebagai pengalaman hidup—akses layanan dasar, pekerjaan layak, serta ruang partisipasi yang aman—di tengah mobilitas global dan masyarakat yang kian majemuk. 

Dengan kerangka itu, sesi bersama Dr. Ali Fauzi tidak hanya mengajak peserta memahami bagaimana radikalisasi bekerja, namun juga bagaimana kampus dan masyarakat dapat membangun daya tangkal: memperkuat literasi keagamaan yang moderat, menciptakan jejaring dukungan sosial-ekonomi yang inklusif, serta menumbuhkan budaya yang merangkul perbedaan. (*)

ShareTweet

Related Posts

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan
Kampus

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Citra indah Korea Selatan yang kerap ditampilkan melalui drama dan musik K-Pop ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan realitas...

Juli 10, 2026
Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan
Kampus

Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan

Budaya populer Korea Selatan (K-Culture) tidak hanya berhasil menaklukkan dunia hiburan global, tetapi juga memainkan peran penting dalam meredefinisi wajah...

Juni 28, 2026
Dari Pekerja Migran hingga Penikmat K-Pop: Guru Besar HI UMM Bedah Realitas Kehidupan Muslim di Korea Selatan
Kampus

Dari Pekerja Migran hingga Penikmat K-Pop: Guru Besar HI UMM Bedah Realitas Kehidupan Muslim di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Korea Selatan kini tengah mengalami transisi besar dari negara beretnis tunggal (dan-il minjok) menjadi masyarakat yang semakin...

Juni 20, 2026
Kampus

Dobrak Stigma ‘Hermit Kingdom’, HI UMM Hadirkan Akademisi Selandia Baru untuk Bedah Dinamika Korea Utara

MALANG, MediaMahasiswa.com - Di balik citra tertutup yang sering ditampilkan media, Korea Utara menyimpan dinamika sosial-ekonomi yang kompleks dan kerap...

Juni 9, 2026
Next Post
Bahas Multikulturalisme di Asia, Dosen HI UMM Sebut Inklusi, Integrasi Sosial, dan Dialog Antarbudaya Jadi Kunci

Bahas Multikulturalisme di Asia, Dosen HI UMM Sebut Inklusi, Integrasi Sosial, dan Dialog Antarbudaya Jadi Kunci

Prof. Changzoo Song Kupas Multikulturalisme Korea–Jepang di HI UMM: Antara Tradisi Homogen dan Tuntutan Demografi

Prof. Changzoo Song Kupas Multikulturalisme Korea–Jepang di HI UMM: Antara Tradisi Homogen dan Tuntutan Demografi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link